Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita bersyukur karena hari ini masih diberi kesempatan menjalani hari-hari Ramadan yang penuh berkah.
Kini kita telah memasuki sepuluh hari kedua Ramadan, fase yang oleh para ulama disebut sebagai fase maghfirah, yaitu masa ketika Allah membuka pintu ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ
“Awal Ramadan adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Para ulama seperti Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menjelaskan bahwa sepuluh hari kedua Ramadan adalah momentum tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa melalui taubat, muhasabah, dan peningkatan kualitas ibadah. Pada fase ini seorang mukmin diajak melakukan perjalanan spiritual:
– Hari 11–12: Muhasabah, mengevaluasi dosa dan kekurangan diri
– Hari 13–14: Taubat nasuha, kembali kepada fitrah
– Hari 15–16: Tarbiyah sosial, menumbuhkan kepekaan terhadap penderitaan sesama
– Hari 17–18: Menjaga kualitas shalat berjamaah dan ibadah sunnah
– Hari 19–20: Menguatkan doa dan zikir sebagai sumber ketenangan jiwa
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam konteks inilah Ramadan juga mengajarkan tafakur, yaitu perenungan mendalam yang menyatukan zikir dan pikir. Tafakur menjadikan manusia tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga sadar akan makna kehidupan. Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيٰتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190).
Ayat ini menggambarkan bahwa orang beriman adalah ulul albab, yaitu mereka yang memadukan zikir kepada Allah dan tafakur terhadap ciptaan-Nya. Dari sinilah setidaknya ada tiga pelajaran tafakur di sepuluh hari kedua Ramadan.
Pelajaran Pertama: Tafakur Menguatkan Iman. Ketika manusia merenungi ciptaan Allah langit yang luas, bintang yang berderet, dan kehidupan yang terus bergerak ia akan menyadari kebesaran Sang Pencipta. Allah SWT berfirman:
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ
“Mereka yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring serta memikirkan penciptaan langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 191).
Hikmah ayat ini: iman tidak hanya tumbuh dari ibadah ritual, tetapi juga dari kesadaran akal yang merenung.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Kedua: Tafakur Menenangkan Jiwa. Kehidupan modern sering membuat manusia sibuk dan gelisah. Tafakur mengajarkan kita berhenti sejenak untuk kembali kepada Allah. Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)/
Hikmah ayat ini: zikir dan tafakur menjadikan hati tenang dan kehidupan lebih terarah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Ketiga: Tafakur Melahirkan Kepedulian Sosial. Tafakur juga menumbuhkan kesadaran sosial. Orang yang merenungi kehidupan akan menyadari bahwa banyak saudara kita yang hidup dalam kesulitan. Allah SWT berfirman:
وَفِيْ أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوْمِ
“Dan pada harta mereka terdapat hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19).
Hikmah ayat ini: Ramadan mendidik kita merasakan lapar agar tumbuh empati kepada fakir miskin.
Jamaah rahimakumullah,
Ramadan adalah madrasah penyucian jiwa. Orang yang sering bertafakur akan memiliki hati yang lembut, akal yang jernih, dan iman yang kuat. Ia tidak mudah putus asa, tidak mudah iri, dan tidak mudah terjebak oleh kesibukan dunia.
Sebagai penutup khutbah pertama ini, marilah kita jadikan Ramadan sebagai madrasah tafakur dalam kehidupan kita: (1) Tafakur dalam ibadah agar iman semakin kuat; (2) Tafakur dalam kehidupan agar hati semakin tenang; (3) Tafakur dalam bermasyarakat agar tumbuh kepedulian sosial. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba yang mampu memadukan zikir dan pikir dalam kehidupan.
A. Rusdiana Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung