UINSGD.AC.ID (Humas) — Di Balai Diklat Keagamaan (BDK) Kemenag RI Kota Bandung, Jumat siang itu tak semata saksi seremonial keagamaan. Ia menjadi panggung perjumpaan rasa, lintas usia dan jabatan, yang digerakkan oleh semangat kekeluargaan dan kebersamaan.
Langit Bandung belum terlalu terik ketika para dosen, dekan, rektor, hingga mahasiswa dan alumni berkumpul di aula sederhana nan bersih milik Kemenag RI. BDK, yang biasanya sunyi, berubah menjadi ruang berdenyut: penuh jabat tangan, senyum haru, dan obrolan hangat di antara kader-kader Nahdlatul Ulama (NU) yang tersebar di berbagai sudut kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.
Hari itu, Jumat 25 April 2025, Keluarga Besar NU (KBNU) UIN SGD Bandung menggelar Halal Bihalal sekaligus Tahlil dan Doa Bersama. Sebuah acara yang tidak semata tradisi pasca-Lebaran, tetapi juga momen penting untuk mengikat kembali jejak kultural NU dalam tubuh kampus yang dihuni oleh beragam latar belakang, kepentingan, dan gagasan.
Acara dibuka oleh Ketua KBNU UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., seorang tokoh yang dikenal luas sebagai aktivis, pemikir moderat, dan pengayom lintas generasi. Dalam sambutannya, Prof. Dudang menekankan peran strategis KBNU sebagai wadah pemersatu kader dan simpatisan NU yang selama ini tersebar di banyak fakultas, prodi, dan jenjang kepegawaian.
“Dengan semangat kekeluargaan dan kebersamaan, KBNU menjadi tempat bertemunya pikiran dan rasa. Tempat kita tidak semata bicara struktur, tapi juga kultur. Kita satukan langkah untuk mewujudkan cita-cita besar NU di kampus ini,” ujar Dudang, mantap, disambut anggukan penuh makna dari para hadirin.

NU dan Masa Depan Kampus Inklusif
Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran NU, khususnya melalui KBNU, dalam memperkuat kualitas institusi. Baginya, kekuatan kampus tidak cukup hanya bertumpu pada birokrasi atau kurikulum, tetapi pada nilai² yang hidup dalam diri komunitasnya.
“Memang UIN tak bisa menggantungkan diri pada satu kekuatan saja. Tapi NU, dengan nilai-nilainya yg unggul, moderat, dan inklusif, telah memberi warna penting dalam penguatan kualitas UIN,” tegas Rosihon, yang siang itu tampil bersahaja namun penuh wibawa.
KBNU, lanjutnya, telah berhasil mencairkan sekat-sekat hierarkis dan generasi, dari kalangan dosen senior hingga mahasiswa baru, dari wakil rektor hingga pengasuh pesantren. Semuanya melebur dlm semangat kekeluargaan yg khas: hangat, santun, namun tetap berpikiran terbuka.
Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh Dr. H. Faizal Pikri, M.Ag.. Suara doanya yang tenang namun penuh getar spiritual seakan menjadi pengikat batin di antara mereka yang hadir. Tak lama setelah itu, mushafahah dan foto bersama dilangsungkan. Bukan sebagai formalitas semata. Mushafahah siang itu adalah bentuk nyata dari silaturahim dan solidaritas.
Sebagaimana jamaknya acara NU, momen diakhiri dengan makan bersama. Di atas karpet yg sederhana, obrolan tentang NU, kampus, hingga nostalgia masa-masa menjadi aktivis kampus mengalir bebas.

Wajah-Wajah di Balik Silaturahim
Di tengah suasana hangat dan penuh kekeluargaan, tampak sejumlah tokoh penting hadir, bukan semata sbg tamu, tetapi sbg simpul² pengikat kekuatan NU di lingkungan UIN SGD Bandung. Mereka adalah wajah-wajah yang selama ini menghidupi semangat kebersamaan dan menggerakkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah di ruang-ruang akademik kampus.
Selain Rektor UIN SGD dan Ketua KBNU (yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, FEBI), hadir pula Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag. Ia datang bersama para dekan dari berbagai fakultas: H. Fakhry Hamdani, M.Res., Ph.D. dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan; Prof. Dr. Hj. Ulfiah dari Fakultas Psikologi; Prof. Dr. H. Enjang AS, M.Ag. dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi; serta Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum. dari Fakultas Adab dan Humaniora.
Kehadiran mereka seolah menjadi penanda bahwa NU bukan hanya jejaring sosial. NU kini telah bertransformasi menjadi jaringan intelektual yang berpengaruh di lingkup akademik.
Selain itu, hadir sosok² inspiratif lain seperti Dr. H. Wawan Gunawan, M.Ud., dan Dr. Khaerul Umam, M.Ag., yang kini menjabat sebagai Kasubdit PAI pada PTU, Direktorat PAI Kementerian Agama. Keduanya merepresentasikan jejak pengabdian NU di ranah birokrasi keagamaan nasional.
Tak ketinggalan, hadir pula Dr. KH. Tatang Astaruddin, dosen Pascasarjana UIN SGD sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU). Ia adalah seorang figur yang menjembatani dunia pesantren dan perguruan tinggi, dunia praktik dan teori, dunia langgar dan ruang kuliah.
Mereka yang hadir bukan semata pejabat atau akademisi, melainkan penjaga denyut nadi NU di kampus. Di balik senyum, jabatan tangan, dan mushafahah yang hangat, ada semangat kolektif untuk terus merawat warisan, menyemai nilai, dan mewujudkan cita-cita besar NU dalam wajah kampus modern.
Dan dari Bandung, semangat itu menjalar. Pelan, tapi pasti.
Dr. Asep Mulyana, MA., Dosen Luar Biasa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.