UINSGD.AC.ID (Humas) — Pada hari-hari ini bangsa kita memperingati dua momentum penting: Hari Pahlawan 10 November dengan tema “Pahlawan Teladan Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan”, dan Hari Ayah Nasional 12 November sebuah pengingat bahwa banyak pahlawan hadir tanpa seremoni, termasuk di dalam keluarga kita. Kedua hari besar ini memberikan pesan yang sangat kuat: bahwa kemajuan tidak lahir dari doa tanpa usaha, dan usaha tidak berarti tanpa tawakal. Dari itu semua, paling tidak ada Lima Pesan Utama untuk Membangun Generasi Hebat:
Pertama, Tawakal Meneguhkan Hati, Ikhtiar Menggerakkan Kehidupan. Tawakal bukan pasrah, tetapi keyakinan kokoh setelah usaha maksimal. adalah sebuah ungkapan bijak yang secara indah merangkum dua pilar penting dalam menjalani kehidupan, terutama dalam perspektif Islam. Ungkapan ini mengandung makna filosofis yang mendalam dan saling melengkapi. Tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT setelah melakukan usaha yang maksimal. Ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah sikap mental dan spiritual. Meneguhkan hati mengacu pada ketenangan batin, kedamaian jiwa, dan kepercayaan penuh bahwa segala hasil adalah atas kehendak-Nya.
Maknanya: Ketika seseorang bertawakal, ia melepaskan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan akan kegagalan. Hatinya menjadi teguh, tentram, dan optimis karena ia yakin bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik menurut ketetapan Tuhan. Ini memberikan kekuatan mental untuk menghadapi cobaan dan hasil yang tidak terduga. Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah cukup baginya.” (At-Talaq: 3)
Nabi SAW bersabda: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, doa harus diiringi rencana, rencana harus ditindaklanjuti dengan kerja. Inilah fondasi perjuangan para pahlawan bangsa: hati bertawakal, tangan bekerja.
Kedua, Tawakal Melahirkan Keberanian Moral. Tawakal, yang berarti berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah setelah melakukan usaha maksimal, memang dapat menjadi sumber keberanian moral yang kuat. Keyakinan bahwa segala hasil berada di tangan Tuhan membebaskan individu dari ketakutan akan kegagalan atau penolakan manusia. Tawakal, atau berserah diri kepada Tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin, dapat memberikan kekuatan dan ketenangan batin. Keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya dapat membantu seseorang dalam menghadapi tantangan dan membuat keputusan moral. Rasulullah SAW berkata kepada Abu Bakar di Gua Tsur:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (At-Taubah: 40).
Keberanian moral lahir dari keyakinan batin bahwa Allah tidak meninggalkan hamba-Nya. Dalam pendidikan, keberanian moral berarti: 1) Guru berani jujur walau sulit; 2) Kepala sekolah berani menegakkan disiplin; 3) Siswa berani memilih jalan benar meski tak populer. Ini karakter generasi juang yang kita cita-citakan.
Ketiga, Kerja Keras adalah Tiang Kemajuan. Sebuah pepatah atau pernyataan motivasi yang kuat. Ini berarti bahwa kemajuan, baik secara pribadi, dalam masyarakat, atau dalam sebuah negara, sangat bergantung pada usaha dan dedikasi yang sungguh-sungguh. Pepatah ini menyoroti bahwa tanpa kerja keras, kemajuan tidak akan terjadi secara otomatis. Usaha yang konsisten dan tekun adalah fondasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (Ar-Ra’d: 11)
Dan Nabi SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
Para pahlawan dahulu menorehkan sejarah dengan keringat dan pengorbanan. Kita hari ini memajukan bangsa melalui: 1) disiplin, 2) ilmu, 3) profesionalitas, 4) dan integritas. Inilah jihad peradaban masa kini.
Keempat, Tawakal Menjauhkan Kita dari Putus Asa merupakan prinsip penting dalam Islam yang dapat menjauhkan seseorang dari putus asa. Tawakal mengajarkan bahwa meskipun manusia wajib berusaha sekuat tenaga, hasil akhir sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Kesadaran ini membantu seseorang untuk tidak merasa gagal secara total ketika hasil tidak sesuai harapan, karena ia mengerti ada takdir di luar kendalinya. Singkatnya, tawakal mengubah perspektif dari fokus pada “hasil yang diinginkan” menjadi fokus pada “menjalankan perintah Tuhan untuk berusaha dan berserah diri”, yang pada akhirnya membebaskan diri dari belenggu kekhawatiran berlebihan dan putus asa. Allah SWT berpesan:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (Az-Zumar: 53).
Dan Nabi SAW bersabda: “Doa adalah senjata seorang mukmin.” (HR. Hakim).
Di dunia pendidikan, keluarga, dan ekonomi, kita sering menghadapi kelelahan. Tawakal mengingatkan bahwa: 1) usaha dinilai dari kesungguhan, 2) hasil berada di tangan Allah, 3) dan setiap kesulitan pasti membawa pertolongan.
Keliama, Kerja Keras Seorang Ayah adalah Kepahlawanan yang Sering Terlupakan. Pernyataan ini adalah pengingat penting bagi kita untuk melihat lebih dalam dari peran tradisional dan menghargai ketekunan, kerja keras, dan pengorbanan sehari-hari yang dilakukan oleh para ayah demi kesejahteraan keluarga. Upaya mereka merupakan bentuk kepahlawanan sehari-hari yang layak diakui dan dirayakan. Memperingati Hari Ayah Nasional (12 November), kita diingatkan pada pahlawan yang bekerja dalam diam. Allah memuji orang tua yang berjuang:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Ya Allah, rahmatilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka mendidikku waktu kecil.” (Al-Isra: 24).
Nabi SAW bersabda: “Ridha Allah ada pada ridha orang tua.” (HR. Tirmidzi).
Ayah bekerja tanpa banyak bicara. Ayah memikul beban, mencari nafkah, menjaga harga diri keluarga. Mereka adalah pahlawan tanpa pangkat.Untuk hal itu, Mari kita doakan ayah-ayah kita baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Allahumma ighfir lahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum… Alhamdulillāh, segala puji milik Allah.
Momentum Hari Pahlawan dan Hari Ayah mengajarkan bahwa kemajuan bangsa dibangun oleh hati yang berserah, akal yang bekerja, dan teladan yang hidup. Tiga pilar generasi juang: 1) Tawakal yang benar → menjaga hati dari takut dan putus asa; 2) Kerja keras yang terukur → membawa perubahan nyata; 3) Keteladanan → menggerakkan orang lain Mari kita membangun keluarga, sekolah, dan masyarakat yang memadukan ketiganya.
Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk senantiasa melakukan ikhtiar-ikhtiar mulia sebagai upaya pengabdian kita kepada-Nya. Dan semoga kita juga dianugerahi keteguhan iman dan takwa untuk senantiasa bertawakal kepada Allah dan ridha pada semua takdir yang ditetapkan oleh-Nya.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung