UINSGD.AC.ID (Humas) — Bulan Oktober di Indonesia menjadi salah satu bulan yang istimewa, karena ada banyak peringatan hari nasional yang mencerminkan kekayaan budaya dan tradisi pada tanggal penting yang dapat diperingati. Seperti hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober, sampai peringatan hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober.
Demikian itu pada bulan sebelumnya bagi bangsa Indonesia selalu diingatkan tentang peristiwa bersejarah terkait dengan G 30 September yang bertentangan dengan nilai agama khususnya Islam.
Bulan Oktober menjadi bulan penuh makna bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi merenungkan bagaimana bangsa kita pernah diuji oleh ideologi komunisme yang menolak keberadaan Tuhan. Namun, dengan izin Allah ﷻ, bangsa Indonesia diselamatkan oleh fondasi iman dan persatuan.
Pancasila hadir sebagai counter ideologi sesat, sebab di dalam sila-silanya terkandung nilai agama dan akhlak. Khususnya sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan bahwa bangsa ini berdiri di atas pondasi iman. Allah ﷻ berfirman:
﴿اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ﴾
“Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”(QS. Al-Baqarah: 257)
Dari peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini, paling tidak ada lima nilai edukasi penting yang dapat kita renungkan: Pertama, Nilai Ketauhidan. Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan utama bangsa Indonesia. Bagi umat Islam, ini selaras dengan akidah tauhid, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah ﷻ satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
Tanpa iman kepada Allah, manusia mudah terseret pada ideologi yang menafikan Tuhan, seperti komunisme dan materialisme. Oleh karena itu, memperingati Hari Kesaktian Pancasila harus menjadi pengingat bahwa benteng pertama dari segala fitnah adalah ketauhidan yang kokoh. Allah ﷻ berfirman:
﴿قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۭ﴾
“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 1–4)
Dengan tauhid yang lurus, umat akan terjaga dari penyimpangan ideologi dan tetap berada di jalan yang diridhai Allah ﷻ.
Kedua, Nilai Persatuan. Sejarah kelam bangsa ini mengajarkan bahwa perpecahan membuka celah bagi musuh untuk masuk. Pancasila mengajarkan persatuan bangsa, dan Islam pun menegaskan pentingnya ukhuwah: ukhuwah Islamiyah (persaudaraan seiman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Allah ﷻ berfirman:
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103).
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Karena itu, menjaga persatuan adalah kewajiban. Umat Islam harus menjadi teladan dalam menyatukan, bukan memecah belah. Dengan persatuan, bangsa ini akan kuat menghadapi ancaman ideologi yang ingin merusak tatanan negara.
Ketiga, Nilai Kewaspadaan Ideologis. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap ideologi sesat. Dulu, komunisme masuk melalui propaganda dan indoktrinasi; hari ini ancaman muncul melalui arus digital, hoaks, dan paham radikal yang menggerus nilai iman. Umat Islam harus kritis, cerdas, dan berpegang teguh pada Al-Qur’an agar tidak mudah terjebak dalam tipu daya zaman. Allah ﷻ berfirman:
﴿يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًۭا﴾
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Anfal: 29)
Kewaspadaan ideologis adalah bagian dari ketakwaan. Dengan iman dan ilmu, umat mampu memilah mana kebenaran dan mana kesesatan.
Keempat, Pengorbanan. Bangsa ini merdeka dan tetap berdiri tegak karena adanya pengorbanan para pahlawan. Mereka rela mengorbankan jiwa, harta, dan tenaga demi tegaknya kebenaran. Generasi hari ini juga dituntut untuk berkorban, bukan lagi dengan senjata, tetapi dengan ilmu, kerja keras, dan ketulusan dalam menjaga iman serta membangun bangsa. Allah ﷻ berfirman:
﴿إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ﴾
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Pengorbanan hari ini adalah bekerja ikhlas, mengabdi, dan berkontribusi untuk umat dan bangsa dengan niat ibadah kepada Allah.
Kelima, Nilai Pendidikan Moral. Pancasila bukan hanya teks, tetapi harus menjadi perilaku hidup sehari-hari. Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sejalan dengan akhlak mulia yang diajarkan Islam. Untuk itu, generasi muda harus dibekali dengan pendidikan moral agar tumbuh menjadi pribadi beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad).
Allah ﷻ juga menegaskan:
﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾
“Sungguh, pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Maka, Pancasila akan benar-benar hidup apabila dipraktikkan sebagai etika sosial yang islami, berakar pada iman, dan diwujudkan dalam akhlak sehari-hari. Dengan pendidikan moral, bangsa ini akan memiliki generasi yang tangguh secara spiritual dan intelektual.
Dari lima nilai edukasi yang kita renungkan, jelaslah bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi sumber hikmah bagi umat Islam dan bangsa Indonesia. Nilai ketauhidan mengingatkan kita bahwa benteng pertama dari segala bentuk penyimpangan adalah iman kepada Allah ﷻ.
Tanpa tauhid yang lurus, manusia akan mudah terseret dalam ideologi sesat yang menafikan Tuhan. Nilai persatuan menegaskan bahwa bangsa ini tidak akan tegak tanpa ukhuwah.
Islam mengajarkan kita agar berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Persatuan adalah kunci kekuatan bangsa, sementara perpecahan adalah pintu kelemahan yang bisa dimanfaatkan musuh. Nilai kewaspadaan ideologis mengingatkan bahwa musuh tidak selalu datang dengan senjata, tetapi juga melalui pemikiran, informasi, dan budaya.
Karena itu, umat Islam harus cerdas, kritis, dan berpegang pada Al-Qur’an serta Sunnah, agar mampu membedakan yang haq dan batil. Nilai pengorbanan memberi teladan bahwa bangsa ini berdiri karena adanya generasi yang rela berjuang dan berkorban. Maka generasi hari ini harus berkorban dengan ilmu, kerja keras, dan amal saleh demi menjaga agama dan negara.
Nilai pendidikan moral menegaskan pentingnya akhlak dalam kehidupan berbangsa. Pancasila akan hidup bila dijadikan etika sosial yang islami, membentuk generasi yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, memperingati Hari Kesaktian Pancasila berarti memperkuat iman, menjaga persatuan, meningkatkan kewaspadaan, meneladani pengorbanan, dan membangun moral bangsa. Inilah fondasi yang akan menjaga Indonesia tetap kokoh, damai, dan dirahmati Allah SWT.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung