UINSGD.AC.ID (Humas) — Memasuki minggu kedua bulan Agustus, tidak kurang dari seminggu ke tanggal 17 Agustus 2025 momen penting bagi bangsa Indonesia, lebih jauh dari itu Istana Negara sejak 23 Juli, telah meluncurkan Logo dan Tema Peringatan HUT RI ke 80, dengan Tema: “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju” sebagai syukur atas kemerdekaan bangsa Indonesia ke-80.
Kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diraih pada tanggal 17 Agustus 1945 bukanlah hasil semata dari kekuatan fisik dan senjata, melainkan juga buah dari perjuangan yang dilandasi semangat keimanan dan doa yang tak putus dari para pejuang dan ulama.
Hari-hari ini bangsa Indonesia tengah bersiap memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ini bukan sekadar momen seremonial. Ini adalah saat untuk merenung, bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan sungguh-sungguh?
Syukur bukan hanya diucapkan di lisan, tetapi diwujudkan dalam tindakan. Bukan hanya dengan upacara, tapi dengan kerja keras. Bukan hanya dengan pidato, tapi dengan kontribusi nyata. Allah telah memperingatkan kita dalam firman-Nya:
إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْۗ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Imam At-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menjadi peringatan bahwa kenikmatan yang telah Allah berikan bisa berubah menjadi musibah apabila manusia berlaku zalim dan saling bermusuhan. Oleh karena itu, di hari kemerdekaan ini, mari kita jadikan rasa syukur kita sebagai kekuatan untuk berkarya nyata. Mari kita bangun negeri ini dengan amal, dengan ilmu, dengan kejujuran, dengan toleransi, dan dengan kepemimpinan yang amanah.
Untuk itulah, mari kita renungkan dan praktikkan, paling tidak pada lima bentuk syukur yang nyata demi terwujudnya cita-cita “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Pertama, Syukur dengan menuntut dan mengajarkan ilmu. Ungkapan “Syukur dengan menuntut dan mengajarkan ilmu. Karena ilmu adalah kunci membangun bangsa. Allah berfirman:” mengandung makna bahwa mensyukuri nikmat Allah dapat dilakukan dengan menuntut dan mengajarkan ilmu. Ilmu dipandang sebagai kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa, dan Allah SWT menganjurkan untuk mencari dan menyebarkan ilmu. Karena ilmu adalah kunci membangun bangsa.
Allah berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Apakah sama orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu?” (QS. Az-Zumar: 9)
Banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk menuntut ilmu, bahkan mewajibkannya. Dengan demikian, menuntut dan mengajarkan ilmu adalah cara mensyukuri nikmat Allah SWT dan berkontribusi pada kemajuan bangsa. Ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan menuju kesuksesan dan kemuliaan, baik di dunia maupun di akhirat, seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber.
Kedua, Syukur dengan bekerja secara jujur dan professional. Nabi bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang jika ia bekerja, ia enyempurnakannya.” (HR. Al-Baihaqi)
Hadis ini, mengajarkan kepada Kita pentingnya bekerja secara jujur dan profesional. Maksudnya, Allah SWT menyukai hamba-Nya yang mengerjakan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh, penuh tanggung jawab, dan menghasilkan hasil yang terbaik. Bekerja dengan baik bukan hanya tuntutan duniawi, tetapi juga merupakan bentuk ibadah yang mendatangkan ridha Allah.
Ketiga, Syukur dengan merawat persatuan dan toleransi. Allah SWT mengingatkan:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat QS Al-Hujurat ayat 10 menjelaskan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, dan jika terjadi perselisihan, maka harus didamaikan. Ayat ini menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama muslim, serta menjauhi perpecahan.
Merawat persatuan dan toleransi berarti menjaga hubungan baik, saling menghormati, dan menghindari konflik, sehingga tercipta kedamaian dan rahmat dalam kehidupan.
Keempat, Syukur dengan kepedulian sosial. Kebajikan sejati tidak hanya tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang kepedulian dan berbagi dengan sesama. Allah SWT mengingatkan:
لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّى تُنفِقُوا مِمّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan sampai kepada kebaikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Ayat ini menekankan pentingnya kepedulian sosial dan berbagi, terutama dengan memberikan sebagian dari apa yang paling kita cintai.
Kepedulian sosial ini mendorong umat Muslim untuk peduli terhadap sesama dan berbagi rezeki yang telah Allah berikan. Kepedulian sosial ini merupakan wujud syukur atas nikmat yang telah diterima dan juga sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Kelima, Syukur dengan kepemimpinan yang adil dan amanah. Kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik dan penuh tanggung jawab. Rasulullah SAW., bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menekankan bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, baik itu keluarga, pekerjaan, maupun jabatan dalam skala yang lebih besar.
Dengan memahami dan mengamalkan hadits ini, diharapkan umat Islam dapat bekerja dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan agama.
Mari kita syukuri kemerdekaan ini dengan menjaga nilai-nilainya. Mari kita isi kemerdekaan dengan amal dan karya nyata, bukan sekadar kata. Karena hanya bangsa yang bersyukur yang akan terus ditambah nikmat oleh Allah.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Amiin.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung