Sujud Panjang Bersama Luasnya Alam Semesta

Ilustrasi sujud/ Foto: iStock

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ungkapan “sujud panjang bersama luasnya jagat raya alam semesta” adalah metafora spiritual yang menggambarkan kedalaman kepasrahan manusia kepada Allah yang Maha Besar. Sujud bukan sekadar gerak jasmani, tetapi perendahan eksistensi manusia di hadapan keagungan ciptaan-Nya yang tak terbatas. Semakin seseorang memahami luasnya kosmos, semakin ia menyadari kecilnya dirinya, dan semakin dalam pula sujudnya.

 

Tinjauan Tauhid, Kemahabesaran Allah

 

Allah sebagai Rabb al-‘Alamin dalam Al-Qur’an karim membuka dirinya dengan:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. al-Fatihah: 2)

Kata al-‘alamin mencakup seluruh realitas kosmik dari skala quark hingga galaksi super cluster. Sujud manusia adalah pengakuan mikrokosmos di hadapan pencipta makrokosmos.

 

Sujud sebagai puncak ubudiyyah. Sujud dalam Al-Qur’an selalu dihubungkan dengan penghambaan total:

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

“Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu (kepada Allah).” (QS. al-‘Alaq: 19)

Kedekatan (al-qurb) tercapai ketika manusia merendahkan diri sepenuhnya.

 

Tinjauan Kosmologi, Luas Semesta sebagai Media Tafakkur

 

Luas alam semesta sebagai ayat kauniyah. Kosmologi modern memperkirakan radius alam semesta teramati ±46,5 miliar tahun cahaya. Semua struktur: bintang, galaksi, dark matter, cosmic web, dan ruang-waktu itu sendiri adalah ayat-ayat penciptaan.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ … لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi … terdapat ayat-ayat bagi ulul albab.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

Sujud panjang adalah respons batin terhadap ayat kauniyah yang tak bertepi. Keterkecilan manusia di tengah semesta. Bumi hanyalah satu titik dalam sistem surya. Sistem surya hanyalah butiran debu dalam galaksi Bima Sakti. Bima Sakti hanyalah satu dari ratusan miliar galaksi. Kesadaran ini meluruhkan ego dan melahirkan sujud kosmik, sujud yang tumbuh dari rasa takjub dan rendah diri.

Tinjauan Tasawuf Sujud sebagai Fana’

Dalam tasawuf, sujud adalah simbol fana’, hancurnya ego di hadapan al-Haqq. Ibn ‘Arabi menulis bahwa ketika seorang hamba sujud dengan ilmu tentang luasnya alam, ia seakan meletakkan seluruh jagat raya di belakangnya dan berserah kepada satu sumber wujud, yakni Allah Ta’ala. Sujud menjadi lebih panjang ketika pandangan batin menyaksikan bahwa: segala gerak atom, putaran galaksi, aliran energi, semua tunduk kepada hukum yang sama, yakni Sunatullah.

Konsep “Kesadaran Kosmik dalam Sujud”

Sujud sebagai penyelarasan diri dengan kosmos. Alam semesta bergerak dalam ketertiban, ritme, dan harmoni. Sujud adalah tindakan manusia yang paling sinkron dengan ritme itu merendah, diam, tunduk, dan menyatu.

Panjang sujud adalah keluasan kesadaran. Yang panjang bukan hitungan detiknya, tetapi: kedalaman tadabbur, keluasan tafakkur, meluluhnya ego, penyaksian kebesaran Allah. Seseorang bisa sujud singkat, tapi di dalam hatinya ia sedang “melintasi semesta”.

Dimensi Tauhid Kosmologi dalam Sujud. Tauhid kosmologi memandang bahwa semua ciptaan adalah jembatan menuju pengenalan kepada Allah:

Tanzih, Allah Maha Transenden di atas segala makhluk.

Tasybih, Tanda-tanda-Nya tampak dalam seluruh ciptaan.

Tadabbur kosmik, Merenungi langit dan bumi memperdalam makna sujud.

Tawajjuh, Mengarahkan seluruh kesadaran kepada Allah, bukan kepada ciptaan.

Sujud adalah saat ketika semua hubungan manusia dengan selain Allah terputus, dan yang tersisa hanyalah hubungan vertikal menuju Pencipta kosmos.

Rumusan Falsafah “Sujud adalah titik nol antara manusia dan semesta.”

Di sinilah manusia menanggung kebesaran amanah kosmik (QS. al-Ahzab: 72). Di sinilah manusia kembali kepada fitrah minimalisnya, sedangkan Allah menunjukkan kebesaran-Nya yang tanpa batas. Di sinilah tauhid mencapai klimaksnya.

Simpulan

Sujud panjang bersama luasnya alam semesta adalah: pengakuan hamba atas kebesaran Rabb yang menciptakan galaksi dan partikel; penyatuan antara tadabbur kosmik dan ketundukan spiritual; titik tempat hamba “lenyap” dari semesta, dan hanya Allah yang hadir. Semakin luas semesta dipahami, semakin dalam sujud ditegakkan; semakin panjang sujud, semakin kecil ego; semakin kecil ego, semakin besar tauhid.

 

S. Miharja, Dosen Pascasarjana UIN Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *