5.334 Peserta Ikuti SSE UM-PTKIN 2025 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ramah Difabel

UINSGD.AC.ID (Humas) — Pelaksana Harian (Plh.) Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Husnul Qodim, M.A., didampingi Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama (A2KK), Dr. Nur Arifin, M.Pd., Kepala Pusat PMB, Dr. M. Erihadiana, M.Pd., menerima kunjungan monitoring pelaksanaan Seleksi Sistem Elektronik (SSE) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2025. Kegiatan ini berlangsung di Laboratorium Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD) Lecture Hall Kampus I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu (11/6/2025).

Turut hadir dalam kunjungan itu Rektor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (Syahada) Padangsidimpuan, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag., selaku Panitia Nasional PMB PTKIN Anggota Bidang Pendaftaran dan Pelaksanaan, M. Rahman Bayumi, ME., Anggota Pokja Kesekretariatan, dosen UIN Palembang.

Ujian ini menjadi tahapan penting bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di seluruh Indonesia.

Yang menarik dalam penyelenggaraan UM-PTKIN 2025 adalah komitmen kuat terhadap prinsip inklusivitas dan aksesibilitas. Tahun ini, panitia memastikan peserta berkebutuhan khusus atau difabel dapat mengikuti ujian dengan lancar, aman, dan nyaman. Seleksi tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga menegaskan keberpihakan PTKIN pada nilai keadilan sosial dan keberagaman.

Ketua Panitia Nasional UM-PTKIN 2025, Masnun Tahir, menegaskan sejak awal pihaknya memberi perhatian khusus pada keterlibatan peserta difabel dalam proses seleksi.

“Kami di panitia nasional tidak hanya menyusun sistem ujian yang berkualitas, tetapi juga memastikan semua pihak, termasuk peserta difabel, memiliki kesempatan yang sama dalam meraih impian mereka. Oleh karena itu, kami menginstruksikan seluruh panitia lokal di setiap lokasi ujian untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang ramah difabel,” jelas Masnun.

Filosofi pendidikan Islam yang mengedepankan nilai keadilan (‘adl), tanggung jawab (khilafah), dan kasih sayang (rahmah) menjadi landasan kuat PTKIN dalam mewujudkan kampus yang ramah difabel. UM-PTKIN 2025 bukan sekadar seleksi masuk, tetapi menjadi simbol komitmen PTKIN dalam memberikan akses pendidikan tanpa diskriminasi.

Masnun menegaskan, “PTKIN tidak boleh menutup diri dari siapa pun yang ingin belajar. Justru sebagai institusi pendidikan Islam, kita harus menjadi contoh dalam keberpihakan terhadap kelompok rentan, termasuk difabel. Kampus kita adalah rumah bersama.”

Dalam laporannya, Prof. Husnul menyampaikan bahwa sebanyak 5.334 peserta mengikuti SSE UM-PTKIN 2025 yang berlangsung selama lima hari, mulai 10 hingga 15 Juni 2025, dan terbagi ke dalam 14 sesi. Dari total peserta berjumlah 5.334 terdapat sembilan pendaftar difabel. Empat orang telah terverifikasi dan dapat dihubungi, empat lainnya dinyatakan tidak valid, dan satu peserta belum memberikan konfirmasi.

“Untuk sesi keempat (Rabu pagi), panitia sudah menyiapkan tempat ujian khusus difabel. Alhamdulillah, peserta yang bersangkutan dalam kondisi sehat, hanya terjadi kesalahan dalam memilih opsi saat pendaftaran,” jelas Prof. Husnul.

Dengan partisipasi peserta difabel yang berjalan lancar, UM-PTKIN 2025 menjadi bukti bahwa penyelenggaraan pendidikan tinggi dapat mengedepankan keadilan, humanisme, dan inklusivitas. Kolaborasi panitia nasional dan lokal berhasil mewujudkan proses seleksi yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga beretika.

Penyelenggaraan UM-PTKIN 2025 di PTKIN bukan sekadar ajang seleksi, tetapi juga laboratorium pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, termasuk kesetaraan dan penghargaan terhadap sesama manusia.

 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *