UINSGD.AC.ID (Humas) — Indonesia dan Arab Saudi menjadi dua negara yang sama-sama sedang berkabung karena dilanda bencana alam banjir dan longsor yang banyak menelan korban baik materi maupun jiwa. Kemiripan nasib kedua negara ini diikat oleh hubungan Islam dan muslim. Arab Saudi sebagai negara pemilik sejarah Islam, Rasulullah dan Al-Qur an, serta Mekkah Madinah merupakan fakta sumber awal penyebaran Islam. Sementara Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar sebagai pewaris Islam di wilayah yang jauh dari pusat ajaran Islam namun bangsa ini mudah menerima Islam dengan damai.
Bangsa Indonesia memandang Islam sebagai agama yang indah selaras dengan budaya ketimuran yang diwariskan turun temurun. Nurcholish Madjid melalui gagasan masyarakat madani, memadukan keislaman dan keindonesiaan. Sementara, KH. Abdurrahman Wahid menawarkan gagasan pribumisasi Islam dengan agenda menampilkan Islam dalam tradisi dan wajah Indonesia hidup dalam keanekaragaman budaya dan bahasa. Para cendekiawan lainpun menawarkan berbagai pandangan tentang hubungan agama dan negara agar dapat diterima oleh umat Islam di Indonesia.
Namun yang lebih menarik dari semua gagasan tersebut yaitu keselarasan budaya bangsa Indonesia yang sejalan dengan akhlak Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Akhlak itu sendiri merupakan tuntunan sikap mengatur pola hubungan yang mengandung nilai kebaikan dan keindahan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan alam. Sabda Rasulullah Saw: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (H.R. Baihaqi dan Ahmad). Dalam membangun pola hubungan dengan sesama manusia, Rasulullah Saw bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang alim dari kami”. (HR. Ahmad).
Harmoni hubungan manusia dalam Islam ini satu napas dengan adat dan budaya ketimuran bangsa Indonesia mengajarkan tatakrama dan sopan santun, hormat kepada yang lebih tua dan sayang kepada yang lebih muda. Tradisi musafahah atau bersalaman diikuti ucapan salam merupakan penyebutan salah satu asmaulhasna teriring do’a, membina pola hubungan harmoni antar sesama manusia beradab.
Sementara adab sendiri merupakan hasil pendidikan berupa kesopanan dan budi pekerti melibatkan pikiran dan rasa. Mencium tangan orang tua dalam tradisi ketimuran sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam sebagai tanda bakti dan hormat kepada orang tua.
Harmoni hubungan antara manusia dengan Allah diatur dalam Islam mulai dari bersuci (thaharah) sampai dengan berkorban dan berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah) untuk membela kebenaran. Harmoni hubungan manusia dengan alam diperankan sebagai pemimpin dimuka bumi (khalifah fil ard). Tugas utama manusia yaitu memakmurkan bumi dengan cara merawat serta memelihara ekosistem agar terwujud kebaikan dan keindahan bumi untuk bumi itu sendiri dan manusia.
Harmoni ketiga sisi hubungan ini merupakan kesempurnaan dari kemuliaan akhlak yang perlu dipelihara untuk memberikan feedback kebaikan bagi manusia dan menjadi inti dari menghindari bencana.
Umat Islam yang pernah terbang dari Indonesia ke Arab Saudi dan telah berhaji atau umrah, memiliki tantangan untuk membuktikan kemabruran dengan salahsatu cirinya yaitu afsussalam, artinya menebarkan salam dengan membangun harmoni melalui kemuliaan akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.