UINSGD.AC.ID (Humas) — Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia hari ini. Curah hujan tinggi, kerusakan lingkungan, serta tata kelola alam yang belum berkelanjutan menjadi faktor yang saling berkaitan, menimbulkan dampak serius bagi kehidupan masyarakat. Peristiwa ini mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar persoalan teknis, melainkan juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi.
Hubungan timbal balik antara manusia dan alam merupakan tugas yang melekat pada posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Amanah ini menuntut manusia untuk menjaga keseimbangan, merawat lingkungan, serta tidak bersikap eksploitatif terhadap alam. Ketika relasi tersebut rusak, bencana kerap menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Al-Qur’an memuat banyak kisah tentang bencana yang terjadi pada masa lalu. Kisah-kisah tersebut tidak sekadar narasi historis, melainkan mengandung ibrah yang dapat dijadikan pelajaran bagi umat manusia. Bencana dipotret sebagai peringatan sekaligus refleksi atas sikap manusia terhadap perintah dan nikmat Allah SWT.
Salah satu bencana yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an adalah banjir yang menimpa kaum-kaum yang menolak ajaran para nabi. Setidaknya terdapat tiga peristiwa banjir besar yang tercatat, yakni banjir pada masa Nabi Nuh AS, banjir azab yang menimpa Fir’aun dan pengikutnya, serta banjir azab terhadap Kaum Saba’.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan fenomena banjir, mengidentifikasi penyebab dan akibat terjadinya banjir-banjir tersebut, serta menarik korelasi antara banjir yang disebutkan dalam Al-Qur’an dengan peristiwa banjir yang terjadi pada masa kini.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah descriptive analysis, yakni dengan menghimpun ayat-ayat yang memiliki tema serupa untuk kemudian dianalisis melalui penafsiran sejumlah kitab tafsir klasik dan kontemporer, disertai analisis peneliti. Jenis penelitian ini termasuk library research dengan sumber data utama berupa Al-Qur’an, kitab tafsir, disertasi, tesis, skripsi, jurnal ilmiah, serta dokumen pendukung lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 16 ayat Al-Qur’an yang mengandung term banjir, dengan 10 bentuk istilah yang digunakan, yaitu ṭūfān, sail al-‘arim, fāra at-tannūr, agraqnā, faltaqa al-mā’u, ugriqū, mugraqūn, ṭaghā al-mā’u, maujin ka al-jibāl, dan al-mā’u. Penafsiran para mufassir terhadap ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa banjir dalam Al-Qur’an menimpa tiga kelompok utama, yaitu kaum Nabi Nuh AS, Fir’aun beserta pengikutnya, dan Kaum Saba’.
Penyebab utama terjadinya banjir-banjir tersebut adalah azab Allah SWT atas pembangkangan, kekufuran, dan penolakan terhadap ajaran para rasul. Akibatnya tidak hanya berupa kerusakan fisik dan perubahan kondisi alam, tetapi juga mengandung pesan teologis yang kuat: nikmat yang diberikan Allah SWT dapat berubah menjadi azab ketika manusia mengingkari dan menyalahgunakannya.
Korelasi antara banjir dalam Al-Qur’an dan banjir yang terjadi pada masa kini mencakup tiga aspek penting, yaitu banjir sebagai akibat dari ulah manusia, pentingnya upaya preventif dalam menghadapi potensi bencana, serta banjir sebagai pengingat bagi umat manusia untuk kembali menjaga keseimbangan hubungan dengan alam dan nilai-nilai ketuhanan.
Dengan demikian, fenomena banjir tidak hanya perlu dipahami sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga sebagai cermin tanggung jawab manusia dalam merawat bumi serta memperbaiki relasi spiritual, sosial, dan ekologis secara berkelanjutan.
Untuk mengetahui hasil penelitian Nakula Bagus Julyanto tentang Fenomena Banjir dalam Al-Qur’an pada tahun 2024 dapat diunduh pada laman ini