UINSGD.AC.ID (Humas) — Ujian Akhir Semester menjadi pertemuan terakhir kami. Terlepas dari hasil akhir yang akan didapatkan oleh mahasiswa, saya senang menjadi “teman” diskusi mereka selama satu semester. Tentu saja, tak sepenuhnya saya bisa hadir membersamai mereka. Karena satu dan lain hal, ada beberapa pertemuan yang saya lewatkan. Untuk ini saya mohon maaf.
Di semester ini, saya mengampu mata kuliah filsafat modern. Bagi saya sendiri, filsafat sebagai sebuah ilmu hadir dalam kehidupan bukan sebagai kemewahan intelektual. Filsafat adalah kebutuhan batin manusia yang ingin memahami dirinya sendiri dan dunia tempat ia berpijak.
Filsafat, sejauh saya memahaminya, lahir dari kegelisahan yang paling jujur: mengapa kita hidup, ke mana arah langkah kita, dan apa makna dari penderitaan maupun kebahagiaan yang singgah silih berganti. Dalam hiruk-pikuk kehidupan yang serba cepat, filsafat mengajak untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam, dan bertanya dengan sungguh-sungguh, bukan untuk segera mendapatkan jawaban, tetapi untuk memurnikan kesadaran.
“The unexamined life is not worth living,” begitu kata Socrates. Hidup yang tak pernah diperiksa adalah hidup yang dijalani secara otomatis, tanpa kesadaran dan tanggung jawab eksistensial. Filsafat mengajarkan keberanian untuk memeriksa keyakinan, kebiasaan, dan nilai-nilai yang selama ini diterima begitu saja. Mungkin saja, ia tidak selalu membuat hidup menjadi mudah, tetapi menjadikannya jujur. Sangat boleh jadi, dalam kejujuran itulah manusia bertumbuh, sekalipun harus berhadapan dengan kegamangan dan keraguan.
Lebih jauh, filsafat melatih untuk hidup dengan kesadaran akan keterbatasan. Friedrich Nietzsche, meski sering disebut sebagai sosok “pembunuh” Tuhan, mengingatkan pentingnya keberanian menjadi diri sendiri: “He who has a why to live can bear almost any how.” Filsafat membantu siapapun yang menekuninya menemukan “mengapa” itu, sebuah alasan batin yang membuat kita tetap berdiri di tengah absurditas dan luka kehidupan. Mungkin saja, tanpa filsafat, manusia mudah hanyut dalam arus, hidup sekadar bereaksi, bukan memilih.
Pada akhirnya, filsafat bukan sekadar kumpulan teori atau nama-nama besar yang harus dihafal. Ia adalah latihan kesadaran, sebuah laku batin untuk hidup lebih jernih dan bermakna. Bagi saya sendiri, filsafat mengajarkan bahwa kebijaksanaan bukanlah tentang mengetahui segalanya, melainkan tentang memahami batas diri dan tetap setia pada pencarian kebenaran. Seperti dikatakan Martin Heidegger, “Questioning is the piety of thought.” Bertanya dengan sungguh-sungguh adalah bentuk “kesalehan akal”, dan barangkali dari sanalah filsafat terus menemukan relevansinya dalam denyut kehidupan manusia. Allahu a’lam.
Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung