Perahu, Samudera, dan Perjalanan Ruhani

Perahu tengah berlayar di tengah Samudera/ foto: shutterstock

Perjalanan Hikmah

UINSGD.AC.ID (Humas) — Hari ini, Sang Guru Agung menuturkan sebuah kisah metaforis yang syarat makna. Alkisah, ia memulai tuturan lembutnya, di tengah samudera yang luas dan dalam, ada sebuah perahu kecil yang terapung-apung dan terombang-ambing di atas deburan ombak. Perahu itu bernama “Kesadaran”, dan sedang melakukan perjalanan panjang menuju pantai yang luas, jauh, dan jauh ke tepi.

Perahu itu dikemudikan oleh seorang nahkoda yang bijak dan berpengalaman. Nahkoda itu bernama “Jiwa”, dan telah melakukan perjalanan ini berkali-kali sebelumnya. Namun, seringkali ketenangannya diganggui oleh kekhawatiran dan keputusasaan, selain oleh cuaca dan “terjalnya” perjalanan.

Samudera yang luas dan dalam itu melambangkan kehidupan yang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Ombak yang bergulung-gulung melambangkan emosi dan pikiran yang terus berubah-ubah.

Perahu “Kesadaran” itu harus melewati badai yang dahsyat dan ombak yang tinggi. Namun, nahkoda “Jiwa” tetap tenang dan sabar, karena dia tahu bahwa badai itu akan berlalu dan matahari akan bersinar kembali.

Dalam perjalanan, perahu itu bertemu dengan berbagai jenis ikan yang berbeda-beda. Ada ikan yang besar dan kuat, ada ikan yang kecil dan lemah. Ada ikan yang berenang dengan cepat, ada ikan yang berenang dengan lambat.

Ikan-ikan itu melambangkan orang-orang yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang kuat dan berpengaruh, ada orang yang lemah dan membutuhkan bantuan. Ada orang yang cepat dan gesit, ada orang yang lambat dan sabar.

Nahkoda “Jiwa” mengajarkan awak perahu untuk menerima semua jenis ikan yang mereka temui. Dia mengajarkan mereka untuk tidak terlalu bangga ketika bertemu dengan ikan yang besar dan kuat, dan tidak terlalu sedih ketika bertemu dengan ikan yang kecil dan lemah.

“Engkau merdeka dari apa yang tak kau inginkan. Engkau budak dari apa yang kau serakahi,” kata nahkoda “Jiwa” mengutip kata-kata Ibnu Athaillah. “Shalat adalah pembersih hati dari kotoran dosa dan pembuka pintu keghaiban,” tambahnya.

Setelah melewati berbagai tantangan dan kesulitan, perahu “Kesadaran” akhirnya tiba di pantai yang jauh. Pantai itu indah dan damai, dengan pasir putih dan air yang jernih.

Pantai itu melambangkan kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki. Nahkoda “Jiwa” dan awak perahu merasa lega dan bahagia setelah melakukan perjalanan yang panjang dan sulit.

“Cintailah Allah dengan sepenuh hatimu, maka Dia akan memenuhi hatimu dengan cinta-Nya,” tutur nahkoda “Jiwa” mengutip kata-kata Syekh Abdul Qodir Jaelani.

———

Pada akhir pengajiannya, Sang Guru Agung menasihatkan “kisah ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan ruhani yang panjang dan penuh dengan tantangan. Namun, dengan kesadaran dan jiwa yang kuat, manusia dapat melewati semua kesulitan dan mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang hakiki.”

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung .

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *