UINSGD.AC.ID (Humas) — Hidup merupakan perpaduan antara usaha dan menerima. Kita seringkali menghadapi situasi yang membuat hati gundah karena usaha yang belum membuahkan hasil, cobaan yang datang bertubi-tubi, atau masa depan yang terasa tidak pasti. Dalam menghadapi keadaan-keadaan seperti ini, Islam mengajarkan kita tentang tenang dalam takdir serta teguh dalam ikhtiar.
Tenang dalam takdir tidak berarti menyerah dan tidak melakukan apa-apa, tetapi meyakini bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketentuan Allah SWT. Namun tenang dalam menerima takdir harus diiringi dengan sikap yang teguh dalam berikhtiar, karena ia akan menjadi bukti bahwa kita tidak hanya berpangku tangan menunggu takdir, tetapi berusaha untuk meraih yang terbaik.
Tulisan ini membahas tentang 5 Pilar Kehidupan: Keras Berusaha, Ikhlas Menerima. Hidup seorang mukmin tidak lepas dari ikhtiar yang sungguh-sungguh dan tawakal yang mendalam dan perubahan dimulai dari diri sendiri. Tiga hal ini ibarat dua sisi mata uang: ikhtiar tanpa tawakal melahirkan kegelisahan, sedangkan tawakal tanpa ikhtiar melahirkan kelemahan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159)/
Dari ayat ini, kita belajar dua pilar utama hidup seorang mukmin: 1) Tekad yang bulat – setiap keputusan harus diawali dengan komitmen yang kuat; 2) Tawakal yang mendalam – setelah ikhtiar dilakukan, hati harus tenang berserah diri kepada Allah.
Melengkapi tema Keras Berusaha, Ikhlas Menerima, Al-Qur’an juga menegaskan dalam firman-Nya:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa hasil datang dari usaha yang nyata. Segala penghargaan, rezeki, atau hadiah yang kita terima pada hakikatnya adalah buah dari ikhtiar kita. Syariatnya mungkin melalui tangan manusia, tetapi hakikatnya tetap dari Allah ﷻ.
Mengukuhkan tema Lima Pilar Kehidupan Keras Berusaha, Ikhlas Menerima. mari kita renungkan firman Allah yang lain:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menekankan penting perubahan dimulai dari diri sendiri. Dengan demikian, ayat ini menjadi pengingat bahwa untuk meraih perubahan yang lebih baik dalam hidup atau masyarakat, langkah pertama dan terpenting adalah memperbaiki diri sendiri, baik dari segi akidah, akhlak, maupun tindakan.
Dari pelajaran ketiga ayat di atas .” (QS. Ali Imran: 159) -(QS. An-Najm: 39), dan (QS. Ar-Ra’d: 11). kita akan menimba pilar kelima: perubahan dimulai dari diri sendiri. Jika kita ingin hidup lebih baik, bangsa lebih maju, atau lembaga pendidikan lebih bermartabat, maka semua itu bermula dari niat tulus, usaha keras, dan integritas pribadi kita. Maka, jamaah Jumat yang berbahagia, mari kita gali dari lima pilar hidup seorang mukmin dari tiga ayat tadi:
Pertama, Tekad yang Bulat Azam dalam Setiap Keputusan. Seorang mukmin yang beriman harus memiliki tekad yang jelas dan bulat dalam menjalani setiap urusan hidupnya. Tekad adalah fondasi dari ikhtiar. Tanpa tekad, usaha akan mudah goyah dan penuh keraguan. Islam mengajarkan agar seorang hamba menetapkan azam terlebih dahulu, kemudian melangkah dengan keyakinan. Allah ﷻ berfirman: “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS.Ali Imran: 159).
Ayat ini menekankan bahwa tekad harus diikuti dengan keberanian untuk berusaha keras. Tekad yang bulat melahirkan keteguhan, sementara keragu-raguan hanya melemahkan semangat. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR. Muslim).
Keras berusaha adalah bentuk tekad kuat, dan ikhlas menerima adalah wujud kesadaran bahwa hasil sepenuhnya milik Allah. Janji Allah bagi orang yang bersungguh-sungguh berusaha dan ikhlas menerima adalah kemenangan, pertolongan, dan kemudahan dalam menghadapi segala urusan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 153). Janji ini memberikan optimisme dan keteguhan jiwa dalam menjalani kehidupan, bahkan saat menghadapi kegagalan. Itulah Janji Allah.
Kedua, Tawakal yang Mendalam – Menyerahkan Hasil kepada Allah. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan usaha keras yang diakhiri dengan penyerahan penuh kepada Allah. Dalam hidup, manusia dituntut untuk berjuang maksimal, namun hasil akhirnya adalah rahasia Allah. Dengan tawakal, hati menjadi tenang menerima apapun ketetapan-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menunjukkan keseimbangan: burung berusaha mencari makan, tetapi hatinya tetap bertawakal. Inilah inti dari keras berusaha, ikhlas menerima. Tawakal mendalam membuat seorang mukmin tidak putus asa saat gagal dan tidak sombong ketika berhasil. Hasil apapun yang terjadi akan diterima dengan syukur, karena ia yakin Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.
Ketiga, Ikhtiar yang Nyata – Hasil Sebanding dengan Usaha. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm: 39). Artinya, rezeki, ilmu, bahkan kedudukan adalah buah dari ikhtiar nyata. Tidak ada keberhasilan tanpa usaha sungguh-sungguh. Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam hadis: “Ikatanlah (untamu) lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).
Hadis ini mengajarkan bahwa ikhtiar adalah syarat mutlak sebelum tawakal. Keras berusaha berarti mengerahkan segenap potensi, bekerja sepenuh hati, dan tidak cepat menyerah. Sedangkan ikhlas menerima berarti menyadari bahwa hasil usaha tidak selalu sesuai harapan, tetapi tetap menjadi kebaikan dari Allah.
Dalam dunia pendidikan misalnya, seorang guru yang mendidik sepenuh hati telah menunaikan ikhtiarnya. Apapun balasan dari murid, baik berupa ilmu yang diamalkan maupun penghargaan yang diberikan, itu adalah konsekuensi dari usaha tulusnya.
Keempat, Kesadaran Hakikat Rezeki – Hadiah atau Penghargaan Hakikatnya dari Allah. Hadiah, penghargaan, atau apresiasi seringkali datang dari manusia. Namun, seorang mukmin harus sadar bahwa hakikat rezeki adalah dari Allah. Firman-Nya: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).
Secara syariat, hadiah mungkin datang dari mahasiswa kepada dosen, dari bawahan kepada pimpinan, atau dari masyarakat kepada ulama. Tetapi secara hakikat, Allah-lah yang menggerakkan hati manusia untuk memberi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).
Hadiah yang datang dengan tulus adalah bentuk kasih sayang dan penghormatan. Namun, di sisi lain, hadiah yang menimbulkan prasangka atau mengurangi integritas sebaiknya ditolak dengan santun. Di sinilah pentingnya sikap keras berusaha, ikhlas menerima: hadiah bukan tujuan, melainkan tanda syukur yang hakikatnya kembali kepada Allah.
Kelima, Perubahan dari Diri Sendiri – Integritas adalah Kunci Perubahan. Allah ﷻ menegaskan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Ayat ini menegaskan bahwa perubahan besar berawal dari diri sendiri. Integritas pribadi, niat tulus, dan usaha keras adalah pondasi utama. Dalam dunia kepemimpinan, integritas menjadi kunci martabat; seorang pemimpin yang mampu menolak pemberian yang meragukan menunjukkan kualitas dirinya. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim).
Perubahan sejati berawal dari hati yang bersih dan tekad yang kuat. Keras berusaha menjadi jalan menuju perubahan, sementara ikhlas menerima menjadikan kita tenang menghadapi hasilnya. Integritas yang kokoh akan melahirkan bangsa dan lembaga yang bermartabat.
Dari lima pilar yang kita gali melalui ayat-ayat Al-Qur’an, kita belajar bahwa hidup seorang mukmin dibangun atas fondasi tekad yang bulat, tawakal yang mendalam, ikhtiar yang nyata, kesadaran bahwa rezeki hakikatnya dari Allah, serta komitmen untuk memulai perubahan dari diri sendiri. Semua itu menuntun kita pada satu kebenaran: kerja keras yang ikhlas akan selalu mendatangkan balasan dari Allah.
Allah berfirman: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39). Ayat ini menegaskan bahwa hasil tidak datang dari angan-angan, tetapi dari kerja sungguh-sungguh yang disertai doa dan tawakal. Bahkan hadiah, penghargaan, atau kebaikan yang datang melalui tangan manusia sesungguhnya hanyalah saluran; sumber sejatinya adalah karunia Allah.
Karena itu, mari kita teguhkan hati untuk berusaha tanpa lelah, berjuang tanpa pamrih, lalu menerima segala hasil dengan ikhlas. Inilah jalan ketenangan hidup, sebab janji Allah pasti benar: “Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120).
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kuat dalam ikhtiar, sabar dalam menerima, dan mulia dalam balasan-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung