UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dua Wajah Dua Ekspresi

Ada dua ekspresi yang menyambut dan mengiringi manusia. Ketika dia dilahirkan ada wajah-wajah berseri dan senyuman manis menyambutya dan ketika dia wafat akan diantar oleh wajah-wajah yang sendu, kelam, dan isak tangis. Pertanyaannya, apakah orang yang disambut dengan tawa dan diantar dengan tangisan ketika datang dan meninggalkan dunia itu akan berwajah manis pula saat dibangkitkan di hadapan Allah? Atau sebaliknya ia akan berwajah murung dengan kepala tertunduk penuh kehinaan?

Inilah sebuah berita besar yang Allah sampaikan kepada manusia lewat firman-Nya dalam Alquran Surat Alghasiyah, “Hal ataaka hadiitsul ghasiyah?” (Maukah kamu Kuberitahu tentang sebuah peristiwa besar?)
Peristiwa yang dimaksud ayat tersebut adalah yaumul ba-ts (hari kebangkitan), yaumul jazaa (hari pembalasan, atau yaumul hisaab (hari perhitungan). Pada hari itu manusia terbagi ke dalam dua kelompok, yakni mereka yang berwajah kelam dan mereka yang berwajah berseri-seri.

Kelompok pertama, yaitu orang-orang berwajah kusam, kelam, dan kepala mereka tertunduk lesu. “Pada hari itu wajah-wajah mereka (terlihat kelam) tertunduk penuh kehinaan. Mereka terlihat berusaha keras (untuk menahan beban) dan sangat kelelahan (ketika) mereka dimasukkan ke dalam api yang menyala-nyala. Mereka diberi minuman yang sangat panas. Tidak ada makanan bagi mereka kecuali duri (yang) tidak akan membuat mereka kenyang dan menghilangkan lapar.” (QS. Alghasiyah :2-7)

Siapakah mereka? Mereka itu orang-orang yang tidak memanfaatkan segala potensi yang diberikan Allah sesuai dengan yang dikehendaku-Nya. Allah menciptakan manusia tiada lain agar mereka mengabdikan diri kepada-Nya. Nah, untuk kepentingan pengabdian itu Allah memberi berbagai modal, sarana-prasarana, dan berbagai fasilitas lainnya.

Allah telah membekali manusia dengan kesempuranaan fisik (laqad khalaqnal insaana fii ahsaani taqwiim). Allah memberikan otak dengan kemampuan berpikirnya, mata dengan kemampuan melihatnya, hidung dengan penciumannya, telinga dengan pendengarannya, lidah dengan pengecapannya, kulit dengan perabaannya, dan hati dengan perasaannya. Semua itu mestinya dioptimalkan untuk mengelola dunia dan kehidupan dalam upaya mengabdikan diri kepada Allah Swt.

Sayangnya, di antara manusia banyak yang lupa pada tugas yang harus dipikulnya. Mereka terjerat pada kecintaan terhadap diri dan dunia yang sangat berlebihan (hubbud dun-ya) sehingga semua fasilitas yang Allah berikan hanya dipergunakan untuk memenuhi kelezatan dunia yang ditiupkan oleh hawa nafsu dan bisikan setan.
Allah menggambarkan orang seperti ini laksana binatang ternak, bahkan lebih hina dari binatang, dan mereka akan menjadi penghuni neraka dengan wajah hitam kelam. “Sesungguhnya neraka jahannam itu dihuni oleh sebagian manusia dan jin. Mereka diberi hati tetapi tidak digunakan untuk merasa, mereka diberi mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda kebesaran Allah), diberi telingan tidak digunakan untuk mendengar (seruan ke jalan Allah). Mereka itu seperti binatang bahkan lebih hina dari binatang. Mereka itulah orang yang lalai.” (QS. Ala’raf : 179).
Sedangkan kelompok yang kedua, yaitu orang-orang dengan wajah berseri-seri. Mereka terlihat sangat bahagia. Siapakah mereka?

“Pada hari itu wajah mereka berseri-seri. Mereka bahagia karena kerja kerasnya (selama di dunia). Mereka tinggal di surga yang tinggi. Tidak terdengar perkataan yang tidak bermanfaat di antara mereka. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tahta yang ditinggikan, banyak piala-piala yang tersusun rapih, disediakan bagi mereka bantalan yang tertata indah, dan permadani-permadani yang terhampar.” (QS. Alghasiyah : 8-16).

Mereka tu orang-orang yang mampu memanfaatkan semua modal, fasilitas, serta sarana-prasarana secara optimal untuk mengabdikan diri kepada Allah. Mereka menganggap bahwa setiap langkah, detak jantung, desah nafas, kedipan mata, dan setiap ucapan merupakan amaliah bernilai ibadah yang selalu dipantau Allah dan dicatat sebagai bekal kembali pada-Nya.

Ramadan merupakan bulan penuh pahala. Bonus kebaikannya berlipat-lipat. Setiap saat, di Bulan Ramadan merupakan berkah. Itulah sebabnya, marilah kita memaksimalkan semua amalan dengan imaanan dan ishtisaaban, dengan keimanan dan kepasrahan pada Allah. Mari kita manfaatkan semua fasilitas yang Allah berikan sebagai tiket untuk menghadap pada-Nya dengan wajah yang berseri, wujuuhuy yauma-idzin naa’imah. Aamiin.

Dr. K.H. Jujun Junaedi, M.Ag. adalah Pimpinan Ponpes Al-Jauhari, Karangtengah, Garut, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Dewan Penasehat IKA UIN SGD Bandung.

Sumber, Syiar Ramadan Galamedia 21 Mei 2018