UINSGD.AC.ID (Humas) — Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ merupakan tradisi yang berkembang luas di dunia Islam. Namun, esensi dari peringatan tersebut bukanlah sekadar seremonial, melainkan internalisasi nilai-nilai keteladanan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan nyata. Tulisan ini membahas praktik pengamalan Maulid Nabi yang dapat diwujudkan dalam bentuk kunjungan ke ulama, kepedulian terhadap yatim, mudzakarah amal, i‘tikaf di masjid, hingga penghidupan shalat malam. Pendekatan ini menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi memiliki dimensi spiritual, sosial, dan edukatif yang relevan bagi pembinaan umat.
Maulid Nabi ﷺ dirayakan umat Islam sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ. Allah berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiyā’: 107).
Ayat ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi merupakan anugerah besar bagi umat manusia. Oleh karena itu, memperingati Maulid seyogyanya diarahkan pada usaha meneladani rahmat Nabi melalui amal nyata.
Metode Pengamalan Maulid Nabi
Kunjungan ke Ulama
Tradisi bersilaturahim kepada ulama mencerminkan penghormatan kepada pewaris Nabi ﷺ. Melalui nasihat dan bimbingan mereka, umat memperoleh petunjuk dalam menjaga kemurnian agama.
Mengunjungi dan Menyantuni Anak Yatim
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini” (HR. Bukhari). Kepedulian sosial terhadap yatim menegaskan dimensi kasih sayang Nabi dalam kehidupan nyata.
Mudzakarah Amal
Majelis ilmu dan diskusi amal kebaikan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, menguatkan ukhuwah, serta memperkokoh pemahaman agama di tengah masyarakat.
I‘tikaf di Masjid
Aktivitas i‘tikaf menjadi sarana membersihkan jiwa, memperbanyak ibadah, dan menumbuhkan spiritualitas, sebagaimana Nabi ﷺ melakukannya di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.
Menghidupkan Shalat Malam
Shalat malam adalah ibadah utama Rasulullah ﷺ. Firman Allah:
وَمِنَ ٱلَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةًۭ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًۭا مَّحْمُودًۭا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS. Al-Isrā’: 79).
Dengan qiyamul lail, umat meneladani kedekatan Nabi dengan Allah dan memperkuat dimensi spiritual pribadi.
Inspirasi Mauludan dari Tradisi Sunda
Dalam tradisi masyarakat Sunda, peringatan Maulid Nabi ﷺ dikenal dengan sebutan “Muludan”. Acara ini bukan hanya seremonial, tetapi juga sarana mempererat ukhuwah dan menumbuhkan kepedulian sosial.
Salah satu kisah inspiratif datang dari Kampung Naga, Tasikmalaya. Pada setiap bulan Rabi‘ul Awwal, masyarakat setempat mengadakan muludan sederhana. Mereka berkumpul di masjid, membaca shalawat, lalu mengadakan “ngaliwet bareng” (makan bersama dari satu wadah). Makanan yang dibawa berasal dari rumah masing-masing, ada yang membawa nasi, sayur, atau lauk seadanya. Semua dikumpulkan tanpa melihat siapa kaya atau miskin, lalu dimakan bersama.
Di sela acara, para orang tua menceritakan kisah perjuangan Nabi ﷺ dan menasihati anak-anak agar rajin shalat, menghormati orang tua, dan peduli kepada sesama. Setelah itu, sebagian jamaah berangkat mengunjungi pesantren terdekat untuk bersilaturahmi kepada kiai, sementara yang lain menyisihkan rezekinya untuk diberikan kepada anak yatim.
Nilai yang bisa dipetik dari tradisi tersebut adalah Kesederhanaan, mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi tidak harus dengan kemewahan, tetapi dengan keikhlasan amal. Kebersamaan, simbol ukhuwah yang diwariskan Nabi ﷺ. Kepedulian Sosial, menyantuni anak yatim dan saling berbagi rezeki. Pewarisan Nilai, generasi muda dikenalkan kisah Nabi sejak dini melalui kisah lisan para tetua.
Kisah ini menunjukkan bagaimana masyarakat Sunda mengamalkan Maulid Nabi dengan nuansa spiritual, sosial, dan edukatif, sesuai dengan semangat Islam rahmatan lil-‘alamin.
*Kesimpulan*
Peringatan Maulid Nabi ﷺ diarahkan pada aktualisasi nilai keteladanan Rasulullah. Kunjungan ke ulama, santunan yatim, mudzakarah amal, i‘tikaf, dan penghidupan shalat malam merupakan langkah konkret untuk menjadikan Maulid lebih bermakna. Tradisi lokal seperti muludan di masyarakat Sunda memperlihatkan bahwa kecintaan kepada Nabi dapat diwujudkan dengan sederhana, penuh kebersamaan, dan sarat dengan nilai edukatif.
S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung