UINSGD.AC.ID (Humas) — Malam Lailatul Qadar, malam yang penuh keberkahan dan lebih baik dari seribu bulan, merupakan momen yang sangat dinanti-nantikan oleh umat Islam, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Malam ini diyakini sebagai waktu penuh rahmat dari Allah SWT, di mana segala amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut dilipatgandakan pahalanya. Oleh karena itu, umat Islam berlomba-lomba untuk mencari malam tersebut dengan berbagai amalan, seperti shalat malam, dzikir, dan ibadah lainnya.
Menurut Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Abdul Muiz Ali, malam Lailatul Qadar dapat dipahami dari perspektif Al-Qur’an dan hadis. Dalam penjelasannya, ulama yang akrab disapa Kiai AMA menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar.
“Yang pertama, tingkatan tertinggi adalah menghidupkan Lailatul Qadar dengan melaksanakan shalat malam. Kemudian, tingkatan kedua adalah menghidupkan Lailatul Qadar dengan dzikir. Sedangkan tingkatan yang paling rendah adalah dengan melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah,” ungkap Kiai AMA, dikutip dari MUIDigital, Kamis (20/3/2025).
Pada pandangan pertama, mungkin banyak yang menganggap bahwa shalat Isya berjamaah dan Subuh berjamaah adalah amalan yang sederhana. Namun, Kiai AMA menegaskan bahwa meskipun berada pada tingkatan yang lebih rendah, shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar tetap memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan, meskipun dianggap sebagai penghidupan malam pada tingkat yang paling dasar, amalan ini tetap sangat penting.
“Orang yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah berarti dia telah menghidupkan Lailatul Qadar, meskipun pada tingkat yang paling rendah. Ini sudah dianggap sebagai penghidupan malam Lailatul Qadar,” kata Kiai AMA dengan tegas.
Keutamaan melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah pada malam Lailatul Qadar juga dikuatkan dengan beberapa hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh para ulama. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm, yang menyatakan:
“Menghidupkan Lailatul Qadar bisa dengan melaksanakan shalat Isya berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah.”
Hadis ini menunjukkan bahwa hadir dalam shalat Isya berjamaah dan bertekad untuk melaksanakan shalat Subuh berjamaah sudah dianggap sebagai bentuk menghidupkan malam Lailatul Qadar.
Selain itu, terdapat riwayat dari Imam Malik yang disampaikan oleh Ibnul Musayyib:
“Siapa yang menghadiri shalat berjamaah pada malam Lailatul Qadar, maka ia telah mengambil bagian dari menghidupkan malam tersebut.”
Hadis ini semakin menegaskan bahwa hadir dalam shalat berjamaah, khususnya pada malam Lailatul Qadar, adalah salah satu cara untuk menghidupkan malam tersebut, meskipun tidak melaksanakan shalat malam penuh.
Sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan juga menguatkan keutamaan ini, yang mengatakan:
“Siapa yang menghadiri shalat Isya berjamaah, maka baginya pahala shalat separuh malam. Siapa yang melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah, maka baginya pahala shalat semalam penuh.”
Hadis ini sangat jelas menunjukkan bahwa melaksanakan shalat Isya dan Subuh berjamaah memberikan pahala yang sangat besar, bahkan setara dengan menghidupkan seluruh malam tersebut.
Kiai AMA juga mengingatkan bahwa setiap bentuk ibadah yang dilakukan dengan niat yang ikhlas akan dihargai oleh Allah SWT. Ia menegaskan bahwa meskipun tidak mampu melaksanakan shalat sunnah atau dzikir panjang, minimal menghadiri shalat Isya berjamaah dan Subuh berjamaah sudah cukup sebagai bentuk usaha untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar.
“Meskipun tidak mampu untuk melakukan shalat sunnah atau dzikir panjang, minimal kita menghadiri shalat Isya berjamaah dan mengikuti tarawih serta shalat Subuh berjamaah selama Ramadhan. Maka, kita sudah dianggap menghidupkan malam Lailatul Qadar meskipun kita tidak merasakannya langsung,” jelas Kiai AMA.