UINSGD.AC.ID (Humas) — Ada sebuah pertanyaan yang sering menghantui dinding-dinding kampus, terutama saat usia Gedung gedung itu bertambah setengah abad lebih, Apakah kita hanya menjadi pabrik ijazah, atau sungguh menjadi rumah peradaban?
Tahun ini, kita menginjak usia ke-58. Angka yang bukan sekadar simbol penuaan institusi, melainkan penanda kedewasaan dalam berpikir. Tema yang diusung, ‘58 Tahun Meneguhkan Keunggulan: Dari Kampus Keilmuan Menuju Peradaban,’ bukan sekadar rangkaian kata seremonial. Ini adalah sebuah deklarasi.
Sebuah pergumulan identitas. Sebuah transisi yang menuntut lebih dari sekadar akreditasi unggul atau peringkat universitas. Kita sedang berbicara tentang lompatan eksistensial, dari sekadar menjadi kampus, menjadi penyebab lahirnya peradaban.

Kampus Keilmuan
Jika kita menarik garis sejarah 58 tahun lalu, kampus ini lahir dari rahim idealisme. Di masa ketika ilmu pengetahuan masih dianggap sebagai barang mewah, para pendiri meyakini bahwa fondasi sebuah bangsa yang kokoh hanya bisa dibangun di atas perpustakaan, laboratorium, dan ruang kelas yang merdeka. Fase Kampus Keilmuan adalah fase yang penting, Ketika nalar kritis diasah. Di sinilah metode ilmiah menjadi agama. Dan mahasiswa serta dosen dihadapkan pada dogma bahwa kebenaran harus dicari, bukan diterima mentah-mentah.
Namun, di usia ke 58, kita harus jujur. Keilmuan saja tidak cukup. ‘Ilmu tanpa jiwa’, seperti kata-kata Nietzsche yang kemudian dipopulerkan oleh sang Begawan Gusdur , hanya akan melahirkan ‘kebodohan tingkat tinggi.’ Kita hidup di zaman di mana seorang ahli teknologi informasi bisa saja merancang algoritma yang dapat memecah belah masyarakat.
Kita hidup di era di mana seorang ekonom papan atas bisa merumuskan kebijakan yang menggusur rakyat kecil. Itu adalah produk kampus keilmuan yang kehilangan arah. Maka, peneguhan keunggulan di usia 58 tahun ini bukan berarti kita berhenti menjadi kampus keilmuan. Sebaliknya, kita harus menjadi kampus keilmuan yang sempurna secara metodologi, namun sadar secara kemanusiaan.

Menuju Peradaban: Pergeseran Paradigma
Frasa ‘Menuju Peradaban’ adalah sebuah mindset shift yang radikal. Jika selama ini kampus sering kali merasa cukup dengan menghasilkan output berupa sarjana yang siap pakai di industri, maka visi peradaban menuntut kita menghasilkan agen perubahan yang siap mempertanyakan industri itu sendiri. Peradaban bukan sekadar gedung pencakar langit atau pertumbuhan ekonomi.
Peradaban adalah tatanan hidup di mana ilmu pengetahuan berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Peradaban adalah ruang di mana teknologi melayani etika, bukan sebaliknya. Kampus, dalam konteks tersebut, kampus harus berani keluar dari ivory tower, menara gading yang selama ini memisahkan dunia akademik dari hiruk pikuk realitas sosial.
Saya membayangkan sebuah kampus yang tidak hanya melahirkan sosiolog yang pandai membedah masalah, tetapi juga peka terhadap sistem kehidupan masyarakat yang timpang. Kampus yang tidak hanya melahirkan engineer yang piawai merancang struktur perangkat keras dan lunak, tetapi juga kritis terhadap dampak lingkungan dari proyek-proyek infrastruktur. Kampus yang melahirkan sarjana hukum yang tidak hanya hafal pasal, tetapi memiliki hati yang haus akan keadilan. Itulah peradaban yang sederhana namun bernilai.

58 Tahun: Menilik Gagasan Kritis
Angka 58 dalam tradisi intelektual sering kali diidentikkan dengan angka mapan dan matang. Dalam teori psikologi perkembangan, usia 58 adalah masa di mana seseorang atau sebuah institusi seharusnya telah mencapai tahap generativity, yakni keinginan untuk meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya.
Pertanyaannya, warisan apa yang akan kita tinggalkan? Apakah kita hanya akan dikenang sebagai universitas dengan gedung-gedung yang wah ? Atau sebagai ruang pendaratan bagi ide ide besar yang mengubah wajah bangsa? Saya teringat pada konsep Bildung dalam tradisi Jerman, yang digaungkan oleh Wilhelm von Humboldt. Menurutnya, fungsi universitas bukanlah sekadar transmisi pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan pembentukan manusia utuh (the formation of the whole person).
Pendidikan tinggi adalah proses penyatuan antara Wissenschaft (ilmu pengetahuan) dan Charakter (karakter). Di usia 58, saatnya kita bertanya, apakah proses Bildung itu benar-benar terjadi? Atau kita malah terjebak dalam pragmatisme jangka pendek? Apakah mahasiswa kita hanya diajari how to make a living, atau juga diajari how to make a life?

Manusia sebagai Titik Sentral
Dalam perjalanan menuju peradaban, kampus adalah ekosistem yang hidup , dan “manusia” sebagai subjek utama. Ekosistem itu terdiri dari para dosen yang mengabdi dengan hati, para tenaga kependidikan yang bekerja di balik layar, dan para mahasiswa yang datang dengan mimpi sebesar langit.
Peradaban adalah ketika seorang petugas kebersihan kampus diperlakukan dengan martabat yang sama. Peradaban adalah ketika diskusi ilmiah tidak lagi didominasi oleh senioritas, tetapi oleh kualitas argumen. Peradaban adalah ketika perbedaan pendapat bukan lagi dianggap sebagai ancaman, melainkan sebagai bahan bakar untuk menemukan kebenaran yang lebih utuh. Jika kampus gagal menjadi teladan dalam etika publik dan kemanusiaan, maka mimpi untuk menjadi lokomotif peradaban hanya akan menjadi slogan kosong.
Peradaban besar tidak pernah lahir dari institusi yang birokratis dan feodal. Peradaban lahir dari ruang ruang yang merdeka, egaliter, dan menghargai kreativitas.
Dan Tentu saja, visi ‘menuju peradaban’ tidak bisa dilepaskan dari tantangan global yang sedang terjadi. Kita berada di era disrupsi. Kecerdasan buatan (AI) mengubah cara kita belajar dan mengajar. Batas-batas disiplin ilmu menjadi kabur. Dunia kerja yang akan dimasuki mahasiswa kita hari ini mungkin belum ada bentuknya lima tahun lalu.
Dalam konteks tersebut, maka keunggulan yang dimaksud haruslah keunggulan adaptif. Kampus harus menjadi tempat yang paling cepat beradaptasi, namun tetap memegang teguh prinsip-prinsip dasar etika. Kita tidak boleh alergi pada teknologi. Namun, kita juga harus menjadi filter kritis terhadap teknologi.
Kampus keilmuan menuju peradaban adalah kampus yang mengajarkan mahasiswa untuk menguasai AI, bukan dikuasai oleh AI, mencetak generasi yang technologically savvy namun tetap humanistically grounded. Generasi yang bisa membaca data, tetapi juga bisa membaca konteks sosial. Generasi yang paham coding, tetapi juga paham cinta.

Refleksi di Usia Matang
Perayaan adalah bentuk syukur. Namun, perayaan yang paling bermakna sejatinya adalah perayaan yang mengembalikan kita pada misi utama. Mari kita refleksikan sejenak apakah selama 58 tahun ini kita telah menjadi kampus yang menjawab? Ketika negeri ini mengalami krisis toleransi, apakah suara-suara dari fakultas filsafat, sosiologi, dan agama kita terdengar lantang?
Ketika generasi muda kehilangan arah di tengah derasnya arus informasi, apakah kampus kita hadir sebagai oase ketenangan dan pencerahan? Jika jawabannya belum, maka usia 58 tahun ini bukanlah waktu untuk berpuas diri, melainkan waktu untuk bangkit dengan cara yang berbeda dan waktu yang tepat untuk mendobrak kebiasaan lama yang membuat kita terjebak dalam rutinitas administratif saja.

Dari Kampus untuk Peradaban
Kita percaya, cikal bakal peradaban selalu dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Peradaban dimulai dari ruang kelas di mana seorang dosen tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Peradaban dimulai dari sebuah laboratorium di mana mahasiswa tidak hanya mengejar publikasi, tetapi juga memikirkan dampak risetnya terhadap masyarakat sekitar.
Peradaban dimulai dari perpustakaan yang tidak hanya menyimpan buku, tetapi menjadi ruang dialog antar generasi. Peradaban dimulai ketika kampus tidak hanya menjadi Lembaga Pendidikan formal dan social institution namun juga berani menjadi moral force sebagai kekuatan moral di tengah Masyarakat.
‘Bukan Sekadar Kampus.’ Adalah pesan yang di titipkan dalam artikel ini di hari jadi yang ke-58. Kita tidak cukup hanya menjadi kampus yang pintar. Dunia sudah terlalu banyak orang pintar yang melakukan hal-hal bodoh karena kehilangan empati. Banyak institusi pendidikan yang melahirkan lulusan dengan IPK cumlaude tetapi poverty of spirit. Tentu kita harus menjadi lebih dari hal tersebut. Kita harus menjadi rumah peradaban.
Rumah di mana ilmu pengetahuan dan iman, akal dan hati, teknologi dan budaya, bertemu dalam satu harmoni. Rumah di mana setiap orang yang masuk ke dalamnya, baik dosen, mahasiswa, maupun masyarakat sekitar, keluar sebagai pribadi yang lebih manusiawi dan bernilai.
58 tahun adalah usia yang matang untuk sebuah institusi. Cukup lama untuk belajar dari kesalahan, cukup dewasa untuk memiliki keberanian menentukan arah. Tema ‘Meneguhkan Keunggulan: Dari Kampus Keilmuan Menuju Peradaban’ adalah peta jalan. Keunggulan yang dimaksud tidak hanya akreditasi unggul atau peringkat dunia. Keunggulan yang kita tuju berikutnya adalah keunggulan sebagai lokomotif dan penjaga peradaban.
Selamat Dies Natalis kampus tercinta. Tetaplah bergerak. Tetaplah merdeka dalam berpikir, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Jadilah kampus yang tidak hanya dipandang, tetapi dirasakan kehadirannya. Jadilah peradaban.
Dirgahayu untuk kampus tercinta. 58 tahun bukanlah usia untuk pensiun, melainkan untuk memulai babak baru yang lebih berdampak, bermanfaat dan beradab. Wallahu’a’lam bis showaab
Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI