3 Nilai Dakwah Nabi di Era Society 5.0

Ilustrasi mencintai sosok Nabi Muhammad SAW / foto NU Online

UINSGD.AC.ID (Humas) — Kita hidup di zaman yang disebut era Society 5.0, yaitu era ketika kecerdasan buatan, big data, dan teknologi digital hadir bukan hanya untuk industri, tetapi juga menyatu dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, teknologi memberi kemudahan, tetapi di sisi lain bisa melalaikan manusia dari tujuan hakiki hidupnya. Karena itu, ada tiga pelajaran penting dari risalah Nabi Muhammad ﷺ yang sangat relevan untuk kehidupan digital kita.

Pertama, Tauhid sebagai Fondasi Kehidupan Digital. Tauhid menegaskan bahwa manusia hanya bergantung kepada Allah, bukan kepada berhala. Di era ini, “berhala modern” bisa berupa harta, teknologi, bahkan popularitas. Padahal, tujuan hidup manusia hanyalah beribadah kepada Allah semata. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt [51]: 56)

وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Māidah [5]: 23)

Dengan demikian, teknologi hanyalah sarana, bukan tujuan hidup.

Kedua, Memuliakan Martabat Manusia. Nabi ﷺ datang di tengah masyarakat yang merendahkan perempuan, anak-anak, dan kaum lemah. Beliau mengajarkan kesetaraan, penghormatan, dan kasih sayang kepada semua manusia. Dalam dunia digital hari ini, penggunaan teknologi harus berpihak pada keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan umat. Allah berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

“Dan sungguh, telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 70)

Ayat ini menegaskan, manusia memiliki martabat yang tinggi, sehingga teknologi harus digunakan untuk memuliakan, bukan merendahkan.

Ketiga, Persatuan dan Kolaborasi dalam Keberagaman. Nabi ﷺ berhasil mempersatukan umat yang sebelumnya tercerai-berai. Spirit persatuan ini sangat relevan menghadapi tantangan digital, seperti polarisasi politik, hoaks, dan individualisme. Islam menuntun kita untuk menjaga ukhuwah dan membangun kolaborasi demi kemaslahatan. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 103)

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 10)

Maka, mari kita jadikan teknologi sebagai sarana memperkuat persaudaraan, bukan sumber perpecahan.

Tiga pesan dakwah Nabi ini tauhid, memuliakan martabat manusia, serta persatuan, hendaknya kita jadikan pegangan dalam menghadapi era digital. Semoga kita mampu menggunakan teknologi sebagai sarana ibadah, membangun kemaslahatan, dan menjaga ukhuwah Islamiyah.

Dari dakwah Nabi Muhammad saw kita belajar tiga hal penting: Pertama, Tauhid menjadi fondasi dalam menghadapi kemajuan teknologi; Kedua, Memuliakan martabat manusia adalah tujuan utama dalam pemanfaatan ilmu dan teknologi; Ketiga, Persatuan dan kolaborasi adalah kunci untuk menghadapi tantangan global di era Society 5.0.

Marilah kita teladani Rasulullah saw, sehingga kita tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pengendali peradaban yang beriman, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat manusia.

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *