UINSGD.AC.ID (Humas) — Bangsa Indonesia kembali mendekati tanggal 10 November Hari Pahlawan. Momentum bersejarah yang mengingatkan kita pada keberanian, keteguhan, dan pengorbanan para pejuang kemerdekaan.
Mereka tidak hanya berjuang dengan bambu runcing, tetapi dengan jiwa yang penuh iman, hati yang teguh, dan keyakinan bahwa Allah bersama mereka. Mereka berjuang bukan demi nama atau jabatan, tetapi demi kehormatan bangsa, harga diri umat, dan masa depan generasi.
Begitu banyak kisah mereka yang tidak akan pernah selesai diceritakan oleh lisan maupun tulisan. Maka kewajiban kita adalah meneladani nilai agung yang mereka tinggalkan. Dan nilai itu sejatinya bersumber dari ajaran Islam ajaran yang menekankan istikamah, keberanian, kejujuran, tawakal, dan amal kebaikan. Allah menegaskan perintah itu dalam QS. Hud:112:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu dan orang-orang yang bertobat bersamamu. Dan janganlah kamu melampaui batas.”(QS. Hud:112:).
Ayat ini adalah inti dari perjuangan: istikamah dan integritas. Pengguna merujuk pada ayat yang secara luas dianggap sebagai salah satu ayat Al-Qur’an yang paling menantang dan mendasar, yang memerintahkan umat Islam, dan secara khusus Nabi Muhammad SAW, untuk istiqamah (konsisten, teguh, lurus) dalam menjalankan ajaran agama.
Saking beratnya perintah dalam ayat ini, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Uban-ku bertambah karena (surat) Hud dan surat-surat sejenisnya” (HR. Tirmidzi), yang menunjukkan betapa besar tanggung jawab untuk menjaga istiqamah tersebut.
Keteladanan pahlawan sejati juga tercermin dalam kisah hijrah Rasulullah saw. Saat beliau dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur, Allah mengabadikan kalimat penuh kekuatan dalam QS. At-Taubah:40:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Inilah kalimat yang menjadi nyala keberanian yang menggerakkan manusia biasa menjadi luar biasa. Spirit inilah yang juga menghidupkan perjuangan para pahlawan kemerdekaan.
Makna mendalam dari kalimat ini menekankan bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya di setiap kondisi, baik saat suka maupun duka, dan tidak akan membiarkan hamba-Nya dalam kesedihan dan kepedihan yang melebihi kemampuannya.
Dalam konteks kutipan ini terkenal saat Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur dari kejaran kaum musyrikin. Saat Abu Bakar merasa cemas, Nabi menghiburnya dengan kalimat ini, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (La tahzan innallaha ma’ana).
Tujuannya untuk mengingatkan manusia untuk bersabar dan ikhlas dalam menghadapi cobaan, dengan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang dan kebahagiaan akan diberikan.
Oleh itu, dari dua ayat agung ini, kita dapat mengambil lima pelajaran besar untuk mengisi kemerdekaan dan membangun bangsa:
Pertama, Istikamah adalah syarat kemenangan. Istiqamah (keteguhan hati dalam menjalankan ajaran agama) dianggap sebagai prinsip fundamental untuk mencapai “kemenangan” spiritual, yaitu keridaan Allah SWT dan surga. Ayat Al-Qur’an dan hadis sering menekankan pentingnya konsisten dalam ibadah dan perbuatan baik. Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Aritnya: ”Para pahlawan menang karena mereka teguh, bukan karena mereka kuat. Begitu pula hidup kita: hanya dengan istikamah, Allah membuka pintu kemenangan.” (Al-Ahqaf:13).
Makna kandungan Al-Ahqaf ayat 13 adalah janji Allah SWT kepada orang-orang yang mengucapkan “Tuhan kami adalah Allah” dan kemudian tetap berpegang teguh pada keimanan (istiqamah). Mereka tidak akan merasa khawatir akan masa depan dan tidak akan bersedih atas apa yang telah hilang. Ayat ini menekankan bahwa istiqamah adalah buah dari keimanan yang akan membawa ketenangan.
Kedua, Tidak melampaui batas dan menjaga integritas. Prinsip “Tidak melampaui batas dan menjaga integritas” adalah landasan etis yang fundamental dalam berbagai konteks, baik pribadi maupun profesional.
Ini mencakup gagasan tentang: 1) Menghormati Batasan: Mengetahui dan menghormati batasan pribadi, profesional, dan hukum. Ini berarti tidak mengambil lebih dari yang seharusnya, tidak menyalahgunakan kekuasaan, atau melanggar hak orang lain. 2) Kejujuran dan Keadilan: Bertindak secara adil, transparan, dan jujur dalam segala situasi. Menjaga integritas berarti konsisten antara perkataan dan perbuatan, bahkan saat tidak diawasi. 3) Tanggung Jawab: Mempertanggungjawabkan tindakan sendiri dan menghindari perilaku yang dapat merugikan diri sendiri atau orang lain. 4) Moralitas: Mematuhi standar etika dan moral yang tinggi, menolak godaan untuk mengambil jalan pintas atau terlibat dalam perilaku tidak etis. Secara singkat, prinsip ini menekankan pentingnya disiplin diri, kehormatan, dan perilaku etis yang konsisten untuk membangun kepercayaan dan kredibilitas. Allah mengingatkan:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat.” (An-Nahl:90).
Surat ini, memerintahkan untuk berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan memberi bantuan kepada kerabat. Selain itu, ayat ini juga melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan, dengan tujuan agar manusia mengambil pelajaran dan dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Artinya “Para pahlawan mengajarkan bahwa kehormatan lebih tinggi daripada kemenangan yang dicapai dengan cara curang. Integritas adalah pilar kemajuan bangsa.”
Ketiga, Keberanian lahir dari keyakinan bahwa Allah bersama kita. “Keberanian lahir dari keyakinan bahwa Allah bersama kita” adalah sebuah prinsip spiritual dan psikologis yang mendalam. Keyakinan (iman) sering kali menjadi sumber kekuatan terbesar bagi banyak individu, terutama dalam menghadapi kesulitan atau ketakutan. Allah berfirman:
إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ
“Maka apabila engkau telah berketetapan hati, bertawakkallah kepada Allah“. (Ali Imran:160).
Ayat ini mengajarkan untuk membulatkan tekad setelah bermusyawarah, kemudian berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Makna yang terkandung dalam ayat ini pernyataan bahwa “Keberanian para pahlawan adalah buah dari iman. Mereka percaya bahwa perjuangan yang benar tidak akan sia-sia” Secara ringkas, keberanian pahlawan adalah manifestasi dari iman dan tawakal mereka, didorong oleh keyakinan mendalam bahwa pertolongan Allah pasti datang bagi mereka yang berjuang di jalan yang benar, dan perjuangan tersebut tidak akan pernah sia-sia di hadapan-Nya.
Keempat, Tawakal tidak berarti pasif, tetapi bergerak aktif. Usaha tanpa tawakal adalah sombong; tawakal tanpa usaha adalah keliru. Ini secara jelas menunjukkan pentingnya mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum berserah diri kepada Allah. Allah menegaskan:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS, Ali Imran 159).
Rasulullah bersabda: “Ikatlah untamu, lalu bertawakallah.” Jadi, tawakal adalah sikap mental dan spiritual yang melengkapi tindakan fisik, bukan pengganti dari tindakan tersebut. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis populer, Nabi Muhammad SAW bersabda kepada seorang Badui yang tidak mengikat untanya, “Ikatlah (untamu), baru kemudian bertawakal” Ini secara jelas menunjukkan pentingnya mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum berserah diri kepada Allah. Jadi, tawakal adalah sikap mental dan spiritual yang melengkapi tindakan fisik, bukan pengganti dari tindakan tersebut.
Kelima, Mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan amal baik. Pentingnya Pernyataan “Mengisi kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan amal baik” adalah prinsip yang sangat baik dan mendasar. Ini merangkum pandangan bahwa kemerdekaan tidak hanya berarti bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga kebebasan untuk mengembangkan diri secara utuh sebagai individu dan sebagai bangsa. Allah menjanjikan:
يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ
“….Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat….” (Al-Mujadilah:11).
Makna terkandung dalam ayat tersebut adalah keutamaan bagi orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan karena Allah akan meninggikan derajat mereka di dunia dan akhirat. Hal ini mendorong umat muslim untuk bersemangat dalam menuntut ilmu agar dapat memahami keimanan dengan lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.
Kaitan antara iman dan ilmu: Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memperkuat dan memperdalam iman, sehingga orang yang berilmu akan memiliki pemahaman yang lebih kuat dan mendalam tentang agamanya. Pahlawan masa lalu berjuang dengan bambu runcing. Pahlawan masa kini berjuang dengan ilmu, akhlak, dan karya baik. Rasulullah bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Misi utama: Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, menyempurnakan syariat yang datang sebelumnya, dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Inilah harus dijadikan cermin jihad modern: membangun negeri dengan ilmu dan karakter. Untuk hal itu Mari kita menjaga amanah ini dengan menjadi muslim yang jujur, kuat, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat. Kita doakan seluruh pahlawan bangsa yang telah gugur:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ، وَارْحَمْهُمْ، وَعَافِهِمْ، وَاعْفُ عَنْهُمْ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دِيَارَهُمْ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
Untuk itu pentingnya merawat Spirit Keberanian dan Keteladanan Para Pahlawan” Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, dan digolongkan sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung