UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Mengikat Janji di Hudaibiyah

Hudaibiyah adalah sebuah situs bersejarah yang menjadi destinasi ziarah di kota Mekkah. Situs yang berjarak 25 KM dari Masjidil Haram ini, erat kaitannya dengan sebuah perjanjian dan diplomasi politik yang dilakukan Rasululloh saw dengan kaum musrikin Mekah. Perjanjian ini disepakati pada bulan Zulkaidah tahun ke 6 Hijrah yang bertepatan dengan bulan Maret 628 M ketika Rasululloh beserta sekitar 1400 kaum muslimin berangkat dari Madinah menuju Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.

Dengan tujuan hanya menjalankan titah Allah sebagaimana tersurat dalam QS al-Hajj ayat 26-27, Rasululloh yang disertai para sahabat, hanya membawa perbekalan untuk kepentingan ibadah haji semata.  Bahkan untuk menjaga kemurnian niat tersebut, rute perjalanan yang ditempuh Rasululloh bukan rute yang biasa dilalui masyarakat umum. Setelah menaiki dan menuruni berbagai tebing bebatuan yang terjal berliku, unta yang ditunggangi Rasululloh berhenti di lembah Hudaibiyah.  Rasululloh menangkap hal tersebut sebagai isyarat dari Allah agar rombongan berhenti di tempat itu.

Berbarengan dengan itu,  Khalid bin Walid, yang kala itu menjadi pimpinan pasukan  Musrikin Mekah, mencurigai keberadaan rombongan Rasululloh di Hudaibiyah membawa misi untuk melakukan invasi kota Mekkah. Karena itu, Ia menyiapkan pasukan penghadang yang bersumpah tidak akan membiarkan kaum muslimin menginjakan kakinya di kota Mekah. Untuk mengetahui lebih detil motif kedatangan rombongan Rasululloh, Khalid mengirimkan empat orang utusan secara bergantian. Mereka adalah Budail bin Warqa, Mikraz bin Hafs, Halis bin Alqamah dan Urwah Bin Masud. Meski keempat orang utusan itu menyatakan bahwa kedatangan kaum muslimin ke kota Mekah semata-mata untuk melaksanakan ibadah haji, namun para pemuka Musrikin Mekkah tidak mempercayainya.

Untuk meyakinkan mereka, Rasulullohpun mengutus Khurasy bin Khuza’ah untuk berdiplomasi. Namun Khurasy tidak dipercayai dan kembali ke Hudaibiyah dalam keadaan luka karena dianiaya. Setelah itu Rasululloh mengutus Utsman bin Affan. Tetapi tidak lama setelah itu, tersiar kabar bahwa Utsman di bunuh kaum musrikin. Atas kabar itu, Rasulullah dan para sahabat mengangkat sumpah setia, untuk saling menjaga, saling membela, tidak akan lari, tidak takut mati, dan terus berjuang dalam keadaan apapun. Sumpah itu dikenal dengan “Baiat ar-Ridwan”. Allah memperkanakan baiat tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Fath ayat 18: “sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat”.

Setelah rombongan Rasulullah mengambil sumpah setia, Allah menjaga Utsman dari aniaya. Ternyata ia tidak mati dibunuh, melainkan hanya ditahan. Namun efek Baiat ar-Ridwan cukup menggetarkan kaum musrikin Mekah. Mereka segera mengutus Suhayl bin Amr untuk berdplomasi dengan Rasulullah. Buah dari diplomasi itu lahirlah lima butir kesepakat damai yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Meski secara logika perjanjian ini merugikan kaum muslimin, namun Rasulullah meyakini perjanjian ini merupakan awal kemenangan bagi umt Islam. Kemenangan itu terbukti, sebagaimana diungkapkan Allah dalam Surat Al-Fath ayat 1-3.

Atas fakta historis tersebut, Hudaibiyah sampai kini menjadi destinasi ziarah yang tidak luput dari kunjungan jemaah haji maupun umroh. Kunjungan tersebut tentu saja bukan sekedar kunjungan biasa, tetapi kunjungan yang bisa menghadirkan spirit Rasulullah dan para sahabat ketika mengikarkan sumpah setia. Saat ziarah ke Hudaibiyah sejatinya para jemaah bisa mengikat janji untuk setia kepada Allah dan Rasulullah. Yakni, setia untuk tetap menjalankan perintah Allah dalam segala kondisi apapun, setia untuk terus menjaga Islam sampai kapanpun dan setia untuk menjaga Al-Quran dari para penistanya meski harus mati sekalipun.

Jika kesetiaan janji itu tetap terjaga, Allah menegaskan; “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menetapi janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. [Al-Fath/48 : 10]. Semoga.

Aang Ridwan adalah pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Aktif Sebagai Sekretaris Jurusan Komunikasi dan penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pikiran Rakyat, pada kolom Antar Kita, rubrik Haji dan Umroh pada tanggal 8 November 2016