Berteman dengan Kecerdasan Artifisial

UINSGD.AC.ID (Humas) — Sudahkah teman-teman tau apa itu Kecerdasan Artifisial (KA)? Yups, Kecerdasan Artifisial adalah istilah resmi dari Artificial Intelligence (AI) di Indonesia. Tidak perlu diperdebatkan lagi ya. Para pakar, komunitas, dan pegiat AI sudah sepakat dengan istilah ini. Bukan Kecerdasan Buatan ataupun Akal Imitasi.

Gengs! Dunia pendidikan saat ini nampaknya tidak bisa menghindari perkembangan dan kecanggihan teknologi KA, khususnya yang bersifat generatif atau Generative AI (GenAI). ChatGPT, Gemini, Microsoft Copilot, Deepseek, Sora, dan berbagai-bagai perangkat GenAI lainnya tumbuh dan menawarkan berbagai kemudahan untuk menemani belajar. Bolehkah kita menggunakan teknologi GenAI ini? Tentu boleh! Sampai mana batasnya? Selama tidak melanggar etika dan tetap bijak menggunakannya. Apakah semua yang dihasilkan GenAI sudah pasti benar? Tentu tidak! Tetap berhati-hati, latih literasi, kreatifitas, dan tetap kritis terhadap hasil GenAI ya!

Pentingnya Literasi Digital

By the way. Di tengah masifnya teknologi KA, ternyata literasi terhadap teknologi KA ini menjadi skill yang harus dimiliki. Mengapa? Tidak dapat dipungkiri, teknologi KA membuat pekerjaan-pekerjaan kita lebih mudah. Misalnya, kita mau mencari informasi tentang sebuah benda yang belum dikenali, cukup foto, minta Google mengenali dan memberikan informasi tentang objek tersebut. Contoh lain, bila kita tidak mengenal bahasa asing saat bepergian ke luar negeri, potret dan terjemahkan dengan penerjemah berbasis KA. Dan banyak sekali contoh lainnya di sekitar kita. Bahkan bermain pun sudah banyak yang berbasis teknologi KA.

Nah teman-teman, ternyata mengenal dan berteman dengan KA itu mudah. Bahkan membangun teknologi KA untuk mendukung pembelajaran kreatif bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau belajar. Sebelum mengenal KA, kita harus melatih pola pikir kita secara komputasional. Computational thinking atau Berfikir Komputasional (BK) adalah cara kita menyelesaikan masalah dengan sistematis layaknya komputer bekerja. Ada empat aspek dari (BK), antara lain Dekomposisi, Pengenalan Pola, Abstraksi, dan Algoritma. Apa maksud keempat makhluk itu? Kita bahas di sesi selanjutnya ya. Hehe.

Jurusan Teknik Informatika

Pola BK dapat kita latih dengan berbagai cara. Banyak pembelajaran menarik tentang BK yang tidak mengharuskan menggunakan komputer. Komputer yang mengenal instruksi atau sering disebut coding (koding) ternyata bisa kita pelajari dengan dan tanpa komputer (computer science plugged and unplugged). Tahukan teman-teman semua saat ini koding dan KA diperkenalkan mulai usia sekolah dasar hingga menengah, tidak hanya di perguruan tinggi?

Oleh karena itu, sebagai salah satu program studi yang memiliki visi keilmuan di bidang KA, Jurusan Teknik Informatika UIN Sunan Gunung Djati Bandung mendukung penuh pengembangan pembelajaran koding dan KA yang menyenangkan sesuai dengan usianya.

Untuk teman-teman mahasiswa, Bapak, Ibu Dosen, Bapak, Ibu Guru, para pendidik dan pembelajar lainnya yang tertarik berdiskusi tentang KA boleh merapat di Jurusan Teknik Informatika. Kami memiliki mata kuliah Computational thinking yang membekali pola pikir komputasianal di tengah maraknya koding instan saat ini. Supaya dasar pola berfikir komputasi tetap tertanam sebagai bekal menghadapi gempuran teknologi KA. Jurusan Teknik Informatika juga memiliki Kelompok Keahlian Kecerdasan Artifisial yang bisa dijadikan sebagai wadah diskusi dengan para pakarnya. Percayalah, berteman dengan KA itu menyenangkan, tapi tetap bijak yaaa…

Dian Sa’adillah Maylawati, Ketua Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *