Hijrah, Pelajaran tentang Kemanusiaan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Seperti biasa, tahun baru Hijriah tak datang dengan dentuman petasan. Ia tidak menyeruak ke langit malam dengan cahaya kembang api atau gemuruh pesta. Persis, ia datang seperti embun di pagi hari: jernih. Di balik ketenangannya, ia menyimpan gema yang tak riuh, namun menusuk, bahwa waktu bukan sekadar angka yang lewat, melainkan napas yang harus kita sadari keberadaannya.

Hijrah, yang jadi penanda mula dalam kalender, lebih dari sekadar sejarah geografis. Ia adalah jejak jiwa yang menolak tunduk pada ketakutan. Ia lahir dari luka yang dijaga, dari iman yang diuji, dan dari keberanian untuk mencari ruang bagi keberagaman bisa bernafas. Madinah, dalam konteks itu, bukan hanya tempat, tapi harapan tentang dunia yang memungkinkan setiap manusia bertemu sebagai saudara, bukan sebagai lawan, pun ancaman.

Di zaman ketika percakapan berubah jadi perdebatan, ketika label lebih penting dari makna, tahun baru Hijriah datang sebagai jeda eksistensial. Ia seperti ruang hening dalam batin kita, yang selama ini riuh oleh penghakiman dan kebanggaan kosong. Ia mengajak kita bertanya: sudah sejauh mana kita menjadikan agama sebagai laku mencintai, bukan sekadar klaim membenarkan?

Hijrah adalah pelajaran tentang kemanusiaan: bahwa iman yang otentik tak pernah tumbuh di tanah kebencian. Ia tumbuh di tanah pengertian, yang disirami oleh kerendahan hati untuk menerima perbedaan sebagai bagian dari ciptaan. Bahwa mencintai yang tidak sama bukan kelemahan prinsip, tapi bentuk tertinggi dari kesejatian spiritual.

Toleransi bukan kelemahan, tapi keberanian untuk hidup bersama dalam ketidaksepahaman. Mencintai perbedaan bukan sikap pasif, tapi keputusan aktif untuk percaya bahwa warna-warni kehidupan lebih indah daripada satu warna yang tunggal.

Biar saja, tahun baru ini pun tak dirayakan dengan gegap gempita. Cukuplah dengan niat yang diperbarui, dengan mata yang lebih jernih melihat sesama, dan hati yang lapang menampung segala kemungkinan hidup bersama. Sebab, mungkin inilah makna hijrah hari ini: “beranjak dari penghakiman menuju pengasuhan; dari merasa benar sendiri menuju merawat kehidupan bersama”.

Radea Juli A. Hambali (Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *