Merajut Kemuliaan Cinta dalam Kurban 

UINSGD.AC.ID (Humas)

إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ

Artinya: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.” (QS. Al-Qalam. Ayat 34).

 

Cinta adalah perasaan kasih sayang yang mengikat kita dalam ikatan kasih sayang dan ketundukan total kepada yang dicintai. Di momen hari raya Idul Adha ini, izinkan Khotib mengajak, mari kita renungkan makna cinta sejati dan bagaimana kita dapat mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Pelajaran berharga dari “Merajut Cinta Dalam Kurban”.

 

Sebagai Muslim yang taat, kita berusaha menjalankan perintah Allah meskipun penuh dengan cobaan. Dan kita bisa belajar dari kisah Kecintaan Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya, Nabi Isma’il, betapa mereka telah memberi contoh untuk berpegang teguh terhadap iman di tengah derasnya cobaan. Sebagai penghargaan atas pengorbanan mereka, Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam untuk berkurban. Dalam kisah ini pula, ada oknum yang ingin menyelewengkan sejarah hanya demi memperkuat validasi kaumnya.  Terlepas dari itu, semua yang terpenting bagi kita, bagaimana Pelajaran berharga dari “Merajut Cinta Dalam Perjalan Kurban” Cinta sejati tidak berharap atau menuntut lebih dari yang dicintainya. Cinta sejati membutuhkan pengorbanan.

 

Pertama: Memahami Makna Cinta: Iman tidaklah bisa sempurna tanpa adanya rasa cinta. Cinta adalah salah satu sumber utama kekuatan seorang muslim mencapai kesempurnaan iman. Cinta merupakan sebuah istilah dari perasaan tertarik kepada sesuatu yang dianggap spesial. Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam kitabnya menjelaskan:

الحُبُّ عِبارَةٌ عَنْ مَيْلِ الطَّبْعِ إِلىَ الشَّيْءِ المُلَذِّ

Artinya: “Cinta yaitu istilah dari ketertarikan watak terhadap sesuatu yang dianggap lezat.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, juz IV: 296).

Agama Islam, merupakan agama yang mengajarkan tentang cinta dan kasih sayang khususnya cinta kepada Allah dan rasul-Nya, ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang menyinggung tentang rasa cinta, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran. [3]: 31).

 

Ayat ini menjelaskan bahwa cinta kepada Allah tidak sekadar ungkapan perasaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Tindakan nyata tersebut adalah mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Ajaran Nabi Muhammad mencakup segala perintah Allah dan larangan-Nya yang disyariatkan melalui Nabi Muhammad. Selain itu, mengikuti Nabi Muhammad juga berarti melaksanakan sunnah-sunnahnya, yaitu contoh-contoh tindakan dan perilaku Nabi Muhammad yang dapat dijadikan teladan.

 

Dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad, Allah akan mencintai orang tersebut dan memberikan rahmat-Nya. Rahmat Allah tersebut meliputi pengampunan dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya. Ayat ini juga menekankan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sehingga memberikan harapan bagi setiap orang untuk bertobat dan mendapatkan pengampunan dosa.

 

Ayat ini mengajarkan manusia bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Dengan mengikuti ajaran Nabi Muhammad, seseorang akan mendapatkan cinta Allah dan pengampunan dosa-dosanya. Ayat ini juga mengingatkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

 

Kedua: Mengenali Syarat Cinta: Dalam kitab Lathaiful Isyarat Jilid I halaman 235, Imam Al-Qusyairi menampilkan syarat cinta dalam ayat tersebut:

وَشَرْطُ الْمَحَبَّةِ أَلَا يَكُونَ فِيهَا حَظٌّ بِحَالٍ، فَمَنْ لَمْ يَفْنَ عَنْ حُظُوْظِهِ بِالْكُلِّيَّةِ فَلَيْسَ لَهُ مِنْ الْمَحَبَّةِ شَظِيَّةٌ

Artinya: “Syarat cinta adalah tidak ada kepentingan pribadi sedikit pun di dalamnya. Barangsiapa yang tidak meninggalkan semua kepentingan pribadinya secara total, maka dia tidak memiliki secuil pun dari cinta yang sebenarnya.” (Imam Al-Qusyairi Lathaiful Isyarat Jilid I: 235).

 

Dengan keterangan tersebut, kita menjadi tahu bahwa cinta yang sejati tidak berharap atau menuntut lebih dari yang dicintai. Sebagaimana kisah bersejarah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di hari ini, beliau rela menyembelih putra tercintanya demi membuktikan cintanya kepada Allah Ta’ala, tuhan yang ia cintai bersama putranya setulus hati. Kisah bersejarah tersebut juga memberi makna bahwa cinta membutuhkan pembuktian dengan pengorbanan.

 

Ketiga: Cinta Memerlukan Pengorbanan, merupakan unsur penting dalam hubungan cinta, tanpa pengorbanan cinta hanyalah omong kosong belaka. Karena dari pengorbanan, bisa diukur seberapa dalam kecintaan dan seberapa serius rasa cintanya.  Ibadah Kurban, sebagai bukti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya yang harus kita perhatikan, tapi mencintai sesama dengan tujuan mencintai perintah Allah dan Rasul-Nya juga merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kualitas keimanan kita. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَن أَبِي هُرَيرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: لاَ تَدخُلُونَ الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا، وَلاَ تُؤمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُم عَلَى شَيءٍ إِذَا فَعَلتُمُوهُ تَحَابَبتُم؟ أَفشُوا السَّلاَمَ بَينَكُم

 

Artinya: “Dari Abu Hurairah, beliau berkata: Bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.’” (HR. Ahmad).

 

Tidak hanya itu, cinta dan kasih sayang juga merupakan ciri khas orang beriman. Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰ

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah.[2]: 165).

Ayat ini menunjukkan bahwa ciri orang yang beriman adalah mereka yang menyembah Allah semata, baik dalam keadaan susah maupun senang, artinya orang-orang mukmin akan tetap menyembah Allah Ta’ala meskipun diberi berbagai cobaan atau diberi nikmat, ini semua merupakan buah yang tumbuh dari rasa cinta.

 

Begitu mulianya cinta, hingga menjadi fondasi utama untuk mendapatkan kesempurnaan iman, memperoleh kemuliaan berupa surga dan menjadi ciri utama orang yang beriman.  Cinta adalah urusan hati, yang mana tiada kemampuan bagi manusia untuk memilih dan tiada pula kesanggupan atau kemampuan baginya untuk mengontrol cinta. Cinta dan kasih sayang adalah sebuah karunia yang berupa perasaan yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.

 

Mari kita letakkan perasaan cinta ini pada tempat yang tepat, dan setiap terbentuknya cinta mesti membutuhkan pengorbanan, Jangan sampai kita salah mencintai karena seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintai nanti di hari kiamat.” Semoga bermanfaat dan menjadikan kita mampu mengelola rasa cinta dengan baik dan tulus untuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *