UINSGD.AC.ID (Humas) — Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Gaya Hidup Positif bertajuk “Gaya Hidup Minimalis dan Bijak Berkonsumsi”, yang berlangsung di Gedung O. Djauharuddin AR, Rabu (28/5/2025).
Seminar hasil kerja sama unit DWP Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) dengan Fakultas Psikologi (FPsi) ini menghadirkan narasumber Cynthia S. Lestari, pendiri komunitas Lyfe With Less dan Bersaling Silang, yang dipandu oleh Rika Rahmawati, M.Psi., Psikolog.
Dalam sambutannya, Ketua DWP UIN Bandung, Ny. Hj. Enung Supartini Rosihon, menyampaikan bahwa seminar ini dihadiri oleh anggota DWP, sivitas akademika, dan tamu undangan lainnya.
Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya hidup sehat secara mental, spiritual, dan finansial melalui penerapan gaya hidup minimalis dan kebiasaan konsumsi yang bijak. “Ini adalah pertemuan rutin. Semoga kehadiran kita semua bernilai ibadah, membawa pahala dari Allah SWT, dan menambah ilmu yang bermanfaat,” ungkapnya.
Kegiatan ini turut dirangkaikan dengan bazar dari Djati Mart yang merayakan satu tahun berdirinya. Harapannya, Djati Mart dapat terus berkembang dan mendukung kinerja DWP. “Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyukseskan seminar gaya hidup positif ini. Semoga berjalan lancar, membawa semangat untuk terus berkarya dan mempererat tali silaturahmi,” jelasnya.
Mengenai tema seminar dinilai sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari, sejalan dengan kebijakan efisiensi di tingkat pusat. Kehadiran narasumber, Cynthia S. Lestari, diharapkan dapat memberikan panduan praktis dalam mengelola keuangan, “Pentingnya membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mari kita jadikan menghemat pengeluaran sebagai bagian dari gaya hidup minimalis yang bijak,” paparnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Riza Fajriyati Irfan, menyampaikan seminar ini menjadi sarana mengenalkan gaya hidup minimalis kepada masyarakat kampus. “Gaya hidup minimalis mengajarkan bahwa kualitas hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa bijak kita menjalani hidup,” ujarnya.
Cynthia S. Lestari memulai gaya hidup minimalis sejak 2017 sebagai bagian dari proses penyembuhan dari quarter-life crisis. Dengan mendirikan Lyfe With Less (LWL), komunitas gaya hidup minimalis pertama di Indonesia yang berdiri pada 2018.
Komunitas ini mengajak anggotanya fokus pada usaha esensial, mengurangi kepemilikan barang yang tidak perlu, serta menumbuhkan kesadaran terhadap dampak konsumsi berlebihan terhadap lingkungan.
Paling tidak ada beberapa program LWL yang menonjol antara lain: Saling Silang: forum jual-tukar-donasi barang hasil decluttering. LWL MEET UP!: wadah diskusi dan saling berbagi pengalaman antar anggota.
Dalam pemaparannya, Cynthia menekankan bahwa gaya hidup minimalis bukan sekadar mengurangi barang, melainkan perubahan pola pikir. “Bentuk minimalisme tiap orang berbeda, tapi tujuannya sama: fokus pada hal-hal yang membawa makna dan kebahagiaan dalam hidup,” bebernya.
Salah satu caranya dengan melakukan kampanye gaya hidup minimalis dimulai dari pertanyaan reflektif: “Seberapa persen isi lemari yang benar-benar kita pakai?”
Mengacu pada prinsip Pareto (The 80/20 Rule), disebutkan bahwa sebagian besar dari kita sebenarnya hanya menggunakan 20% dari barang-barang yang kita miliki. Sisanya, 80%, sering kali hanya memenuhi ruang tanpa benar-benar digunakan. “Ini menjadi cerminan nyata bagaimana kebiasaan konsumtif bisa menghambat kebebasan dan rasa cukup dalam hidup sehari-hari,” tuturnya.
Diakuinya “Tidak ada yang salah dengan konsumsi. Jadi masalah saat terjebak konsumerisme. Konsumerisme adalah saat kita tidak tahu apa yang kita butuh, kita hanya ingin memiliki, ingin lebih dan menginginkannya sekarang,” tegasnya.
Mari kita mulai mengevaluasi kepemilikan pribadi, terutama pakaian yang menumpuk di lemari. “Coba lihat sekelilingmu, ada berapa barang yang belum kamu gunakan sejak Januari?” menjadi pertanyaan reflektif yang disodorkan kepada publik.
Lebih dari sekadar mengurangi barang, gaya hidup minimalis ditawarkan sebagai pola pikir yang menekankan pada hal-hal esensial. Tujuannya untuk menciptakan ruang bagi kebahagiaan, kebebasan, dan rasa penuh yang menjauh dari distraksi dan beban yang tidak bernilai.
Gaya hidup ini mengajak masyarakat, termasuk civitas akademika UIN Bandung untuk mengevaluasi kebutuhan dan menghindari pembelian impulsif. Prinsip “Selalu merasa cukup” menjadi kunci untuk menciptakan ruang bagi kebahagiaan dan kebebasan dari distraksi konsumtif.
Kampanye ini memperkenalkan konsep konsumsi berkelanjutan melalui empat elemen utama: Konsumsi Cukup, Pilah Konsumsi, Konsumsi Sadar, Konsumsi Berkelanjutan. Prinsip-prinsip ini menekankan pentingnya membeli sesuai kebutuhan, memanfaatkan apa yang ada, memilih produk berdasarkan nilai dan keberlanjutan, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan konsumsi.
Hadirnya kebiasaan mindless buying (pembelian tanpa pertimbangan). Dengan adanya beberapa pola pikir yang sering mendasari perilaku konsumtif antara lain: Buy now cry later, Mumpung ada promo, hingga Lebih baik kebanyakan daripada kekurangan. “Semua ini menunjukkan betapa mudahnya seseorang terjebak dalam pembelian impulsif yang pada akhirnya tidak memberi nilai tambah berarti,” paparnya.
Upaya menghindari pola pikir “Buy now cry later” atau “Mumpung diskon”, Cynthia mendorong konsumen mengaktifkan superpower, kemampuan untuk Memilah, Memilih, dan Merespon. “Dengan memilah apa yang dikonsumsi, memilih ke mana sumber daya dialokasikan, dan merespon stimulus pemasaran secara sadar, setiap individu dapat menjadi bagian dari perubahan menuju gaya hidup yang lebih sadar dan minimalis,” tuturnya.
Menurutnya, mulai belajar menjadi konsumen minimalis adalah konsumen yang sadar akan kebutuhan, mampu mengendalikan keinginan, serta bijak dalam pengambilan keputusan. “Meskipun terkadang langkah kecil ini dianggap kecil, tapi memiliki dampak besar, tidak hanya bagi dompet pribadi, juga bagi keberlanjutan bumi,” tegasnya.
Melalui kampanye “7R for Being Sustainable Minimalist”, Cynthia mengajak masyarakat, terutama perempuan muda, untuk menerapkan prinsip: Rethink, Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, Regift/Repurpose
Prinsip ini diterapkan dalam tiga ranah: Di Rumah: memilah sampah, membeli dari brand ramah lingkungan, dan menerapkan kebiasaan #PakaiSampaiHabis. Di Kantor: membawa botol dan tas belanja sendiri, hemat air dan energi. Di Komunitas: berbagi praktik baik melalui media sosial atau kegiatan donasi.
Ajakan reflektif seperti “Untuk siapa aku membeli ini?”, atau “Apakah tidak ada barang yang bisa dipakai kembali?” menjadi bagian penting dalam perubahan kebiasaan.
Panduan Pilah Sampah dan Belanja Minimalis
Dalam sesi edukatif “Belajar Jadi Minimalis”, peserta diajak lebih bijak dalam mengelola sampah dan berbelanja:
Pertama, Pilah Sampah: sampah dikategorikan menjadi plastik, kertas, organik, dan residu. Disarankan memanfaatkan layanan seperti Waste4Change, Duitin, Daur.id, dll.
Kedua, Belanja Minimalis: hindari belanja saat lapar, belanja di tempat kecil, cek kulkas sebelum belanja, dan pilih bahan fleksibel.
Ketiga, Belanja online pun bisa minimalis dengan tips: Beri pesan minim sampah ke penjual. Pilih brand yang peduli lingkungan. Gabungkan pembelian dalam satu pengiriman. Hindari pembelian impulsif.
Dengan semangat “Cintai apa yang ada, beli saat butuh, bukan karena mumpung”, seminar ini mengajak masyarakat kampus untuk memulai langkah kecil menuju hidup yang lebih sadar, hemat, dan berkelanjutan. Semua itu demi masa depan yang lebih baik, untuk diri sendiri dan bumi.
Cynthia berpesan “Ini menjadi pengingat bahwa konsumsi adalah bagian penting dalam membentuk ekosistem yang berkelanjutan. Ketika perempuan belajar bijak berkonsumsi, mereka turut mendorong perubahan positif dalam lingkungan keluarga, tempat kerja, dan komunitas,” ujarnya.
