Iqtishaduna International Conference 2025, Ruang Kolaborasi Global untuk Masa Depan Ekonomi Islam

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung memperkuat perannya di level internasional dengan menyelenggarakan Iqtishaduna International Conference (IIC) 2025, forum akademik yang mempertemukan para pakar dari berbagai negara untuk membahas strategi tangkas membangun ekonomi ASEAN yang inklusif dan berketahanan.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Iqtishaduna International Conference 2025 yang berlangsung selama dua hari di Puri Khatulistiwa Sumedang, Rabu–Kamis (26–27/11/2025).

Konferensi internasional bertema “Bangkit Bersama di Masa yang Tidak Pasti: Strategi Tangkas untuk Ekonomi ASEAN yang Inklusif dan Tangguh” ini menghadirkan pembicara utama Associate Prof. Muhammad Soleh Nurzaman, Ph.D., serta sejumlah narasumber dari berbagai negara, di antaranya:

Prof. Dr. Murat Yulek (Rektor Ostim Technical University, Ankara, Turki), Associate Prof. Dr. Tawat Noipom (Prince of Songkla University, Thailand), Associate Prof. Dr. Mualimin M. Sahid (Universitas Ilmu Pengetahuan Islam Malaysia), Dr. Muhammad Zaki bin Haji Zaini (Universitas Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam), Dr. Samah Alsaodun (University of Hail, Arab Saudi), Muhammad Ichsana Nur (University of Manchester, Inggris), Drs. H. Cucu Sutara, M.M. (Ketua Ikatan Alumni UIN Bandung), Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri, S.Ag., MM., CPHRM., CHRA., Ketua Jurusan Manajemen, yang dipandu oleh Ketua International Office, Dr. H. Munir, M.A. dan Nabiela Rizki Alifa (Dosen FEBI).

Acara yang berlangsung selama dua hari ini dibuka oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. Dalam sambutannya, Prof Rosihon menegaskan iqtishaduna menjadi ikhtiar bersama dalam rangka internasionalisasi lembaga.

Suatu kehormatan sekaligus kebahagiaan yang luar biasa untuk pertama-tama menyambut kita semua di Kota Bandung, kota indah yang tercipta ketika Tuhan tersenyum sesuai mitos yang tersebar luas.

“Izinkan saya pada kesempatan ini untuk menyambut seluruh peserta di universitas kami, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Universitas ini awalnya merupakan Institut Agama Islam Negeri yang berfokus pada ilmu-ilmu keislaman seperti ushuluddin, syariat, tarbiyah, adab, dan dakwah. Namun, kemudian berubah menjadi universitas yang memperluas fokusnya ke ilmu-ilmu umum dengan tujuan untuk mengintegrasikannya ke dalam paradigma Islam,” tegasnya.

Sebagai rektor dan atas nama seluruh civitas akademika universitas, kami dengan bangga menyelenggarakan Konferensi Internasional Iqtishaduna Kedua tahun ini, dengan topik “Bangkit Bersama di Masa yang Tidak Pasti: Strategi yang Tangguh untuk Ekonomi ASEAN yang Inklusif dan Tangguh.”

Topik ini tidak hanya relevan saat ini, tetapi penting bagi situasi kita saat ini, khususnya di kawasan ASEAN Tenggara. “Saya yakin bahwa pertemuan ini akan menjadi wadah penting untuk membahas secara serius lanskap ekonomi ASEAN yang dinamis, mencermati tantangan dan peluang yang ada di hadapan kita,” jelasnya

Sebagaimana diketahui bahwa ASEAN terdiri dari beberapa negara yang secara ekonomi merupakan ekonomi terbesar kelima di dunia dan menjadi tujuan investasi yang menjanjikan. Selain itu, kawasan ini telah menunjukkan ketahanan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir dan terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Karena alasan inilah konferensi ini mengangkat topik sebagaimana disebutkan di atas.

Namun, kisah indah ini bukannya tanpa masalah. Hal ini benar karena ekonomi tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek lain, seperti ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan global yang tidak pasti, dan sebagainya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membahas perlunya pembangunan yang lebih inklusif untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan pemerataan dan mencegah ketimpangan sosial.

Pada saat yang sama, kita tidak dapat mengimplementasikan hasil diskusi kita dengan partisipasi pihak lain. Dalam hal ini, kita tidak dapat melakukannya sendiri, tetapi pihak lain seperti sektor publik dan swasta, organisasi non-pemerintah dan antarpemerintah, ilmuwan, insinyur, harus dilibatkan, dan kita harus sangat menyadari pentingnya kerja sama dan kolaborasi interdisipliner.

“Konferensi ini sangat penting dan bermakna karena salah satu misi kami adalah menjadikan universitas kami diakui secara global sebagai pusat unggulan untuk kinerja akademik, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang tinggi, yang tercermin dalam visi “rahmatan lil alamin” (berkah bagi semua),” tandasnya.

Dalam hal ini, kami berharap konferensi ini dapat memberikan kontribusi yang besar, baik secara teoritis maupun praktis, bagi pembangunan ekonomi dan sosial kita di Indonesia, khususnya, dan di kawasan ASEAN pada umumnya, sebagaimana tersirat dalam topik konferensi ini.

“Kepada seluruh pembicara utama dan pembicara, tamu, serta peserta yang terhormat, saya menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan mendalam. Terima kasih banyak atas kehadiran kita semua di sini dan atas kesediaannya untuk menikmati konferensi yang berbahagia,” ujarnya.

Dekan FEBI, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, S.Ag., M.Ag., menegaskan mempertemukan kita dalam satu ruang intelektual yang strategis, perjumpaan akademik yang tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga mengokohkan komitmen kita terhadap kontribusi global ilmu pengetahuan.

Hadirnya kita di forum ini bukan semata menjalani rutinitas akademik, tetapi merupakan ikhtiar kolektif untuk memberikan makna baru bagi perkembangan ilmu ekonomi Islam, manajemen, akuntansi, dan industri halal dalam lanskap regional dan internasional.

Tema besar yang kita angkat ini “Sejatinya mengandung pesan argumentatif yang sangat kuat, bahwa dunia, hari ini tidak cukup ditangani dengan pendekatan linier atau konvensional. Kita masuk pada era uncertainty, sebuah era ketidakpastian, di mana ekonomi, teknologi, geopolitik, dan nilai-nilai sosial bergerak sangat cepat,” ungkapnya.

Walhasil, kapasitas kita untuk bertahan ditentukan oleh dua hal: Pertama, Agility (kelincahan akademik dan institusional)—kemampuan merespons perubahan dengan inovatif dan adaptif, bukan reaktif. Kedua, Inclusivity dan Resilience—kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh meninggalkan siapapun, dan ketahanan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus dibangun bersama-sama dengan semangat kebersamaan.

“Oleh karena itu, dunia akademik memiliki tanggung jawab moral untuk tidak berhenti di tataran produksi pengetahuan. Kita harus menjadi problem solver bagi masyarakat, pembimbing generasi muda, serta arsitek gagasan yang mampu menavigasi perubahan,” paparnya.

Melalui kegiatan hari ini, forum International Seminar dan Parallel Sessions, kita menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan mahasiswa, peneliti, akademisi, dan para pemangku kepentingan dari berbagai negara Asia Tenggara. Ruang ini sesungguhnya bukan sekadar arena presentasi ilmiah, tetapi ekosistem kolaborasi, tempat riset bertemu dengan praksis, gagasan bertemu dengan jaringan, dan nilai bertemu dengan masa depan.

Bagi FEBI, kegiatan ini adalah bagian dari upaya konsisten untuk mengintegrasikan riset, pengabdian, dan inovasi mulai dari  memperkuat reputasi internasional fakultas dan universitas; serta membangun jejaring jangka panjang yang berdampak pada kemajuan masyarakat dan peradaban.

Bidang ekonomi Islam, manajemen, akuntansi, serta industri halal memegang peran strategis di tengah transformasi global. Ketika dunia mencari model pembangunan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan, kita memiliki modal epistemologis dan nilai ilahiah berupa keadilan, kemaslahatan, partisipasi, dan keberlanjutan.

“Sistem pengetahuan Islam bukan saja relevan, akan tetapi ia juga mampu menjadi pendorong gagasan (knowledge driver) dalam arsitektur ekonomi global. Saya menaruh harapan besar bahwa forum ini akan melahirkan gagasan progresif dan inovatif,  penelitian yang berdampak nyata,  jaringan internasional baru,  serta solusi strategis bagi pembangunan masyarakat baik dalam konteks ASEAN maupun dunia,” bebernya.

Konferensi Internasional ini menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan bahwa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, terus hadir di kancah global dengan kontribusi nyata dan berkelanjutan.

“Saya sampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, para narasumber dari berbagai negara, peserta, serta para mitra dan sponsor yang telah menyediakan energi, gagasan, dan kerja kerasnya sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik,” tuturnya.

Wakil Dekan I FEBI, Prof. Dr. Iwan Setiawan, S.Ag., M.Pd., M.E.Sy., menambahkan Iqtishaduna International Conference (IIC) 2025 menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi akademik lintas budaya dan memperluas cakrawala keilmuan mahasiswa.

Tentunya, keberadaan para peserta Konferensi Internasional Iqtishaduna, “Harapannya dapat memberikan kontribusi nyata dalam memperkaya pengetahuan di bidang ekonomi Islam, tata kelola, keuangan inklusif, inovasi industri halal, keberlanjutan, dan transformasi digital sangatlah berharga,” ucapnya.

Konferensi ini melanjutkan kesuksesan tahun sebelumnya, dengan menghadirkan ratusan penulis dan delegasi dari berbagai benua. “Hari ini, kita kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat diskursus intelektual yang berkualitas, menjalin kemitraan transnasional, dan memperluas dampak global dari penelitian yang berakar pada nilai-nilai Islam dan realitas kawasan,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan Iqtishaduna International Conference 2025, FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung menegaskan komitmennya dalam memperkuat riset, memperluas jejaring akademik, serta mendorong kontribusi keilmuan bagi pengembangan ekonomi Islam di tingkat regional dan global. Diharapkan gagasan-gagasan yang lahir dari forum ini dapat menjadi pijakan strategis bagi terwujudnya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing di era perubahan yang semakin cepat.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *