Ihram dan Seni Mengendalikan Diri

Ilustrasi saat menjalankan ibadah haji, umrah (Getty Images/iStockphoto/Aviator70)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Setelah diikrarkan, “labbaik allohumma ‘umratan”, kami memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, untuk melaksanakan ibadah umrah. Sejak saat itu, berlakulah sejumlah larangan ihram. Diantaranya dilarang memotong atau mencabut rambut, memotong kuku, memakai wewangian, dll. Saat berihrom, seorang jemaah menjadi seorang polisi, jaksa atau hakim untuk dirinya sediri.

Hikmah disyariatkannya sejumlah larangan dalam ihram, diantaranya terkait erat sebagai latihan mengendalikan diri. Dalam QS. Asy-Syam: 8, Allah menginformasikan, bahwa setiap manusia telah dianugerahi Allah dua potensi kontradiktif, yakni ilham fuzurah (potensi hawa nafsu) dan ilham taqwa (potensi kebaikan).

Jika hidup dalam kendali potensi kebaiakan, manusia akan qoribun minallah, dekat dengan Allah. Buahnya hidup akan berada dalam kendali diri yang baik. Namun bila sebaliknya, manusia akan ba’idun minallah, jauh dari Allah. Efeknya, hidup akan berada dalam kendali hawa nafsu. Jika itu yang terjadi, maka hidup manusia adalah cerita tentang hilangnya kendali diri bahkan melampaui batas.

Dalam, Qs. Al-Kahfi: 28, Allah berfirman; “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan mereka itu adalah orang-orang yang melampaui batas”.

Berbagai bentuk deviasi sosial, penyimpangan atau patologi sosial, seperti KDRT, Pelakor dan pebinor, LGBT, dan miras dan narkotika, hingga kasus pelecehan seksual adalah deretan penyakit sosial yang berakar dari perilaku yang melampaui batas dan hilangnya kendali diri.

Dalam kearifan Islam ditemui sebuah postulat yang bisa menjadi kerangka referensi sebagai seni mengendalikan diri. Saithir ‘ala syahwatika ‘indama takunu munfaridan, yang artinya kendalikan syahwatmu ketika kamu sedang sendirian.

Syahwat, seperti nafsu makan-minum yang berlebihan, nafsu seksualitas tanpa kendali, dan berbagai bentuk turunan perilaku menyimpang dari dua hal tadi, sebut saja nafsu memiliki, mengeksploitasi, manipulasi, KKN, pelecehan seksual, kerapkali berbisik di ruang kesendirian.

Diantara cara mengendalikannya, hadirkan dengan penuh keyakinan bahwa Allah itu Maha Melihat. Allah tidak ngantuk dan tidur (Qs. Al-Baqarah:255), Allah menyertai manusia kapanpun dan di manapun (Qs. Al-Hadid:4), Allah memiliki dua malaikat pengawasnya (Qs. Qaaf;18), Allah selalu menyaksiakan apapun yang dikerjakan (Qs. Yunus:61), dan Allah mengetahui apapun yang disembunyikan di balik dada (Qs. Al-Baqarah:216). Bahkan Allah Maha Mengetahui segalanya (Qs. Al-Ahzab: 51).

Dalam kesadaran merasa ditatap Allah, ruang kesendirian atau rasa tidak ada siapun yang menyaksikan, akan menjadi momentum indah untuk bermesraan dengan Allah, melakukan rekoneksi diri dengan yang Ilahi.

Namun, jika dalam ruang kesendirian, hati berkolaborasi dengan iblis, hingga hilang kendali dan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Maka ragam praktik pelecehan seksual, sebut saja seperti yang dilakukan oknum guru besar di Pergurian Tinggi ternama di Jogjakarta, seorang oknum dokter di RS ternama di Kota Bandung, dan seorang oknum anggota Polri di Tangerang, akan tumbuh subur laksana cendawan di musim hujan. Kembali kepada ibadah umrah, sejumlah larangan ihram memberi pelajaran adiluhung tentang arti penting mengendalikan diri.

Aang Ridwan, Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *