Belajar dari Dialog Dua Pahlawan Kemanusiaan: Gus Dur dan Daisaku Ikeda

Komik hasil adaptasi dari buku Dialog Peradaban. (Sumber: Instagram/pamerandialogperadaban)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Bagi saya, penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional tanggal 10 November 2025 oleh presiden Prabowo menjadi sangat istimewa karena perjuangan serta resonansi gerakan Gus Dur itu, justru pada pada masalah “memanusiakan”manusia.

Tentang visi serta proyeksi “nge-ewong-ke” sesama itu, bahkan sudah menjadi bahan pemikiran yang matang dari filsuf besar seperti Immanuel Kant, sejarawan agung Arnold Toynbee, dan banyak pemikir besar yang lain. Intinya, manusia yang utuh, yang memiliki kesadaran diri serta pertanggungjawaban etis hanya bisa ditempuh lewat proses “pendidikan”.

Hal menarik, beberapa waktu sebelum pemberian gelar Pahlawan Nasional itu, justru telah diselenggerakan pameran di Jakarta terkait pemikiran Gus Dur dengan mitra globalnya, Daisaku Ikeda. Di tengah berbagai kecamuk perang yang terjadi di beberapa belahan dunia, pesan perdamaianan yang diwariskan KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan tokoh perdamaian asal Jepang, Daisaku Ikeda melalui Pameran Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian.

Acara yang dilaksanakan atas kerjasama Yayasan Bani Abdurahman Wahid dan Soka Gakai Indonesia ini dimulai di Selasar Al-Fattah, Mesjid Istiqlal Jakarta Rabu (1-7/10/2025), kemudian yang kedua di Makara Center UI (13-23/10/2025), serta ketiga di Soka Kagai Indonesia (25/10-4/12/2025).

“Pameran dan seminar keliling ini penting untuk terus menggemakan semangat toleransi dan perdamaian dari dua tokoh ini, Gus Dur dan Daisaku Ikeda. Dalam prakteknya kedua orang ini, tak pernah lelah menyuarakan toleransi dan perdamaian,” kata Inaya (Suara Merdeka, 2025).

Apa yang dilakukan Gus Dur dengan Daisaku Ikeda adalah perjuangan kemanusiaan. Pemuliaan harkat dan martabat manusia ini, dari sisi ajaran Islam, justru bagian dari Bahasa Qur’ani yang bersifat universal serta seringkali menjadi kutipan dari guru penulis, KH. Zamzami Amin—Rais Ifadliyah Idarah Aliyah JATMAN serta Pimpinan Pondok Pesantren Mu’allimin Mua’llimat Babakan Ciwaringin Cirebon—yang meninggikan kedudukan Islam sendiri, sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

“Sungguh telah kami muliakan anak-anak Adam (QS. Al-Isra’:70). Bangsa ini harus merasa sangat bersyukur, pernah dikaruniai seseorang seperti Gus Dur. Saat perjuangan agama banyak disempitkan pada sektarianisme yang sempait, lewat dialognya bersama mitra globalnya, Gus Dur menjadi tokoh global sejajar dengan Gorbachev dari Rusia, Arnold J. Toynbee dari Inggris, serta Majid Tehranian dari Iran, orang-orang yang memang melakukan dialog intens serta simultan dengan Daisaku Ikeda.

Benturan Peradaban vs Dialog Peradaban
Seorang ilmuwan politik Amerika, Samuel Huntington dalam Jurnal Foreign Affairs tahun 1993 menerbitkan sebuah artikel dengan judul The Clash of Civilizations. Artikel tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku dengan judul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order pada tahun 1996.

Benturan peradaban, bagi Huntington merupakan “ancaman terbesar bagi perdamaian dunia”. Di dalam hipotesisnya Huntington menyatakan bahwa sumber konflik fundamental di dunia baru ini tidak akan terutama bersifat ideologis atau terutama bersifat ekonomi. Pembagian besar di antara umat manusia dan sumber utama konflik akan bersifat budaya. Negara-negara bangsa akan tetap menjadi aktor terkuat dalam urusan dunia, tetapi konflik utama dalam politik global akan terjadi antara negara-negara dan kelompok-kelompok dari peradaban yang berbeda. Benturan peradaban akan mendominasi politik global.

Di tengah-tengah dunia yang dibayangi-bayangi ramalan Huntington tentang benturan peradaban dengan perang Rusia dengan Ukraina sebagai representasi Barat, kemudian aliansi stetegis yang terbentuk antara dunia Islam seperti Iran dengan China berhadapan dengan Israel dalam aneksasinya terhadap Palestina, buku KH. Abdurahman Wahid Daisaku Ikeda, Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian menemukan momentum untuk kembali dibicarakan. Buku ini pertama kali diterbitkan 15 tahun yang lalu.

Penelitian-penelitian tentang kontribusi KH. Abdurahman Wahid serta Daisaku Daisaku telah banyak dilakukan. Seperti dilakukan Mukhlis serta Saefuddin, penelitian mereka bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis konsep pendidikan Islam menurut pandangan KH Abdurrahman Wahid dalam mengembangkan konsep pendidikan di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang budaya dan agama.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, pendidikan Islam menurut Abdurrahman Wahid menekankan pembelajaran yang lebih substantif, di mana terdapat nilai-nilai toleransi, pendidikan berbasis budaya lokal, dan pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘âlamîn. Kedua, pendidikan agama yang baik adalah pendidikan yang menyesuaikan dengan budaya lokal. Gus Dur mengidentifikasi tiga tujuan pendidikan Islam, yaitu pendidikan Islam berbasis modernisme, pendidikan Islam berbasis pembebasan, dan pendidikan Islam berbasis kebhinekaan (Mukhlis & Saefuddin, 2024).

Dalam penelitian Aqil, Gus Dur adalah seorang figur humanis. Hal ini bisa dilihat dari pemikirannya tentang resolusi konflik dan pembelaan hak-hak minoritas yang dia perjuangan. Dialog humanistik merupakan bentuk resolusi konflik yang ditawarkan. Basis dialog antar agama yang Gus Dur tawarkan adalah konsep humanisme agama.

Konsep ini berakar pada pemikirannya tentang universalime Islam yang menjadi basis resolusi konflik agama dan perjuangan hak-hak minoritas, yakni: tauhid, kemanusiaan, persamaan, kebebasan, kesederhanaan, persaudaraan, kesatriaan, dan kearifan lokal (Aqil, 2020).

Humanisme menurut Gus Dur adalah memanusiakan manusia (Ahmad & Nihayatuzzain, 2024).

Sementara tentang Budha yang juga mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan ada pada penelitian Ahmad. Esensi Ajaran Buddha tercakup dalam tiga kaidah dari jalan: pelepasan yang pasti, hati yang mengabdi, dan kebijaksanaan dalam menyadari kekosongan (sunyata).

Pada awalnya, manusia berusaha untuk keluar dari kemelut masalah-masalah mereka dan sebab-sebabnya. Lalu, mereka melihat dirinya juga mempunyai masalahnya sendiri, dan dengan cinta kasih dan belas kasih, mereka mengabdikan hati ini untuk mejadi seorang Buddha, agar mereka dapat benar- benar menolong yang lain.

Untuk melakukan hal ini, mereka mengembangkan kebijaksanaan dengan menyadari hakikat sebenarnya dari dirinya dan fenomena lainnya (Ahmad, 2012).

Sedangkan Goulah telah menulis sebuah artikel yang berfokus pada filsafat dan praktik dialog antarbudaya Daisaku Ikeda (1928–2023)—yang disebutnya sebagai ‘dialog penciptaan nilai’—sebagai aliran baru dalam interdisipliner dan filsafat serta teori pendidikan. Dia menggunakan kutipan dari tulisan Ikeda untuk mempertimbangkan dua aspek pendekatan dialognya. Pertama, ia menempatkan pendekatannya secara filosofis dalam Buddhisme; dalam contoh-contoh dialog yang dicontohkan oleh mentor Ikeda, Josei Toda (1900–1958), dan oleh mentor Toda, Tsunesaburo Makiguchi (1871–1944); serta dalam teori penciptaan nilai (soka) dan pedagogi penciptaan nilai Makiguchi. Kedua, Goulah mempertimbangkan tingkat-tingkat dialog Ikeda yang beragam dan kreatif nilai. Goulah menyimpulkan dengan implikasi dialog kreatif nilai dalam pendidikan secara umum dan pendidikan bilingual-bikultural secara khusus (Goulah, 2013).

Dialog antara Gus Dur dengan Daisaku Ikeda sendiri, bermula dari sebuah pertemuan di Jepang tahun 2002 sewaktu Gus Dur menerima gelar kehormatan doktor honoris causa dari Universitas Soka Jepang, Gus Dur sudah mengetahui bahwa Daisaku Ikeda gemar melakukan dialog dengan para tokoh perdamaian di dunia, seperti Nelson Mandela, Mikhael Gorbachev, dan sejarawan Arnold Toynbee. Biasanya hasil dialog itu dikumpulkan dalam sebuah buku. Dialog melalui korespondensi antara Gus Dur dan Daisaku Ikeda, sepanjang tahun 2009 diterbitkan sebagai sisipan dalam majalah Ushio yang terbit di Jepang sebanyak 400.000 ribu eksemplar. Penerbitan itu kemudian memicu lahirnya buku bertajuk Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Sampai kini buku monumental itu telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, Jepang, Melayu, Arab, Perancis, Inggris, Tiongkok, dan Portugis (Sinar Harapan, 2025).

Pada Bab I dengan judul “Perdamaian Merupakan Misi Agama” Ikeda menyampaikan pandangannya bahwa pertemuan antara manusia dengan manusia melahirkan nilai-nilai baru. Sejarah baru dimulai dari dialog peradaban yang berbeda. Bagi Ikeda, suatu kegembiraan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun bisa berdialog dan belajar dari Dr. Abdurahman Wahid, orang arif yang memiliki martabat dan filosofi agung. Dialog mereka yang dilakukan lewat pertukaran pendapat tentang perdamaian dan pertukaran budaya, antara agama Islam dan agama Budha telah mendapatkan perhatian besar dari berbagai kalangan di Jepang. Di awal dialog tersebut Gus Dur sendiri menyampaikan bahwa sejak 25 tahun yang lalu, dia telah mengetahui tentang Ikeda. Gus Dur telah menantikan datangnya kesempatan untuk bertemu dengan Ikeda sejak dia membaca buku dialog Ikeda dengan sejarawan Dr. Arnold J. Toynbee yang berjudul Perjuangkan Hidup (Judul versi Inggris: Choose Life)(Wahid & Ikeda, 2010).

Baik Gus Dur maupun Ikeda, memiliki pengaruh yang berakar kuat di dalam kehidupan muid-muridnya. Gus Dur adalah seorang tokoh di Nahdlatul Ulama serta resonansi pemikirannya berpengaruh besar dalam bentuk bimbingan bagi santri-santrinya seperti lewat pondok pesantren, Wahid Institute serta Jaringan Gusdurian. Sementara resonansi pemikiran Daisaku Ikeda melalui Soka Gakkai yang tersebar di seluruh dunia mulai dari perwakilannya di Indonesia, Singapura, Filipina Amerika Serikat, dan lain-lain. Gerakan sosial religius dari Gus Dur dengan Ikeda dengan melakukan lompatan visioner terkaitkan “memanusiakan” hubungan antar sesama.

Lompatan-lompatan paradigmatik dari bimbingan Gus Dur serta Ikeda dalam menyebarkan gagasan toleransi serta perdamaian tetap berdampak serta digaungkan di tangan penerus-penerus perjuangannya, bahkan ketika keduanya telah meninggal dunia. Nahdlatul Ulama, Wahid Institut, Jaringan Gusdurian adalah tetap menjadi ladang persemaian bagi Gus Dur, sehingga pemikirannya tetap mengalami kontekstualisasi yang simultan. Sementara aliran Budha Nichiren dengan Soka Gakkai sebagai lembaga yang terus menjadi katalisator pemikiran-pemikiran Ikeda, secara simultan juga terus melakukan berbagai upaya untuk menyuarakan bentuk masyarakat global serta peradaban baru.

