Pesan Maulid Nabi, 6 Prinsip Bermedia Sosial di Tengah Ujian

UINSGD.AC.ID (Humas) — Hari-hari ini bangsa kita dikejutkan dengan minggu yang mencekam. Kericuhan di berbagai daerah akibat arogansi sebagian wakil rakyat, disulut oleh provokasi media sosial, bahkan menimbulkan korban jiwa. Inilah bukti bahwa dunia digital yang mestinya jadi sarana silaturahmi, malah bisa jadi pemicu fitnah dan perpecahan.

Dalam momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, mari kita renungkan kembali bahwa misi kerasulan beliau adalah li utammima makarimal akhlaq menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak Nabi bersifat universal, tidak terikat ruang dan waktu. Meski beliau hidup 14 abad lalu, ajarannya relevan untuk kehidupan kita di era digital. Sebagian orang bertanya: “Bukankah Maulid itu bid’ah? Bukankah media sosial juga tidak ada di zaman Nabi?” Jawabnya sederhana: kita tinggalkan perdebatan, mari fokus pada inti ajaran meneladani akhlak Nabi, termasuk dalam bermedia sosial.

Bila kita dalami, Ada beberapa Pembelajaran dari akhlak Rasulullah yang sangat relevan untuk kehidupan kita di dunia maya:

Pertama, Menjaga Ucapan dan Tulisan.

Menjaga ucapan dan tulisan adalah tindakan penting untuk menghindari dampak negatif, seperti menyakiti orang lain, menciptakan konflik, dan menimbulkan penyesalan, karena lisan dan tulisan dapat membawa kebaikan atau keburukan bagi diri sendiri dan orang lain. Di media sosial, keselamatan netizen ditentukan oleh jarinya. Kalau tidak bisa posting kebaikan, lebih baik diam. Ralullas bersabda dalan Hadis Nya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018, Muslim no. 47).

Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga lisan dan tulisan sebagai cermin keimanan. Ucapan yang baik adalah ibadah, sementara ucapan yang buruk bisa menyeret pada dosa. Di era digital, postingan di media sosial hakikatnya sama dengan ucapan lisan. Sekali diunggah, sulit ditarik kembali, bahkan bisa menimbulkan dampak besar bagi orang lain. Karena itu, seorang muslim harus menimbang setiap kata, komentar, atau statusnya. Jika membawa manfaat, silakan ditulis atau disebarkan, namun bila hanya menimbulkan keburukan, fitnah, atau provokasi, maka diam adalah pilihan terbaik. Diam bukan kelemahan, melainkan bentuk kecerdasan iman dan etika. Relevansi: di medsos, keselamatan netizen ditentukan oleh jarinya. Kalau tidak bisa posting kebaikan, lebih baik diam.

Kedua, Menghindari Ghibah dan Fitnah.

Untuk menghindari ghibah dan fitnah, kendalikan lisan dengan berpikir sebelum berbicara, menjauhi lingkungan yang suka bergosip, dan alihkan pembicaraan ke hal positif. Tingkatkan kesadaran diri dengan merenungi kekurangan sendiri dan berempatilah dengan orang lain. Perbanyak istighfar dan berdoa memohon ampun kepada Allah SWT agar terhindar dari dosa lisan yang sangat tercela. Dalam hadis-Nya Raulullah SAW., bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْغِيبَةُ؟ قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ»، قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

Artinya: “Engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci. Jika benar adanya, maka engkau telah berbuat ghibah. Jika tidak benar, maka engkau telah berbuat fitnah (dusta).” (HR. Abu Dawud no. 4874).

Hadis ini menjelaskan bahwa ghibah dan fitnah sama-sama tercela, bahkan merusak ukhuwah. Menyebut aib orang lain, meskipun benar, tetap terlarang karena melukai hati. Apalagi jika yang diucapkan tidak benar, itu menjadi fitnah yang dosanya lebih besar. Di media sosial, aktivitas ghibah mudah terjadi melalui komentar, status, atau unggahan yang merendahkan orang lain. Umat Islam harus menahan diri agar tidak menjadikan medsos sebagai tempat mengumbar aib atau menebar fitnah. Menjaga lisan di dunia nyata dan dunia maya sama pentingnya demi ketenangan hidup. Ayat Al-Qur’an tentang ghibah:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ

Artinya: “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Pembelajaran QS. Al-Hujurat: 12: Ayat ini menggambarkan ghibah dengan perumpamaan menjijikkan, yaitu memakan daging bangkai saudara sendiri. Analogi tersebut menegaskan betapa keji perbuatan ghibah. Dalam konteks media sosial, ghibah hadir dalam bentuk komentar negatif, konten gosip, hingga meme yang merendahkan orang lain. Allah memperingatkan agar setiap muslim menjauhinya, karena ghibah tidak hanya mencoreng nama baik orang lain, tapi juga menodai hati pelakunya. Ayat ini menjadi alarm spiritual agar kita menahan jari dari mengetikkan hal buruk tentang orang lain. Ayat tentang fitnah:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Artinya: “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Pembelajaran QS. Al-Baqarah: 191: Ayat ini menekankan bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Fitnah bisa menghancurkan reputasi, merusak keluarga, bahkan memicu konflik sosial. Di media sosial, fitnah mudah viral dan dampaknya luas. Sekali tuduhan menyebar, meskipun terbantahkan, jejaknya sulit hilang. Karena itu, setiap muslim dituntut waspada dalam berbicara, menulis, dan membagikan informasi. Jangan sampai jari kita menjadi sebab rusaknya martabat orang lain. Menjauhi fitnah adalah bagian dari menjaga keselamatan diri, masyarakat, dan agama.

Ketiga, Menjauhi Hoaks dan Menjaga Kejujuran.

Menjauhi Hoaks dan Menjaga Kejujuran, Jika tidak ada kehati-hatian, netizen pun dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah. Dalam hadisnya Rasilullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ… وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ»

Artinya: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga… jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kefajiran, dan kefajiran membawa ke neraka.” (HR. Muslim no. 2607).

Pembelajaran dari hadis ini, menekankan bahwa kejujuran adalah pintu menuju surga, sedangkan dusta membawa ke neraka. Dalam konteks media sosial, hoaks adalah bentuk kedustaan modern yang sangat berbahaya. Banyak orang membagikan berita tanpa verifikasi, padahal itu bisa merugikan orang lain, menimbulkan keresahan, bahkan mengganggu stabilitas bangsa. Seorang muslim harus menjadikan kejujuran sebagai standar utama dalam bermedsos: tidak menyebar berita tanpa sumber jelas, tidak membuat informasi palsu demi popularitas, dan tidak mengorbankan kebenaran demi sensasi. Kejujuran adalah identitas seorang mukmin sejati. “Hoaks di medsos termasuk bagian dari kedustaan.”

Keempat, Menghargai Privasi Orang Lain.

Menghargai privasi orang lain berarti menghormati ruang pribadi dan informasi mereka dengan meminta izin sebelum menggunakan atau membagikan sesuatu, tidak membongkar rahasia, menjaga kerahasiaan informasi yang dipercayakan, menghormati batasan dan waktu mereka, serta tidak terlalu ingin tahu (kepo) tentang urusan personal mereka, yang semuanya penting untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan saling percaya. Untuk hal itu Rasulullah SAW, bersabda dalam Hadis nya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ:
«لَوْ أَنَّ امْرَأً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ، فَحَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ، فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ»

Artinya: “Jika seseorang mengintip rumahmu tanpa izin, lalu engkau lempar dengan kerikil hingga matanya rusak, maka engkau tidak berdosa.” (HR. Bukhari no. 6902, Muslim no. 2158).

Pembelajaran dari Hadis ini, menunjukkan betapa pentingnya menjaga privasi. Bahkan mengintip rumah orang lain tanpa izin dianggap pelanggaran berat. Dalam konteks media sosial, “mengintip” bisa berupa stalking berlebihan, menyebarkan foto pribadi orang tanpa izin, atau membongkar rahasia mereka. Semua itu merupakan pelanggaran etika dan syariat. Islam melindungi kehormatan pribadi setiap muslim. Karena itu, jangan jadikan medsos sebagai sarana untuk kepo atau mengorek aib orang lain. Menghormati privasi adalah bagian dari menjaga kehormatan bersama. Singkatnya “Di medsos, jangan kepo urusan pribadi orang lain.”

Kelima, Tidak Menyebarkan Aib Orang Lain.

Tidak mengumbar aib orang lain berarti menjaga dan tidak menyebarkan keburukan, cacat, atau rahasia seseorang. Dalam Islam, tindakan ini sangat dianjurkan sebagai bentuk akhlak mulia dan kasih sayang, dan ada ancaman besar bagi mereka yang melakukannya. Allah akan menutupi aib orang yang menutupi aib saudaranya, baik di dunia maupun di akhirat. Hadis:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ»

Artinya: “Berbahagialah orang yang disibukkan dengan aibnya sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (HR. Al-Bazzar, Al-Mu’jam Al-Awsath Thabrani).
Pembelajaran, dari hadis ini menegaskan bahwa orang terbaik adalah yang sibuk memperbaiki dirinya, bukan mencari-cari kesalahan orang lain. Menyebarkan aib hanya menambah dosa, merusak ukhuwah, dan menimbulkan permusuhan. Di media sosial, hal ini sering dilakukan dengan membongkar rahasia pribadi, menyebar foto memalukan, atau membuka kesalahan orang di masa lalu. Islam mengajarkan bahwa menutup aib orang lain akan membuat Allah menutupi aib kita di dunia dan akhirat. Maka, gunakan media sosial untuk muhasabah diri, bukan sebagai panggung membuka kekurangan orang lain. Untuk hal itu “Gunakan media sosial untuk muhasabah, bukan membuka aib.”

Keenam, Menyebarkan Kebaikan.

Menyebarkan kebaikan adalah perbuatan mulia yang bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, melalui tindakan sederhana seperti memberi senyum atau berbagi makanan, hingga tindakan yang lebih besar seperti donasi dan menjadi relawan. Perbuatan baik ini tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima, tetapi juga berdampak positif bagi diri sendiri dan dapat menginspirasi orang lain untuk ikut berbuat baik, menciptakan efek domino kebaikan dalam masyarak Hadis:

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ الْبَدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ»

Artinya: “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Pembelajaran dari Hadis ini, memberi motivasi agar setiap muslim aktif menyebarkan kebaikan. Menunjukkan jalan kebaikan, meski sederhana, mendatangkan pahala besar. Dalam konteks media sosial, setiap postingan positif bisa menjadi ladang pahala: berbagi ilmu, mengingatkan pada kebaikan, memberi semangat, atau mengajak pada amal shalih. Bahkan sekadar membagikan konten inspiratif atau doa kebaikan bisa bernilai ibadah. Media sosial yang sering dianggap sumber masalah bisa berubah menjadi sarana dakwah bila digunakan untuk menyebarkan kebaikan. Inilah peluang amal jariyah di era digital.

Jika enam prinsip akhlak ini kita pegang teguh, maka media sosial akan berubah dari ladang dosa menjadi ladang pahala. Menjaga ucapan dan tulisan membuat kita lebih berhati-hati. Menjauhi ghibah dan fitnah menjaga ukhuwah. Menolak hoaks dan memegang kejujuran menjaga stabilitas umat. Menghargai privasi dan menutup aib orang lain melahirkan rasa aman. Dan akhirnya, menyebarkan kebaikan menjadikan media sosial sebagai sarana dakwah dan amal jariyah. Dengan akhlak digital ini, insyaAllah medsos tidak lagi menjadi sumber malapetaka, tetapi menjadi jalan menuju ridha Allah dan kebahagiaan akhirat.

Mari kita jadikan momentum Maulid Nabi ini sebagai pengingat, bahwa kecintaan kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan meneladani akhlaknya. Baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Bangunan fisik bisa roboh, ekonomi bisa goyah, tapi jika akhlak bangsa ini kuat, insyaAllah Indonesia tetap kokoh. Jangan biarkan minggu-minggu mencekam ini terulang karena kita lengah dalam amanah digital.

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *