Mensyukuri Kemerdekaan Melalui Ibadah Haji

UINSGD.AC.ID (Humas) — Ibadah haji tentu bukan sekedar ibadah ritual, tetapi perjalanan eksistensial yang kaya dengan nilai-nilai filosofis dan intelektual. Karena itu, dalam konteks kekitaan dan keindonesiaan, menjadi sangat relevan dan penting untuk merenungkan bagaimana nilai-nilai ibadah haji dapat menjadi inspirasi untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan.

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan, haji adalah perjalanan jiwa menuju penyucian diri dan pengakuan atas kebesaran Allah. Sang Hujjatul Islam menyebut, haji sebagai “puncak ibadah simbolik” yang menempatkan manusia dalam kesadaran akan kefanaan dunia. Sementara Ibnu Khaldun, dalam magnum opusnya Muqaddimah, memahami haji sebagai manifestasi solidaritas umat dan penghapus sekat-sekat sosial. Haji menjadi sarana pembersihan jiwa dari ego dan kebanggaan duniawi.

Dengan mengikuti simpulan para ilmuwan tadi, ibadah haji bukan hanya sekedar peristiwa fisik, tetapi juga pengalaman spiritual yang menyadarkan manusia pada esensi kehidupan yakni ketundukan total kepada Sang Pencipta dan tanggung jawab sosial terhadap sesama.

Dalam konteks filosofis, kemerdekaan sendiri sering dikaitkan dengan kebebasan untuk merealisasikan potensi kemanusiaan. Dalam The Social Contract, Jean-Jacques Rousseau menyatakan, bahwa manusia dilahirkan bebas, dan kebebasan sejati adalah hidup sesuai dengan kehendak moral dan akal sehat.

Sementara itu, Bung Karno, dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi, memandang kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju keadilan sosial dan kemandirian bangsa. Pada esensinya kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan juga kebebasan untuk membangun bangsa yang bermartabat, adil, dan sejahtera.

Dalam konteks mensyukuri nikmat kemerdekaan, setidaknya ada tiga nilai dari kearifan ibadah haji yang memiliki korelasi dengan spirit kemerdekaan. Pertama, nilai tauhid dan ketundukan. Ibadah haji menegaskan prinsip tauhid dalam mengesakan Allah. Dalam konteks kebangsaan, tauhid melahirkan prinsip keadilan, anti-penjajahan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kedua, nilai kesetaraan dan solidaritas. Dalam haji, semua jamaah -tanpa memandang status sosial- memakai ihram yang sama. Ini mencerminkan nilai egalitarian yang relevan dalam membangun masyarakat yang adil dan merdeka.

Ketiga, nilai hijrah dan perjuangan. Perjalanan haji adalah simbol hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Ini sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan melalui pengorbanan dan semangat kolektif.

Sehubungan dengan itu, mensyukuri kemerdekaan tentu bukan hanya dengan upacara seremonial, tapi dengan mengamalkan nilai-nilai luhur yang selaras dengan ibadah haji. Hal dimaksud bisa dilakukan dengan meneguhkan spiritualitas dan moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat Jawa Barat yang dikenal religius dapat menjadikan ibadah haji sebagai inspirasi untuk membangun budaya politik dan sosial yang bersih dan bermoral.

Nilai luhur lainnya yang harus dipraktikan sebagai ekspresi syukur atas kemerdekaan adalah menjaga persatuan dan kesetaraan. Seperti jamaah haji yang bersatu dalam ibadah, masyarakat pun harus bersatu menjaga keutuhan NKRI, menjunjung toleransi, dan menolak segala bentuk diskriminasi. Menyertai hal itu, ibadah haji mengajarkan kesungguhan dan pengorbanan. Maka dalam konteks mensyukuri nikmat kemerdekaan, ini bisa diwujudkan dengan berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah, dari desa hingga kota, demi kesejahteraan bersama.

Karena nikmat kemerdekaan bukan hanya anugerah terindah tetapi juga amanah yang harus dijaga dengan iman, ilmu dan amal. Maka nilai-nilai filosofis dalam ibadah haji bisa dijadikan fondasi dalam praktik mensyukuri nikmat kemerdekaan. Semoga.

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *