UINSGD.AC.ID (Humas) — Konon dikatakan, dalam sufisme, kedisiplinan bukanlah sekadar kepatuhan mekanis pada aturan, melainkan adab batin, semacam kesanggupan jiwa untuk setia pada jalan yang dipilih dengan kesadaran penuh. Disiplin, katanya, adalah latihan kesetiaan kepada waktu, kepada janji, dan pada kebenaran yang sedang dituju dan diperjuangkan. Tanpa disiplin, niat spiritual mudah berubah menjadi hasrat sesaat. Bahkan amal bisa kehilangan arah, ia hanya menjadi gerak tanpa makna.

Menurut Rumi, pertumbuhan rohani menuntut kesabaran yang teratur. Dalam salah satu pernyataannya, Rumi berkata bahwa “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu”. Dalam terang Rumi, cahaya tidak datang kepada jiwa yang tergesa-gesa. Ia hadir pada mereka yang tekun menempuh hari demi hari, menahan diri dari kemalasan batin, dan bersedia mengulang latihan yang sama meski tak segera melihat hasilnya. Barangkali, di sini, disiplin adalah keberanian untuk tinggal. Tetap berjalan meski jiwa lelah dan ego memberontak.

Bagi Rumi, disiplin juga berarti menata keinginan. Nafsu ingin serba cepat, sebaliknya cinta sejati justru memilih ketekunan. Seorang murid, kata para sufi, tidak diuji oleh hal-hal besar, melainkan oleh kesediaannya menjaga perkara-perkara kecil: bangun tepat waktu, menjaga lisan, mengulang dzikir, dan setia pada pekerjaan harian. Sangat boleh jadi, dari kesetiaan pada yang sederhana itulah terbentuk ruang batin yang lapang, tempat hikmah dapat berdiam.

Disiplin adalah bentuk cinta yang sadar. Cinta tanpa disiplin mudah berubah menjadi kegairahan kosong, disiplin tanpa cinta akan menjelma menjadi kekeringan. Keduanya mesti bertaut. Seperti seruling yang hanya dapat bernyanyi karena lubang-lubangnya dibentuk dengan presisi, manusia pun hanya dapat memancarkan makna ketika hidupnya diberi batas, ritme, dan ketertiban.

Kedisiplinan bukan penjara bagi kebebasan, melainkan jalan menuju kemerdekaan sejati: bebas dari kekacauan diri, dari dorongan yang tak terkendali, dan dari penyesalan yang lahir karena menunda-nunda. Disiplin adalah cara jiwa berkata kepada Tuhan: aku siap menempuh jalan ini, setahap demi setahap, dengan sabar dan setia. Allahu a’lam.

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *