Transaksi yang Tak akan Merugi

Ilustrasi saat menjalankan ibadah haji, umrah (Getty Images/iStockphoto/Aviator70)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Lumrah bagi calon jemaah haji atau umrah, saat niat akan melaksanakan ibadah ke tanah suci, perbincangan dimulai dengan pertanyaan berapa harga ongkosnya? Kemudian melakukan survei untuk membandingkan harga-harga barang, fasilitas, dan jasa yang terkait dengan kebutuhan dan keinginan dalam berbagai rangkaian ibadah suci.

Kebutuhan dan keinginan calon jemaah ini yang menjadi peluang lahirnya ekosistem unik yang cenderung memiliki motif ekonomi sebagai dampak dari peristiwa haji dan umrah. Unik karena dimungkinkan terjadi transaksi besar dilakukan oleh bangsa Indonesia terjadi di luar negeri. Hal ini boleh jadi ada kaitan dengan harapan dan do’a yang dipanjatkan.

Do’a yang dipopuler dikalangan jemaah haji atau umrah yaitu: “Ya Allah jadikan haji kami mabrur, sa’i kami diterima, dosa kami diampuni, dan jual beli (bisnis) kami tidak merugi”. Padahal, diriwayatkan dari Abdurrahman bin Yazid, ia menceritakan, “Aku pernah pergi bersama Abdullah, lalu ia melempar jumrah dengan tujuh lemparan kerikil, lalu menuruni lembah. Setelah selesai, beliau berdoa, ‘Ya Allah! Jadikanlah ini sebagai haji yang mabrur dan sebab ampunan dosa!’”. Redaksi do’a ini tidak terdapat kalimat meminta agar jual beli (bisnis) tidak merugi.

Namun demikian, do’a-do’a apapun baik untuk kebaikan di akhirat maupun kepentingan duniawi boleh dipanjatkan dalam rangkaian ibadah haji ataupun umrah selama tidak bertentangan dengan syariat. Tetapi, muncul dan populernya tambahan pada do’a haji, umrah ini tampaknya dilatarbelakangi oleh besarnya angka transaksi yang dilakukan oleh jemaah haji atau umrah sejak di tanah air hingga tanah suci. Bahkan ada anekdot bagi jemaah haji, umrah, saat melihat live streaming di masjidil haram jemaah yang thawaf dan sa’i berkurang berarti “thawaf dan sa’i” nya sudah pindah ke mall dan pasar sedang berbelanja.

Dalam al-Quran ada tawaran suatu transaksi bisnis yang memiliki dimensi ruhani dan spiritual yang bermanfaat untuk kehidupan yang visioner berorientasi pada masa depan yang abadi, firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?”, (Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (Q.S. As-Shaf: 10-11).

Prinsip transaksi yang tak akan merugi dan terhindar dari kepedihan, Allah ajarkan pada ayat ini dengan dua langkah. Pertama, menunjukkan beriman kepada Allah dan rasulnya dengan keselarasan antara i’tikad, lisan, dan tindakan sesuai ajaran Allah dan sunnah Rasulullah Saw. Kedua, aksi nyata berupa bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Prof. Dr. Quraish Shihab menafsirkan ayat ini bahwa perniagaan itu berupa sikap teguh kalian dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Transaksi dapat dimulai dengan niat mengharap ridha Allah SWT kemudian berbuat baik dengan bersedekah dan atau melayani orang yang berbuat baik kemudian disampaikan pada penerimanya. Maka, jika belum bisa bersedekah dengan harta, lakukan sedekah dengan jiwa terbuka, melibatkan diri menyalurkan sedekah dari orang-orang baik, dan Allah SWT akan membeli dengan pahala dan ampunan. Wallahu a’lam.

Rohmanur Aziz, Pembimbing Tahliyah Tours & Travel, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *