Hikmah dari Syeikh Hasan al-Basri
UINSGD.AC.ID (Humas) — Alkisah, Syeikh Hasan al-Basri merupakan seorang ulama yang terkenal dengan kezuhudannya dan kesederhanaan hidupnya. Beliau hidup di zaman Bani Umayyah, di saat kemewahan dan kekayaan telah merasuki banyak orang sebagai bagian euforia transisi urbanisasi masyarakat Arab dari tradisi “badawah” ke tradisi “hadharah”.
Suatu hari, seorang tamu datang ke rumah Syeikh Hasan al-Basri. Tamu itu terkejut melihat kesederhanaan rumah Syeikh Hasan al-Basri, yang hanya memiliki sedikit perabotan dan tidak ada tanda-tanda kemewahan.
Syeikh Hasan al-Basri menyambut tamu itu dengan hangat dan menawarkan makanan sederhana. Tamu itu merasa heran dengan kesederhanaan hidup Syeikh Hasan al-Basri dan bertanya, “Wahai Syeikh, mengapa engkau hidup dengan sederhana seperti ini, padahal engkau memiliki kedudukan yang tinggi dan dihormati oleh banyak orang, bahkan menjadi guru dan dihormati kalangan istana (Bani Umayyah)?”
Syeikh Hasan al-Basri tersenyum dan berkata, “Aku tidak ingin terikat dengan dunia ini. Aku sudah merasa cukup hidup dengan sederhana dan bebas dari ikatan duniawi. Aku berikhtiyar penuh agar mampu fokus pada kehidupan akhirat dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah SWT. dalam keadaan hati dan jiwa yang suci”
Tamu itu terkesan dengan jawaban Syeikh Hasan al-Basri dan bertanya lagi, “Tapi, bagaimana engkau bisa hidup dengan sederhana seperti ini? Apakah engkau tidak memerlukan banyak harta untuk hidup?”
Syeikh Hasan al-Basri menjawab, “Aku hanya merasa cukup dengan sedikit harta untuk hidup; serta aku tidak memerlukan banyak harta untuk bahagia. Kebahagiaan sejati datang dari kebeningan hati dan jiwa, bukan dari harta benda, jabayan, atau tahta. Aku ingin hidup dengan sederhana dan memiliki hati yang bersih, daripada hidup dengan mewah dan memiliki hati dan jowa yang kotor.”
Syeikh Hasan al-Basri kemudian berkata, “Kita bisa belajar dari kesederhanaan hidup Rasulullah SAW. Beliau adalah manusia yang paling mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT, namun Beliau hidup dengan sangat sederhana. Rumah Beliau yang terbuat dari tanah liat dan atapnya dari pelepah kurma tidak memiliki perabotan yang mewah.”
Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, pernah menceritakan bahwa rumah Rasulullah SAW tidak memiliki perabotan yang mewah, bahkan tempat tidurnya hanya terbuat dari kulit yang diisi dengan serat kurma. (HR. Bukhari)
Syeikh Hasan al-Basri melanjutkan, “Rasulullah SAW mencontohkan bahwa kesederhanaan hidup dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian batin. Beliau tidak memerlukan banyak harta untuk bahagia, karena kebahagiaan sejati datang dari dalam hati.”
———-
Kisah Rasulullah SAW dan Syeikh Hasan al-Basri ini menjadi penuntun bahwa kesederhanaan hidup dapat membawa kebahagiaan dan kedamaian batin. Mereka mencontohkan bahwa hidup tidak harus mewah dan mahal untuk menjadi bahagia. Memiliki kekayaan yang banyak adalah kebolehan, tetapi kesederhanaan hidup adalah keutamaan. Hal yang utama adalah memiliki hati yang bersih dan fokus pada “keterhubungan dengan Sang Maha Pengasih”.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung.