UIN Sunan Gunung Djati Bandung

UIN SGD Targetkan Menjadi Kampus Ilmuwan yang Religius

[www.uinsgd.ac.id] Tiga tahun ke depan UIN Sunan Gunung Djati Bandung menargetkan arah pengembangan “Kampus Ilmuwan nan Religius” dapat terealisasi, sehingga diharapkan bisa meningkatkan daya saing lulusan. “Untuk mengembangkan aspek akademik, yang berbasis teknologi informasi, Kami bekerja sama dengan berbagai pihak agar mampu meningkatkan sistem informasi pengetahuan yang bisa diakses secara global, knowledge management information system,” ungkap Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Mahmud, M.Si., di hadapan 653 wisudawan yang dilantik, di Aula Anwar Musadad, Jln. A.H. Nasution 105, Kota Bandung, Minggu (21/5/2007).

Melalui sistem tersebut, lanjutnya, pengembangan keilmuan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berbasis pada paradigma “wahyu memandu ilmu dalam bingkai akhlak karimah” mulai dikenalkan secara regional, nasional, bahkan menginternasional. Distingsi (pembeda) UIN dengan kampus lain, terletak pada penggalian khazanah keilmuan Islam klasik untuk dikembangkan dan diuji kembali di fakultas dan prodi-prodi umum.

Sementara fakultas dan prodi keagamaan belajar untuk melakukan sejumlah pendekatan dan metode penelitian baru yang lebih realistis, praksis dan langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dicontohkannya, Fakultas Psikologi UIN harus berbeda dengan fakultas psikologi perguruan tinggi lain. Teori Psikologi perkembangan Al-Ghazali, ada tahap mumayyiz (anak mulai membedakan manfaat dengan mudarat) memerlukan treatmen riyādhat al qalb dan tahdzib al akhlaq untuk memasuki maqam luft Ilahiyyah  sehingga mencapai tahap al-akhlaq al karimah.

“Tahapan ini dicapai oleh rata-rata anak/orang Indonesia pada usia berapa? Mungkin untuk menganalisisnya tidak lagi menggunakan psikologi kognitif-behaviorisme tetapi meta kognitif, eksistensial bahkan logo-terapi-sufistik. Dalam hal ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung harus menjadi center of excellent dalam pengembangan Psikologi Islam dengan tetap berpatokan pada kaidah keilmuan yang disepakati oleh para ilmuwan psikologi itu sendiri,” tegasnya.

Mengutip pendapat Ibnu Khaldun, Mahmud mengatakan, fenomena sosial manusia mencapai puncaknya pada ilmu, teknologi dan pewarisan kebudayaan. Penggeraknya terdapat dalam ‘asabiyyah, semacam social group feeling yang melahirkan tindakan politik yang dapat merampas kelengkapan negara. Dewasa ini, ‘asabiyyah kerap kali dipengaruhi oleh agama, sehingga muncul ISIS dan beberapa gerakan Islam transnasional yang cenderung radikal, yang saat ini tengah mengancam nasionalisme dan tanggungjawab generasi muda Bangsa Indonesia terhadap negaranya.

“Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dapat melakukan riset ini hingga mampu mengungkap sejumlah variabel tautan yang bisa digunakan untuk mencegah radikalisme dan terorisme. Inilah yang disebut dengan Islamic social sciences,” ujarnya.

Menurutnya, hanya pada masa keemasan Islam, keseimbangan ekologis terpelihara dengan baik karena pada masa itu masyarakat Islam menerapkan teori Ibnu Bassal yang menulis lengkap tentang 10 lapisan tanah. Bassal menyimpulkan bahwa kemajuan pertanian Islam selalu dibalut oleh kepedulian mereka terhadap lingkungan alam ‘With a deep love for nature, and a relaxed way of life, classical Islamic society’.

Ibnu Bassal menandai potensi-potensinya agar berguna bagi pertanian melalui perhitungan pergantian musim yang cocok dengan kebutuhan lokal sambil mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dari berbagai aliran  mulai dari Yunani, Aleksandria, Romawi, India, Babilonia, sampai ke Cina. Lantas ia terapkan dari mulai Timur dekat, Maghribi hingga Andalusia Bolens.

Kini, lanjutnya, perubahan iklim yang ekstrim sebagai dampak dari kecerobohan umat manusia dalam memperlakukan alam telah menjadi ancaman nyata yang bersifat global. Oleh karena itu, imbuh Mahmud, Fakultas Sains dan Teknologi UIN hendaknya siap-siap meneliti rahasia-rahasia temuan para ilmuwan muslim klasik seperti Ibnu Bassal ini dalam menjaga lingkungan dan ekosistem global yang kini sedang sekarat.

“Setelah fakultas dan prodi umum berhasil menemukan dan menganyam ulang lipatan-lipatan sejarah tradisi sains Islam (Islamic stientific tradition), UIN Sunan Gunung Djati Bandung berpeluang untuk berperan meliterasi umat Islam melalui sains Islam. Ilmu dengan amaliah keagamaan menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi,” ujarnya.

Menurut Mahmud, untuk mencapai semua itu,  sumber daya manusia (SDM) UIN Bandung, mulai dari para pejabat di rektorat hingga tukang ikat diktat harus bekerja keras mengejar ketertinggalan dalam penguasaan dan pemanfaatan teknologi informasi. [Humas Al-Jamiah]