UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam ibadah umrah, ihram adalah rukun pertama yang membuka seluruh rangkaian perjalanan bertamu ke Baitullah. Busana sederhana tanpa jahitan, dua helai kain putih tanpa simbol sosial, pangkat, atau status. Semua jamaah mengenakannya di tempat yang sama, pada waktu yang sama, dan dalam tujuan yang sama. Pada kutub ini, ihram bukan sekedar perangkat ibadah, melainkan berisi pesan filosofis tentang kemestian menanggalkan topeng-topeng kehidupan.
Ketika seseorang memasuki miqat dan mengenakan ihram, ia memasuki dimensi baru tentang siapa dirinya. Para ulama menjelaskan bahwa hakikat ihram adalah takhallī, yakni mengosongkan diri dari syahwat, ego, dan kesombongan. Ibn Rajab al-Hanbali menegaskan bahwa ihram adalah “pakaian hati sebelum pakaian badan”, yakni awal perjalanan jiwa menuju kehadiran Ilahi. Bahkan al-Ghazālī melihat ihram sebagai simbol kematian kecil, dimana manusia menanggalkan identitas duniawi dan bersiap menghadap Tuhan.
Dalam konteks budaya kontemporer, ihram adalah anti-tesis dari struktur kehidupan modern yang penuh kepura-puraan. Theodor Adorno dan Max Horkheimer, menggambarkan budaya massa sebagai “industri kesadaran yang memproduksi kepalsuan sebagai kebenaran baru.” Dalam dunia media sosial kini, ketika pengakuan lebih penting daripada kenyataan, ihram adalah kritik diam atas theater kolosal yang dipertontonkan masa.
Michel Foucault menggambarkan kehidupan modern sebagai arena penuh pengawasan sosial. Kita menjadi aktor yang sadar bahwa mata publik selalu mengintai. Dalam telaah Foucault, manusia menciptakan mekanisme disipliner terhadap dirinya sendiri: berpakaian, berbicara, bersikap, bahkan beragama sesuai tuntutan panggung sosial. Lalu siapa diri kita jika semua itu dilepas? Ihram mengembalikan manusia sebagai mahluk kepada tubuh dan jiwa yang telanjang dari konstruksi sosial.
Zygmunt Bauman menggambarkan modernitas sebagai zaman cair, di mana identitas berubah dengan cepat, nilai moral menguap, dan hubungan sosial menjadi rapuh. Pada tahap ini, topeng menjadi kebutuhan psikologis: kita harus tampil berhasil, bahagia, dan kuat meski batin roboh. Di kaki Ka’bah, dengan ihram yang dikenakan mengajak seluruh jamaah keluar dari peradaban cair menuju titik padat, yakni kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya kembali dalam satu kepastian untuk menjadi hamba.
Dalam kajiannya tentang post-truth, Lee McIntyre menjelaskan bahwa era kini, begitu hegemonik didominasi oleh persepsi, bukan fakta. Apa yang tampak, menjadi ukuran nilai. Di tengah pusaran realitas buatan ini, ihram adalah deklarasi bahwa manusia harus kembali pada kepastian moral, bukan sekadar impresi visual. Kesucian ihram bukan hanya soal kain, tetapi tentang melucuti kepalsuan agar kebenaran batin dapat muncul.
Dalam kepungan budaya popular, kita kerapkali dihadapkan pada normalisasi kepalsuan. Tidak sedikit publik figur menjual citra ketimbang karakter, ihram adalah pengingat bahwa nilai sejati tidak berasal dari citra, gelar, atau kuasa, tetapi dari ketulusan.
Ketika ihram, setiap jamaah tengah mendeklarasikan; kesetaraan, kejujuran, dan keterbukaan. Di hadapan Allah, manusia berdiri tanpa nama panggung. Semua topeng jatuh: ia bukan lagi pemimpin, pengusaha, akademisi, influencer, atau selebritas. Ia hanya hamba yang memohon ampun dan berharap kasih sayang-Nya.
Dunia telah lama menjadi theater topeng, tetapi Masjidil Haram adalah cermin kebenaran. Dengan ihram, jamaah diajak kembali kepada keaslian, bahwa jati diri sebenarnya adalah ketakwaan. Inilah diantara makna ihram: bukan hanya memulai perjalanan ke tanah suci, tetapi memulai perjalanan pulang ke dalam diri sendiri. Semoga.
Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung