UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah cuaca yang tak menentu dan gelombang kehidupan yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, menjaga iman merupakan hal yang sangat penting, ia akan menjadi kompas yang bisa menuntun arah hati dan jiwa kita. Oleh karena itu, tulisan ini hadir untuk senantiasa membentengi diri dengan meningkatkan iman dan takwa. Karena dengan keduanya, Allah tidak hanya akan memperbaiki urusan akhirat kita, tetapi juga hidup kita di dunia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيم
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.” (QS Al-Ahzab, [33]: 70-71).
Saat ini kita hidup di zaman yang penuh dengan tantangan dan perubahan. Cuaca ekstrem yang seringkali datang tak terduga, ketidakpastian ekonomi yang seringkali melanda, serta berbagai permasalahan sosial seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Kadang kita sedih menghadapi semua itu, bahkan tidak sedikit yang menangis.
Namun satu hal yang perlu kita ketahui bersama, seberat apa pun ujian dan tantangan yang kita hadapi saat ini, perlu diingat bahwa semua itu merupakan ketetapan dari Allah yang harus kita terima dengan lapang dada. Bahkan jauh sebelum Allah menciptakan kita semua, Dia sudah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa semua manusia yang ada di dunia akan merasakan susah, gelisah, hingga kehidupan yang penuh ketidakpastian. Allah berfirman dalam Surat Al-Balad ayat 4: لَقَدْ خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS. Al-Balad [90]:4).
Maksud dari frasa “kabad” pada ayat tersebut adalah bahwa manusia diciptakan dalam keadaan penuh kepayahan, kesulitan, dan perjuangan hidup. Sejak pertama kali lahir, manusia sudah berhadapan dengan berbagai bentuk kesulitan, mulai dari rasa sakit, kebutuhan jasmani, ketergantungan, hingga perjalanan hidup yang panjang dengan segala dinamika dan ujiannya. Mereka tidak pernah benar-benar lepas dari usaha, tantangan, dan keadaan yang berubah-ubah.
Inilah hakikat hidup di dunia, tempat di mana setiap jiwa dari kita semua pasti akan melalui masa-masa berat dan juga masa-masa yang tidak pasti sebagaimana yang kita rasakan saat ini. Demikian penjelasan Syekh Dr. Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir fil Aqidah was Syari’ah wal Manhaj, jilid XXX, halaman 245:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْأِنْسَانَ فِي كَبَدٍ. أَيْ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مَغْمُوْرًا بِالتَّعَبِ وَالنَّصَبِ، وَفِي مُكَابَدَةِ الْمَشَاقِّ وَالشَّدَائِدِ، فَهُوَ لاَ يَزَالُ فِي تِلْكَ الْمُكَابَدَةِ بَدْءًا مِنَ الْوِلاَدَةِ، إِلىَ الْمَتَاعِبِ الْمَعِيْشِيَّةِ وَالْأَمْرَاضِ الطَّارِئَةِ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah. Maksudnya, Kami menciptakan manusia dalam keadaan diliputi keletihan dan kepayahan, serta berada dalam perjuangan menghadapi berbagai kesulitan dan penderitaan. Ia senantiasa berada dalam kondisi penuh jerih payah itu, mulai dari sejak kelahirannya hingga menghadapi kesulitan hidup dan berbagai penyakit yang datang.”
Kita saat ini berada di penghujung bulan Jumadil Ula 1447 H, dan besok kita memasuki 1 Jumadil Akhir 1447 H / 22 November 2025. Bulan ini adalah waktu penuh hikmah dan kesempatan untuk meningkatkan amal ibadah. Setiap pergantian bulan hijriah bukan sekadar perubahan tanggal, tetapi tanda bahwa umur kita bertambah dekat dengan akhir, dan kesempatan untuk memperbaiki diri semakin berkurang. Dari penjelasan Syekh Wahbah az-Zuhaili tentang makna kabad tadi, terdapat tiga pembelajaran besar yang sangat penting kita renungkan dalam momentum pergantian bulan ini. Mari kita ekpolasi satu-persatu:

Pertama, Hidup Adalah Arena Perjuangan, Bukan Tempat Istirahat. Adalah sebuah metafora kuat yang menyiratkan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya melibatkan tantangan, hambatan, dan kerja keras yang konstan. Ini adalah cara puitis untuk mengatakan bahwa hidup bukanlah keadaan pasif yang nyaman, melainkan kondisi dinamis yang menuntut tindakan, ketahanan, dan pertumbuhan. az-Zuhaili mengajarkan kepada kita semua: bahwa manusia “maghmūran bi at-ta‘ab wa an-nashab” menunjukkan bahwa kesulitan adalah bagian alami dari hidup. Firman Allah dalam Al- Qur’an:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
Artinya, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS Al-Balad: 4).
Disamping itu, Allah juga berfirman: وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا “Manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS An-Nisa: 28).
Rasulullah SAW juga bersabda:« إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ » “Besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi).
Pelajaran yang dapat diambil dari itu semua: (1) Jangan meminta hidup tanpa ujian; mintalah kekuatan menghadapi ujian. (2) Kesulitan hidup adalah ladang pahala. (3) Menyambut Jumadil Akhir berarti menyiapkan diri memperkuat iman dan mental perjuangan. Begitu pula dalam meyelesaikan perkuliahan tidak instan memerlukan persiapan mental, financial, Keteguhan dan istqomah/konsistensi. Secara keseluruhan, pesan dari hadis tersebut adalah motivasi luar biasa bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi dalam hidup, termasuk dalam menuntut ilmu atau menyelesaikan studi, jika dijalani dengan benar, akan mendatangkan kebaikan dan ganjaran yang besar dari Allah SWT.

Kedua, Ujian Tidak Pernah Lepas, Maka Kesabaran Harus Terus Diperbarui. Mengisaratkan bahwa tantangan, cobaan, atau kesulitan adalah bagian yang tidak terhindarkan dan berkelanjutan dari kehidupan manusia. Hidup akan selalu menyajikan rintangan-rintangan baru. Untuk hal itu, Az-Zuhaili mengajarkan bahwa manusia selalu berada dalam perjuangan. Oleh sebab itu kesabaran adalah kebutuhan utama seorang mukmin. Allah SWT berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ… “Kami akan menguji kalian dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS Al-Baqarah: 155). Di akhir ayat itu Allah berfirman: وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ “Berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Raulullah SAW, juga bersabda: « عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ… » “Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, seluruh urusannya adalah kebaikan.” (HR. Muslim).
Pelajaran yang dapat diambil dari itu semua: (1) Sabar bukan sekali dua kali, tapi harus diperbarui setiap hari. (2) Setiap fase hidup punya ujiannya sendiri. (3) Memasuki Jumadil Akhir, mari memperkuat sabar, syukur, dan tawakal sebagai pegangan hidup.
Begitu pula dalam meyelesaikan perkuliahan sejatinya itu setiap hari ujian. Memerlukan kesabaran, keteguhan dan istqomah/konsistensi. Yang diajarkan melalui pembiasaan. Pembiasaan sebagai Metode Pengajaran: Nilai-nilai seperti disiplin, ketekunan, dan manajemen waktu ditanamkan melalui rutinitas harian di kampus. Pembiasaan ini yang mempersiapkan mahasiswa untuk tuntutan kehidupan profesional di masa depan. Singkatnya, perkuliahan adalah sebuah maraton yang mengasah tidak hanya pengetahuan akademis, tetapi juga karakter dan ketahanan mental melalui tantangan harian.

Ketiga, Ujian Adalah Sarana Perbaikan dan Kedewasaan Ruhani. Az-Zuhaili menyebut bahwa manusia menghadapi kesulitan hidup dan penyakit secara bergantian semua itu adalah didikan Allah kepada hamba-Nya. Allah berfirman: ﴿ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴾ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS Asy-Syarh: 6).
Dan firman-Nya: مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ… “Tidak ada musibah menimpa kecuali dengan izin Allah, dan siapa yang beriman kepada Allah, Allah beri petunjuk kepada hatinya.” (QS At-Taghabun: 11).
Dalam konteks ini, Rasulullah SAW bersabda: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ… إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ » “Setiap kelelahan, penyakit, dan kesusahan yang menimpa seorang Muslim akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Pelajaran dari itu semua: 1) Ujian bukan hukuman, tetapi pembersihan dosa. 2) Kesulitan mendidik hati agar lebih dekat kepada Allah. 3) Masuk Jumadil Akhir harus dijadikan kesempatan muhasabah, memperbaiki ibadah, dan meningkatkan akhlak.
Begitu juga dalam menghadapi ujin-ujian di dalam Perkuliahanan ”Menghadapi kesulitan” sering kali mendorong seseorang untuk lebih bersabar, berserah diri (tawakal), dan berdoa kepada Allah. Proses ini secara alami memperkuat hubungan spiritual dan ketergantungan hati kepada Sang Pencipta.
Sebagai penutup dari penjelasan Syekh Wahbah az-Zuhaili, kita memahami bahwa hidup tidak pernah steril dari kepayahan. Tetapi di balik semua itu Allah menyediakan banyak jalan kemudahan bagi hamba-Nya yang sabar dan bertakwa.
Semoga memasuki bulan Jumadil Akhir 1447 H, Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk mengisi bulan ini dengan amal shalih, memperbaiki diri, menenangkan hati, dan menjadikan setiap ujian sebagai jalan kedekatan kepada-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung