Di Altar Kesunyian 

Membaca Tuhan dalam Kata dan Semesta

UINSGD.AC.ID (Humas) — Halaqah pagi menyajikan pengalaman nalar spiritual Sang Guru Agung tentang narasi filosofis yang merangkai kesunyian, tadabbur, dan tafakkur sebagai jalan menuju pemahaman ilahiah.

Di tengah riuh rendah dunia yang tak pernah tidur, di antara derau ambisi dan jeritan eksistensi, kita sering kali kehilangan satu hal paling purba, yakni keheningan, kesunyian, atau “menyepi”

Kita hidup di era di mana “sepi atau sunyi” dianggap sebagai musuh. Padahal, dalam metafisika ketuhanan, sepi atau sunyi bukanlah kekosongan. Sepi adalah sebuah ruang tunggu bagi kehadiran Yang Maha Ada. Filsafat sepi mengajarkan kita bahwa Tuhan sering kali tidak berteriak dalam badai, melainkan berbisik dalam kesenyapan nurani.

Untuk mendengar bisikan itu, kita membutuhkan tiga poros: Kesunyian, Tadabbur, dan Tafakkur.

Melambat untuk Menemukan Tuhan: Sebuah Filosofi Slow Living Spiritual

Di era percepatan ini, kita seolah hidup di atas treadmill yang tak pernah berhenti. Dinamika Hustle culture memaksa kita percaya bahwa “lebih cepat itu lebih baik” dan “sibuk itu produktif”. Kita menelan makanan tanpa mengunyah rasa, membaca pesan tanpa menangkap makna, dan beribadah sekadar menggugurkan kewajiban di sela-sela rapat.

Di sinilah “Slow Living” hadir bukan sekadar sebagai tren gaya hidup, melainkan sebagai sebuah protes spiritual. Slow living merupakan seni melepaskan diri dari tirani ketergesa-gesaan. Ia bukan berarti bermalas-malasan, melainkan melakukan segala sesuatu dengan kecepatan yang tepat. Ia mengajarkan kita untuk kembali menghargai “saat ini” (the present moment).

Dalam konteks spiritualitas, slow living adalah fondasi untuk membangun Filsafat Sepi. Tanpa keberanian untuk melambat, kita tak akan pernah menemukan kesunyian yang dibutuhkan jiwa. Ketika kita berani melambat, kita membuka pintu gerbang menuju dua aktivitas jiwa yang paling purba: Tadabbur dan Tafakkur.

1. Slow Living Menuju Ruang Sepi

Tuhan jarang ditemui dalam kegaduhan. Dia bersemayam dalam hening. Namun, bagaimana mungkin kita bisa hening jika hidup kita adalah balapan lari tanpa garis finis?

Menerapkan slow living berarti secara sadar menciptakan jeda. Kita mematikan notifikasi, menunda respon instan, dan membiarkan diri kita “bosan”. Di ruang jeda itulah, “Sepi” yang sakral tercipta. Sepi ini bukan kesepian, melainkan kemewahan spiritual di mana kita akhirnya bisa mendengar suara hati sendiri yang selama ini tertimbun oleh kebisingan dunia.

2. Sepi sebagai Epistemologi (Cara Mengetahui)

Sebelum kita membuka Kitab Suci atau memandang langit, kita harus mematikan kebisingan ego di kepala. Sepi adalah proses “pengosongan” (takhalli). Seperti cawan, hati tidak bisa diisi oleh Cahaya Tuhan jika ia masih penuh dengan air keruh kesombongan dan keriuhan duniawi.

Dalam sepi, kita menyadari bahwa kita adalah fakir. Kita menanggalkan jubah sosial, gelar, dan pretensi. Di titik nol inilah, “telinga batin” mulai terbuka. Sepi adalah maqam (stasiun) pertama untuk menyambut tamu agung bernama “Makna”.

—-

Tadabbur: Menyelami Samudera Kata (Ayat Qauliyah)

Ketika hening telah tercipta, kita membuka Kitab Suci. Namun, bukan sekadar membacanya sebagai deretan huruf (reading), melainkan melakukan Tadabbur.

Secara harfiah, dubar berarti “bagian belakang”. Tadabbur adalah upaya melihat apa yang ada di belakang ayat. Ia adalah dialog intim antara hamba dan Tuannya.

Saat kita membaca ayat tentang rahmat, tadabbur membuat air mata menetes karena merasa dipeluk oleh kasih sayang-Nya. Saat membaca ayat tentang azab, tubuh gemetar karena menyadari kerapuhan diri.

Dalam tadabbur, teks bukan lagi benda mati. Ia menjadi cermin. Kita tidak sedang menganalisis Tuhan; Tuhanlah yang sedang menganalisis kita melalui ayat-ayat-Nya. Kita berhenti bertanya, “Apa hukum fikih dari ayat ini?” dan mulai bertanya, “Apa yang Tuhan inginkan dari jiwaku melalui pesan ini?”

—-

Tafakkur: Membaca Manuskrip Alam (Ayat Kauniyah)

Setelah jiwa kenyang oleh hidangan langit (wahyu), kita melangkah keluar memandang semesta. Inilah Tafakkur. Jika Kitab Suci adalah wahyu yang tertulis, maka Alam Semesta adalah wahyu yang terbentang.

Tafakkur mengubah pandangan mata menjadi pandangan hati (bashirah).

Sehelai daun yang jatuh bukan sekadar proses biologi, melainkan demonstrasi kepasrahan total makhluk pada gravitasi takdir Tuhan.

Perputaran galaksi bukan sekadar fisika, melainkan tarian tawaf kosmik yang bertasbih memuji Penciptanya.

Detak jantung sendiri bukan sekadar pompa darah, melainkan ritme yang menjaga nyawa, yang tombol “on/off”-nya tidak berada di tangan kita.

Melalui tafakkur, akal berkelana dari akibat menuju Sebab Yang Utama (Causa Prima). Ia menyadari bahwa alam raya ini adalah “Museum Nama-Nama Tuhan”. Keindahan bunga adalah jejak Al-Jamal (Yang Maha Indah), kedahsyatan gunung adalah jejak Al-Jalal (Yang Maha Agung).

—-

Simpul Makna:

Pertemuan Tiga Cahaya

Puncak dari perjalanan ini adalah ketika cahaya kesunyian, cahaya Tadabbur, dan cahaya Tafakkur bertemu di ruang Sepi.

Di sana, kita menemukan sebuah kebenaran yang menggetarkan: Penulis Kitab Suci dan Arsitek Alam Semesta adalah Satu.

Hukum yang mengatur peredaran darah sama rapinya dengan hukum yang mengatur moralitas dalam ayat-Nya. Keduanya menuntut keseimbangan (mizan).

Kita akhirnya menemukan bahwa kalam Tuhan tidak hanya terpatri di atas kertas, tetapi juga terukir di setiap atom udara yang kita hirup.

Maka, hidup menjadi sebuah ibadah panjang. Diam kita adalah fikr (berpikir), bicara kita adalah dzikr (mengingat), dan pandangan kita adalah ibrah (pelajaran). Di sanalah, dalam hening yang purba, kita tidak lagi sekadar “tahu” tentang Tuhan, tetapi kita “merasakan” kehadiran-Nya.

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *