3 Niat: Fondasi Sekolah Ramadan, Madrasah Ketakwaan

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا لِلتَّرْبِيَةِ وَالتَّزْكِيَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

 

UINSGD.AC.ID (Humas) — Tiada kata yang paling pantas kita ucapkan pada siang kali ini selain Alhamdulillah was-syukru ‘ala ni’amillah. Puji dan syukur marilah kita sanjungkan ke hadirat Allah yang maha luhur. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Alam Nabi Besar Muhammad saw. juga kepada keluarga, para sahabat, tabi’in dan tabiatnya, hingga kepada kita selaku umatnya. Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri dan jamaah Jumat sekalian, marilah kita sama-sama mempertahankan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Robbul Izzati. Sebab, ketakwaanlah yang menjadi bekal terbaik, baik saat di dunia maupun saat meninggalkan dunia fana ini.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Terlebih kita telah memasuki hari-hari awal Ramadan, bulan tarbiyah ruhiyah, bulan pendidikan jiwa. Rasulullah SAW bersabda: إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menjadi fondasi kehidupan seorang mukmin. Niat bukan sekadar ucapan dalam hati, tetapi arah dari seluruh perjalanan hidup kita.

 Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan yang mulia, Ramadhan 1447 H. Marilah kita tingkatkan iman dan takwa, serta menyambut bulan ini dengan gembira Ramadhan adalah kesempatan terbaik untuk menyucikan diri dan menjadikan bulan ini sebagai madrasah (sekolah) ketakwaan untuk membangun kembali fondasi iman dan karakter kita. Ramadan adalah madrasah yang melatih kita meluruskan niat. Kita bangun sahur bukan karena lapar, kita menahan diri bukan sekadar karena kesehatan, tetapi karena Allah. Ramadan adalah sekolah yang pertama-tama mengajarkan kita tentang niat. Sebagaimana tergambar dalam untaian hikmah:

Al-Qur’an dibaca penuh harapan,

Tasbih mengalun di waktu sahur,

Niat menjadi pondasi iman,

Agar amal tak gugur dan hancur.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dari titik inilah, setidaknya ditemukan tiga Pembelajaran Ramadan dari Niat. Pertama, Niat melahirkan keikhlasan dalam ibadah. Melahirkan keikhlasan dalam ibadah sering kali dianggap sebagai “pelajaran pertama” bagi setiap hamba karena merupakan pondasi diterimanya suatu amal. Keikhlasan tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses pemurnian niat agar semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi melatih hati agar semua dilakukan karena Allah. Allah SWT berfirman:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5). Ayat ini menegaskan bahwa inti ajaran Islam adalah tauhid (mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah), konsistensi dalam ibadah ritual (shalat), serta kepedulian sosial (zakat).

Ramadan mendidik kita: bekerja karena Allah-mencari ilmu karena Allah- mendidik anak karena Allah Jika niat lurus, maka hidup menjadi bernilai ibadah.

Jamaah rahimakumullah,

Kedua, Niat melahirkan kepedulian dan keadilan sosial dalam pendidikan. Niat melahirkan kepedulian dan keadilan sosial dalam pendidikan adalah landasan fundamental untuk menciptakan sistem pendidikan yang inklusif, merata, dan transformatif. Niat ini berfokus pada upaya penghapusan penindasan sistemik, serta memastikan setiap individu, terlepas dari latar belakang sosial-ekonomi, ras, gender, atau kemampuan, mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang setara.

Dengan niat yang kuat, keadilan sosial bukan hanya sekadar teori, melainkan praktik nyata yang memberdayakan individu untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik yang lebih adil. Firman Allah dalam Al-Qur’an, Salah satu firman Allah yang paling relevan mengenai kewajiban menegakkan keadilan adalah Surah An-Nisa ayat 135:

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Artinya: “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. An-Nisa [4]:35).

Selain itu, dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8, Allah menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Aratinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ma’idah[5]:8).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa keadilan sosial dalam Islam bukan sekadar konsep abstrak, melainkan instruksi operasional untuk menciptakan kesetaraan tanpa memandang status sosial atau hubungan personal.

Ramadan mengajarkan empati: kita merasakan lapar agar peduli kepada yang lemah–kita berzakat agar pendidikan yang miskin tetap berjalan– kita bersedekah agar ilmu tetap menyala. Maka membantu pendidikan adalah bagian dari ibadah sosial.

Jamaah yang berbahagia,

Ketiga, Niat melahirkan generasi cerdas spiritual dan tangguh digital. Pelajaran ketiga dalam mendidik generasi saat ini berfokus pada keseimbangan antara kecerdasan ruhiyah (spiritual) dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi (tangguh digital). Melahirkan generasi ini berarti membentuk individu yang berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa, sekaligus cakap dan bijak dalam menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah.

Generasi yang tangguh digital adalah mereka yang tidak mudah terpengaruh dampak negatif internet, sementara generasi cerdas spiritual adalah mereka yang menjadikan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan ketaatan, bukan malah menjauhkan dari nilai-nilai agama. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

1) Perintah Menjadi Orang Berilmu dan Kritis (Tangguh Digital)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

2) Menggunakan Akal dan Teknologi untuk Kebaikan (Cerdas Spiritual)

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190).

3) Prinsip Menjadikan Teknologi sebagai Syukur (Bukan Maksiat)

اِعْمَلُوْٓا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗوَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“…Bekerjalah wahai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah). Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’ [34]: 13).

Singkatnya, generasi cerdas spiritual dan tangguh digital adalah mereka yang menggunakan teknologi sebagai sarana tafakkur (memikirkan ciptaan Allah), meningkatkan ketaatan, dan menerapkan prinsip tabayyun (cek dan ricek) agar tidak terjerumus pada hoaks dan dampak negatif internet. Kita hidup di era teknologi. Anak-anak kita harus kuat dalam ilmu dan kuat dalam iman. Bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi menggunakan teknologi untuk kebaikan, menggunakan ilmu untuk kemaslahatan, menggunakan pendidikan untuk keadilan.

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا ‌فِي ‌رَجَبَ وَشَعْبَانَ ‌وَبَلِّغْنَا ‌رَمَضَانَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَحَلاَلًا طَيِّبًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنا ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *