UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Inspirasi Tulisan Yuni Termotivasi dari Panyakit Ibunya

[www.uinsgd.ac.id] Writing Competition Djarum Beasiswa Plus 2017-2018 di Kota Bandung telah melahirkan 4 pemenang yang akan melaju ke tahap Final Nasional di Jakarta. Mereka yang terpilih dari kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah Yuni Kulsum dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung dengan tema karya tulis “Haematococcus Pluvialis : Mikroalga Anti-Katarak” dan Muhammad Arief Sasmita dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan esai berjudul “Pemanfaatan Logam Berharga pada Sampah Elektronik dengan Jalur Biohidrometalurgi”.

Sedangkan dua terbaik dari kategori Humaniora, Budaya dan Ilmu Sosial adalah Ade Nur’Adliyah dari Universitas Swadaya Gunung Jati dengan esai berjudul “Upaya Meningkatkan Kesadaran Masyarakat akan Pentingnya Kebersihan Lingkungan Melalui Perlombaan” dan Hena Rifa Fauziyah dari Universitas Swadaya Gunung Djati dengan esainya bertajuk “Bantu Orangtua Tolak Ketinggalan Zaman”.

Keempat pemenang itu berhasil setelah berkompetisi dalam Final Region di Bandung yang melibatkan, sepuluh peserta finalis yang berasal dari ITB, Unpad, Unjani, UIN Sunan Gunung Djati, Universitas Widyatama, Universitas Kristen Maranatha dan UIN Syekh Nurjati Cirebon. ‎ Selama berkompetisi di hadapan para juri yakni; Harimukti Wandebori (Dosen SBM ITB), Budhiana Kartawiiaya (Kepala Pusat Data dan Riset Harian Umum Pikiran Rakyat), dan Gandjar Suwargani (Praktisi Bisnis, pemilik OZ Radio), para peserta yang merupakan para Beswan Djarum 2017/2018 itu harus mampu mempresentasikan karya tulisnya dengan baik. Selain itu para juri menilai terkait orisinalitas dan rekomendasi-rekomendasi realisasinya bagi masyarakat.

Writing Competition merupakan salah satu program kompetisi bagi penerima Djarum Beasiswa Plus yang bertujuan untuk melatih kemampuan peserta penerima program, yang dikenal sebagai Beswan Djarum, dalam berkomunikasi dan menuangkan gagasan. Program Writing Competition Beswan Djarum 2017-2018 telah memasuki tahapan Final Regional Bandung yang di gelar di Hotel The Luxton, Bandung, Selasa (24/7). ‎

Menurut Program Associate Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Laksmi Lestari, Writing Competition merupakan salah satu program Djarum Beasiswa Plus yang memfasilitasi Beswan Djarum untuk berpikir kritis terhadap berbagai permasalahan bangsa, menuangkan gagasannya dalam bentuk esai berdasarkan keilmuan yang ditekuninya.

“Para peserta juga mempresentasikan hasil olah otak tersebut dalam sebuah presentasi singkat. Inilah salah satu bentuk tantangan bagi penerima beasiswa kami untuk bangkit menciptakan solusi atas fenomena yang terjadi di lingkungan sekitamya,” kata Laksmi di sela acara.

Writing Competition Beswan Djarum 2017-2018, kata Laksmi, ‎memperlombakan dua kategori yakni Humaniora (Budaya dan llmu Sosial) serta llmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Sepuluh finalis tersebut telah melalui tahapan penyaringan yang ketat. Final Regional di Bandung menetapkan total 4 finalis terbaik untuk 2 tersebut kategori yang akan melaju ke fase berikutnya, yakni berkompetisi di Final Nasional, bersaing dengan para finalis terbaik dari regional-regional lainnya di Indonesia.

“Writing Competition merupakan salah satu skills Djarum Beasiswa Plus. Kompetisi dibuka bagi mereka yang telah mengikut dua soft skills utama kami, yakni Character Building serta Leadership Development. Dalam pelatihan ini, Beswan Djarum diberikan ‎pembekalan membangun karkter yang Iuhur, peduli, mandiri, serta bagaimana menjadi pemimpin yang visioner, mampu berkomunikasi baik lisan dan tertulis serta piawai memotivasi untuk membawa perubahan,” katanya.

Kompetisi ini, menurut Laksmi, dibuka bagi 500 Beswan Djarum 2017/2018 dari 90 perguruan tinggi di 34 provinsi di Indonesia. Pada prosesnya, karya tulis mereka diseleksi oleh dewan juri masing-masing regional yaitu Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya.

‎‎‎Salah seorang Juri, Budhiana, menyebutkan bahwa peserta wajib memiliki life skills yang terdiri dari hard skills dan soft skills. Di kampus, mahasiswa sudah mendapatkan akademik (hard skills), sedangkan soft skills ini berfungsi sebagai pelengkap, tetapi keberadaannya tidak boleh dikesampingkan agar mereka memiliki kepekaan atau empati dan keinginan untuk memecahkan permasalahan.

“Jadi jangan sampai mereka ini sudah dapat hard skills tapi tidak tahu cara menerapkan ilmunya dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Budhiana.

Sementara Harimukti mengaku sangat mengapresiasi kompetisi tahun ini karena banyak melahirkan ide-ide baru yang segar dan patut diperhitungkan. “Sebagai contoh ada ide tulisan untuk menyembuhkan diabetes melitus dengan alga, atau ada rumah 3D printing yang bisa cepat dibangun,” katanya.

Sementara Gandjar Suwargani mengapresiasi adanya gagasan tulisan untuk melakukan perubahan di masyarakat. “‎Salah satu contohnya dengan ide character building di tengah masyarakat, itu menjadi bagian dari ide yang out of the box,” katanya.

Beswan yang Menang Ini Termotivasi karena Panyakit Ibunya

Rasa syukur dan terharu dirasakan Yuni Kulsum saat dewan juri menyebutkan namanya menjadi wakil Bandung. Yuni berurai air mata dan mengucap sujud syukur.

Beswan Djarum dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung yang terpilih sebagai pemenang dari kategori Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ini berhasil membuat para juri tertarik lewat karya tulisnya yang berjudul “Haematococcus Pluvialis : Mikroalga Anti-Katarak”

“Soalnya saya sempat pesimis dengan presentasi saya. Saya tidak menyangka menjadi perwakilan Bandung di tingkat Nasional. Seperti ada harapan bahwa karya saya akan diwujudnyatakan ke depannya. Orangtua saya yang menderita Katarak menjadi salah satu motivasi saya untuk ikut Writing Competition dengan mengangkat tema ini,” papar Yuni.

Motivasi yang sama juga terjadi pada Hena, ide awal terciptanya tulisan miliknya ini didasari dari kesulitan orangtuanya mengaplikasikan gawai. Dari sanalah mereka berusaha memecahkan masalah yang terjadi di lingkungan sekitar.

Di Final Nasional, dua finalis terbaik yang lain; Arief dan Ade juga berupaya untuk memberikan yang terbaik dengan memasang target maksimal. Mereka optimis membanggakan Bandung dengan membawa pulang titel juara. “Target saya tentu ingin menjadi pemenang di Final Nasional nanti. Saya akan tetap berdiskusi dengan dewan juri untuk memperbaiki presentasi esai sehingga menjadi lebih baik. Selebihnya saya serahkan kepada Allah SWT,” ucapAde. Hal itu diamini oleh Arief, mahasiwa jurusan Teknik Metalurgi ITB.

Di Tahap Final Nasional, 16 (enam belas) finalis dari 4 (empat) regional akan bersaing memperebutkan hadiah untuk masing-masing kategori: Juara 1 Nasional senilai Rp 20.000.000, Juara II Nasional senilai Rp 15.000.000 dan Rp 10.000.000 untuk Juara III Nasional pada awal September 2018.

Sementara itu peserta lainnya saat ditemui di sela-sela berlansungnya kompetisi, ‎Christianto Salimanan ‎dari Teknik Arsitektur ITB, mengungkapkan bahwa Beswan Djarum dengan Djarum Beasiswa Plus merupakan sebuah kesempatan emas yang menurutnya sangat memberikan banyak manfaat, khususnya bagi penerimanya.

“Disini, saya bisa bertemu orang-orang hebat yang memiliki gagasan atau ide-ide cemerlang. Saya sangat merasa beruntung menjadi bagian Djarum Beasiswa Plus, karena selain mendapatkan soft skills juga memperoleh hard skills,” kata peserta yang mengusung tulisan dengan Rumah Batik 3D Printing ini.

Peserta lainya, Anisa Mevie P, menyebutkan bahwa dirinya bersyukur terpilih menjadi peserta Beswan Djarum dan mendapat kesempatan menjalani program Djarum Beasiswa Plus. “Saya bisa menungkapkan ide-ide apapun di sini. Saya bersyukur karena cita-cita saya menciptakan sebuah karya baru bisa terakomodir di program ini, terlepas apakah nanti saya lolos atau tidak,” kata Anisa. (*)

Sumber, Tribun Jabar Rabu, 25 Juli 2018 00:26