Islam kosmopolitan yang digagas oleh Gus Dur menekankan pada esensi Islam, bukan pada simbol dan formalisme ajaran agama. Penelitian ini menunjukkan bahwa Gus Dur menempatkan ajaran Islam secara kontekstual, pemahaman al-Qur’an dan Hadits dipahami berdasarkan pada argumentasi logis dan sesuai konteks zaman. Islam kosmopolitan merupakan pemikiran Gus Dur yang berakar dari gagasan universalisme Islam, Pribumisasi Islam dan Pesantren sebagai Subkultur. Tiga akar inilah yang membangun lahirnya pemahaman Islam yang moderat, toleran, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ketika kosmopolitanisme Islam terwujud, maka mampu membangun pluralitas agama dan budaya, hilangnya batasan etnis, tegaknya keadilan, mampu mambangun kerjasama sosial antar agama, memberikan transformasi sosial kemasyarakatan serta membumikan Islam ramah (Siswanto & Fakhruddin, 2022).

Sebuah penelitian dari Pellizzato, berakar pada filsafat Daisaku Ikeda tentang ningen kyōiku (pendidikan manusia), serta komitmen seumur hidupnya dalam membangun masyarakat yang memenuhi kebutuhan mendasar pendidikan. Tujuan utama adalah untuk menjelaskan visi Ikeda tentang peradaban global baru dan mengklarifikasi peran pendidikan dalam mewujudkan visi tersebut. Pendekatan unik Ikeda ditandai dengan fokus pada perubahan internal sebagai katalisator perubahan sosial yang bertahap dan non-kekerasan. (Pellizzato, 2024).

Sebuah artikel yang ditulis Goulah mengkaji kontribusi para pendidik Jepang Makiguchi Tsunesaburo, Toda Josei, termasuk Daisaku Ikeda terhadap etika dan praktik kosmopolitanisme. Bersama-sama, mereka merupakan “para filsuf Gerakan Soka” yang disebutkan oleh Rizvi dan Choo dalam seruan mereka untuk edisi khusus tentang “kosmopolitanisme Asia.” (Goulah, 2020)

Bisa dikatakan bahwa apa yang dikembangkan Gus Dur serta Daisaku Ikeda berporos pada bimbingan pendidikan transformatif. Pendidikan transformatif adalah sebuah pendidikan yang menekankan adanya perubahan karakter peserta didik menjadi lebih baik (Murwanto, 2022).

Dengan mengutip Syeikh Burhanuddin al-Zarnujy dalam kitabnya Ta’līm al-Muta’alim Tharīq al-Ta’alum Dawiyatun telah menulis bahwa dalam menuntut ilmu harus memperhatikan beberapa tradisi yang memiliki pengaruh besar pada keberhasilan suatu proses pendidikan yang dijalani, yaitu: niat, sabar, musyawarah serta memilih guru dan teman. Puncak akhir dari pendidikan transformatif ialah menjadi pribadi yang berakhlak yang baik serta bermanfaat bagi sesama manusia (Dawiyatun, 2017).

Model pendidikan transformatif dari Gus Dur lewat Kosmopolitanisme Islam serta Daisaku Ikeda lewat “global citizenship education” adalah sebuah cara pandang reformatif baik intern tafsir ajaran Islam serta Budha, serta untuk memperbaharui nilai-nilai kemanusian berdasarkan karakteristik ajaran masing-masing. Jika menggunakan pendekatan dialektis dari Hegel,pola “Dialog Peradaban” dari Gus Dur dengan Daisaku Ikeda ini, tidak lain merupakan “anti-tesis” dari “tesis” Huntington tentang “Benturan Peradaban”.

Dodo Widarda, Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *