Peaceful Muharam 1447 H

Refleksi Tahun Baru Islam untuk Generasi Muda Hijrah Menuju Jiwa yang Tenang dan Langkah yang Terarah

Hijrah: Bukan Hanya Perpindahan, Tapi Perubahan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Tahun Baru Islam bukan sekadar angka baru dalam kalender hijriyah. Ia adalah panggilan batin yang terus hidup sejak 1 Muharam 1 H, ketika sejarah mencatat jejak hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar melangkah menjauh dari zona tidak nyaman, melainkan menjemput takdir peradaban.

Dalam kesunyian malam Madinah dan langkah berat para sahabat di padang tandus, kita menemukan pesan yang lebih dalam dari sekadar sejarah. Hijrah adalah keputusan sadar untuk berubah, baik secara spiritual, sosial, dan intelektual. Dan bagi generasi muda hari ini, pertanyaan besar yang perlu diajukan bukanlah “apa yang sudah kudapatkan dari dunia?” tetapi:
“apa yang sudah kuhijrahkan dalam diriku agar dunia ini berubah lebih baik?”

Refleksi: Apakah Kita Masih di Makkah?

Makkah dalam konteks hijrah bukan hanya nama kota, tapi simbol keterkungkungan. Ia bisa menjadi simbol dari rasa takut, kebiasaan buruk, ego, atau kemalasan yang menahan seseorang untuk tumbuh, dan zona nyaman yang mengekang potensi.

Sementara Madinah adalah arah sebuah tujuan hidup, kemerdekaan berpikir, tempat pertumbuhan, tantangan, dan kebebasan berpikir, dan keberanian menata masa depan.

Bagi generasi muda, terutama yang hidup di zaman yang penuh distraksi ini, generasi muda yang berada di tengah arus digital yang deras, tantangan mental yang kompleks, dan identitas yang sering kabur, maka hijrah bukan berarti berpindah tempat. Tapi berpindah sikap, nilai, dan arah hidup.

Mengubah ketergantungan pada validasi media sosial menjadi keteguhan prinsip. Mengubah kebiasaan menunda menjadi ketegasan memilih. Mengubah keluh menjadi tekad. Hijrah harus menjadi perlawanan senyap terhadap segala yang membuat kita diam dan nyaman di tempat yang salah.

Hijrah dapat dimaknai sebagai:

– Hijrah dari sekadar eksistensi digital menuju makna hidup yang nyata.
– Hijrah dari ketergantungan pada pujian menuju kepercayaan diri yang jujur.
– Hijrah dari pasif menunggu perubahan, menjadi agen perubahan.

Tahun Baru Islam: Makna Bagi Jiwa dan Peradaban

Tahun Baru Islam hadir bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dimaknai. Ia bukan selebrasi, tapi deklarasi. Ia bukan pesta, tapi jeda.

Jeda untuk bertanya:
Apakah aku masih sama seperti setahun lalu?
Apakah cita-citaku makin mendekat, atau semakin kabur?
Apakah aku hidup sebagai manusia yang menebar manfaat, atau hanya menjadi penonton perubahan?

Dalam filsafat Islam, waktu bukan sekadar detik yang berlalu, tapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Kalender hijriyah bukan sekadar hitungan tahun, tapi pengingat bahwa sejarah besar Islam dimulai dari semangat keberanian untuk berubah.

Makna Tahun Baru Islam bagi Generasi Muda

1 Muharam adalah panggilan reflektif untuk generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton sejarah. Di tengah hiruk-pikuk zaman, generasi muda ditantang untuk:
Menemukan arah hidup (purpose) , menjadi pemuda bukan hanya soal usia, tapi tentang kesadaran memilih jalan hidup yang bermakna.

Menghidupkan kembali semangat spiritualitas yang damai, hijrah bukan ekstremisme. Ia adalah kedewasaan spiritual, ketenangan dalam keyakinan, dan keberanian berpikir jernih di tengah kekacauan.

Mengintegrasikan nilai Islam dalam karya nyata, tidak cukup hanya menjadi “baik”, tapi menjadi “berdampak”. Ilmu, bisnis, kreativitas, dan teknologi semua bisa menjadi jalan hijrah yang positif.

Hijrah Bagi Generasi Muda; 5 Pesan Spiritual
Sejatinya generasi saat ini dapat menghidupkan Kembali pesan spiritual dengan makna mendalam dan substansial, sama seperti kita merayakan tahun baru lainnya, generasi muda kita dapat memahami betul arti hijrah dalam bulan muharam sebagai tanda tahun baru Islam dalam bentuk pesan spiritual, namun modern dan kekinian, :
1. Berhijrahlah dari ketidaktahuan menuju ilmu : Jadilah generasi yang mencintai ilmu bukan hanya untuk gelar, tapi untuk perubahan.
2. Berhijrahlah dari pasrah menuju ikhtiar : Jangan menunggu keajaiban, jadilah bagian dari keajaiban itu sendiri.
3. Berhijrahlah dari eksistensi semu menuju jati diri : Tak perlu menjadi viral, cukup menjadi nyata. Dunia tak butuh orang yang dikenal, tapi yang berdampak.
4. Berhijrahlah dari keluh kesah menuju syukur dan kerja keras: Generasi tangguh lahir bukan dari kenyamanan, tapi dari kesulitan yang dipeluk dengan tekad.
5. Berhijrahlah dari dunia yang terlalu bising menuju keheningan batin : Di tengah riuhnya notifikasi, kamu tetap perlu ruang sunyi untuk mendengar suara jiwamu sendiri.

Kita Adalah Madinah Baru

Tahun Baru Islam 1447 H adalah momentum untuk menyadari bahwa kita bukan pewaris masa lalu semata, tapi arsitek masa depan. Kita tidak hanya hidup dalam sejarah, kita sedang menulisnya. Madinah dibangun oleh mereka yang berani meninggalkan masa lalu dan membangun dunia baru. Dan dunia baru itu, sekarang, ada di tangan generasi ini, generasi yang lebih digital, lebih terbuka, tapi juga lebih rentan kehilangan arah. Maka hijrah adalah kompas moral kita. Ia mengajarkan bahwa nilai tidak pernah usang, bahwa iman harus terus bergerak, bahwa masa depan tidak lahir dari nostalgia, tapi dari visi.

Harapan Baru di Tahun Baru
Tahun baru hijriyah adalah saat terbaik untuk membangun harapan baru:
Harapan bahwa hidup ini lebih dari sekadar mencari pengakuan, tetapi tentang memberi manfaat.
Harapan bahwa walau kita kecil di tengah dunia yang besar, kita tetap bisa jadi cahaya.
Harapan bahwa masa lalu tak perlu disesali, tapi cukup dijadikan pelajaran.
Harapan bahwa Islam bukan warisan yang diam, tapi ajaran yang terus hidup dalam setiap tindakan.

Pesan Hijrah untuk Generasi Muda
Hijrah dari kegelisahan menuju kedamaian hati : Latihlah batin untuk tenang. Peaceful Muharam bukan sekadar tema, tapi kebutuhan jiwa.

Hijrah dari budaya instan menuju proses yang berkualitas: Hasil yang besar lahir dari proses yang panjang. Tak perlu cepat, asal terus.

Hijrah dari sekadar bicara menjadi pelaku perubahan : Dunia tidak berubah oleh keluhan, tapi oleh tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Hijrah dari kesibukan tanpa arah menjadi kesibukan yang bernilai : Sibuklah karena tujuan, bukan karena takut tertinggal.

Hijrah dari perpecahan menuju kolaborasi dan kasih sayang: Madinah dibangun dengan ukhuwah, bukan ego. Mari jadi pemuda yang mempersatukan, bukan memecah.

Jangan Takut Hijrah

Hijrah tidak harus besar. Tidak harus tampak. Tapi jika ia lahir dari niat yang bersih, ia akan mengubah dunia dalam diam. Hijrah bukan hanya milik Nabi. Ia milik siapa pun yang siap tumbuh. Milik siapa pun yang masih ingin menjadi lebih baik. Termasuk kamu. Termasuk aku. Termasuk kita semua.

Penutup: Peaceful Muharam 1447 H

Tahun Baru Islam kali ini mari kita rayakan dengan keheningan batin, kejernihan pikiran, dan ketegasan arah. Jauhi distraksi, dalami esensi diri.

Peaceful Muharam adalah tentang kedamaian hati, bukan kemewahan pesta.
Peaceful Muharam adalah tentang refleksi jujur, bukan sekadar tradisi.
Peaceful Muharam adalah tentang kamu dan hijrahmu.
Tentang perjalanan Panjang satu tahun kedepan, tentang nilai kehidupan.

Selamat Tahun Baru Islam 1447 H.
Semoga ini bukan sekadar tahun yang baru, tapi juga kita yang baru.
Wallahu’a’lam

Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *